Masjid yang Dijinakkan: Ketika Islam Disterilkan dari Kritik dan Politik

MUSTANIR.net – Masjid hari ini makin sering diperlakukan seperti ruang steril. Bersih dari kritik. Sunyi dari keberpihakan. Aman bagi penguasa. Aman bagi oligarki. Aman bagi ketidakadilan.

Asal tidak menyebut kata “politik”, semua dianggap sah sebagai dakwah. Dengan dalih “jamaah masih beragam”, dakwah dipaksa steril dari muatan kritik dan keberpihakan. Inilah potret nyata masjid yang sedang dijinakkan.

Islam Kaaffah

Masalahnya, Islam tidak mengenal pemisahan seperti itu. Islam adalah agama yang kaaffah. Komprehensif. Paripurna. Islam memang mengatur shalat dan puasa. Tapi juga bicara soal keadilan dan kekuasaan. Betul, Islam mengajarkan tauhid. Tapi juga sekaligus menentang tirani.

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

“Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu juga, maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim).

Bahkan secara khusus Rasulullah ﷺ juga bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ

“Jihad yang paling utama adalah menyampaikan kalimat kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Dawud, at-Tirmidzi, Ibnu Majah — hadits hasan)

Rasulullah ﷺ bukan hanya imam shalat. Tapi beliau juga kepala negara, panglima perang, hakim, dan pemimpin politik umat. Al-Qur’an dengan tegas memerintahkan:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَآ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 208)

Lalu sejak kapan politik dikeluarkan dari Islam yang kaaffah itu?

Yang sering disalahpahami atau sengaja dipelintir, adalah makna politik. Politik selalu dicitrakan kotor, pragmatis, penuh intrik. Padahal dalam Islam, politik adalah siyasah: mengatur urusan umat agar keadilan tegak dan kezaliman dicegah.

Ketika khutbah dan ceramah membahas kezaliman penguasa, perampasan tanah rakyat, hukum yang tajam ke bawah dan tumpul ke atas, lalu dicap “politik praktis”, sesungguhnya itu adalah upaya membungkam amar ma’ruf nahi munkar. Masjid dijauhkan dari realitas umat. Jamaah diajak sibuk dengan ibadah ritual, tapi tuli terhadap penderitaan sosial. Islam direduksi menjadi agama privat, bukan sistem hidup.

Inilah proyek lama musuh-musuh Islam. Memisahkan Islam dari kekuasaan, dari hukum, dari politik. Tujuannya, agar ia jinak dan tak lagi mengganggu status quo. Tidak lagi mengancam kekuasaan zalim.

Warisan Penjajah

Sejarah mencatat, kolonialisme Barat tidak pernah melarang shalat. Mereka “hanya” melarang jihad. Mereka tidak memusuhi masjid sebagai bangunan. Tapi penjajah memusuhi masjid sebagai pusat peradaban. Pusat perlawanan.

Hari ini, pola itu diulang dengan cara lebih halus. Bukan dengan larangan terang-terangan, tapi dengan regulasi. Dengan “kesepakatan pengurus”. Juga dengan jargon “menjaga persatuan”. Padahal yang dijaga sering kali adalah kenyamanan penguasa penindas. Bukan kebenaran Islam.

Lalu apa solusinya?

• Pertama, pengurus masjid harus kembali pada fungsi masjid sebagai pusat peradaban umat. Masjid bukan milik pengurus, tapi milik jamaah dan umat. Bukan perpanjangan tangan kekuasaan, tapi benteng moral bagi masyarakat.

• Ke dua, perlu dibedakan secara jujur antara politik praktis partisan dan politik nilai. Mengkritik kezaliman, membela rakyat tertindas, menuntut keadilan itu bukan kampanye partai. Itu inti dakwah Islam.

• Ke tiga, para dai dan khatib tidak boleh menyerah. Jika satu masjid menutup pintu, sejarah membuktikan selalu ada masjid lain, majelis lain, dan mimbar lain. Menyampaikan kebenaran tidak pernah bergantung pada izin pengurus.

• Ke empat, jamaah harus kritis. Jika masjid mulai alergi pada isu umat, jamaah berhak bertanya: masjid ini sedang melayani siapa?

Islam tidak lahir untuk menjadi agama pelengkap penderita. Islam hadir untuk membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia. Jika masjid ikut mempreteli Islam dari politiknya, maka jangan heran bila umat kehilangan arah, dan kezaliman kian merajalela. Masjid yang takut pada kebenaran, pada akhirnya hanya akan melahirkan umat yang takut melawan kezaliman. []

Sumber: Edy Mulyadi, Wartawan Senior/Aktivis Dakwah

About Author

Categories