mediasulsel.com/AFP

Jangan ‘Italiakan’ Indonesia

MUSTANIR.net – Italia merupakan negara dengan angka kematian tertinggi akibat Corona di dunia yakni 69.176 kasus dengan lebih dari 6.000 kematian, mengalahkan China. Sedangkan Eropa merupakan daerah yang paling terpapar virus ini yakni 80.900 kasus dengan 3.281 kematian (data dari Kompas.com, 25/3/20).

Data terakhir dari aplikasi bot WHO di WhatsApp tertanggal 25 Maret 2020 menunjukkan 220.516 orang terinfeksi dan 11.986 kematian. Italia dengan kasus kematian terbesar di Eropa dan dunia meninggalkan beberapa hal yang harus dicermati agar tidak terjadi di Indonesia.

Pertama adalah sikap menganggap enteng penyakit oleh beberapa pejabat dan public figure di Italia. Seperti dilansir oleh CNN Jakarta (24/3/20), Pemimpin Partai Demokrat di Italia, Nicola Zingaretti, mengunggah sebuah foto di akun media sosialnya dengan caption berisi ‘ajakan’ bagi warga Italia untuk tidak berlebiban menanggapi Covid-19 dan tidak mengubah kebiasaan hidup mereka. Sepuluh hari kemudian, dia mengunggah video yang berisikan pernyataan dia didiagnosis virus corona.

Kedua, sikap warga Italia yang menganggap remeh lockdown. Walaupun telah didenda US$ 232 bagi setiap pelanggar, mereka masih bepergian ke luar kota dan daerah. Selain itu tingginya populasi lansia yang merupakan umur rentan terhadap virus juga merupakan faktor tingginya angka kematian akibat Corona. Sekitar 86% pasien yang meninggal adalah lansia.

Diduga juga berkembangnya virus Corona di sana karena pemerintah setempat menjemput warga negaranya dari China pada masa pandemi. Reuters sempat melaporkan ada warga Italia yang telah pulang ke negerinya positif Corona. Semestinya Italia meniru kebijakan Taiwan, Hongkong dan Singapura yang langsung memblokir akses masuk ke dan keluar dari China ketika epidemi Corona muncul pertama kali pada bulan Desember 2019.

Beberapa pelajaran bisa diambil dari kasus Italia, yang memiliki fasilitas kesehatan terbaik di dunia, agar tidak terjadi di Indonesia. Pelajaran itu antara lain adalah tidak menunjukkan sikap enteng terhadap wabah yang menular dan mematikan. Beberapa pejabat di Indonesia tidak dewasa dalam menyikapi hal ini. Pernyataan seperti “virus Corona tidak terdeteksi di Indonesia”, “Corona singkatan dari ‘Komunitas Rondo Mempesona'”, “RI adalah satu-satunya negara besar di Asia yang tak kena Corona”, “Corona masuk Batam dianggap mobil”, dan lain-lain menunjukkan sikap yang tidak mengedukasi masyarakat.

Ditambah dengan ungkapan “memasukkan segala sesuatu yang ada kata ‘China’-nya seperti 2 juta tenaga asing China kok dibesar-besarkan?” dan “impor bawang putih dari China akan tetap dilaksanakan” disadari atau tidak telah mencederai psikologis masyarakat yang ketakutan akan Corona.

Ketika negara lain memblokir China pada saat epidemi itu muncul, Indonesia terlihat masih ‘bersantai-santai’. Kebijakan lockdown pun tidak serempak antara pusat dan daerah. Baru 2 hari Menlu mengumumkan Indonesia lockdown kemudian diralat dengan ungkapan Indonesia tidak akan lockdown oleh pemerintah pusat. Di daerah pun beberapa pemerintahnya telah melaksanakan lockdown seperti Malang dan Papua (meski langkah Papua sempat ditentang).

Jogjakarta merupakan daerah yang terlihat sepi meskipun belum diberlakukan lockdown di sana. Ini menunjukkan kesadaran masyarakat yang sudah tinggi yang patut dicontoh secara nasional. Namun sangat disayangkan di beberapa tempat di Indonesia, masih ada kelompok masyarakat yang berkumpul di stadiun, kafe, bar. Perkumpulan massa seperti ini hanya memperbesar peluang virus Covid-19 cepat menyebar.

Semua elemen bangsa harusnya khawatir dengan pertambahan kasus Covid 19 di Indonesia rata-rata 100 hingga 150 kasus per hari dengan 893 kasus positif, 78 meninggal dan 35 sembuh (visimuslim, 26/03/20).  Jika tidak ditangani dengan baik kasus ini bisa mencapai ribuan dalam sebulan.

Belajar dari penanganan sistem Islam terhadap penyakit menular di zaman Khulafaur Rasyidin dan melihat fakta keberhasilan lockdown warisan Islam ini pada pemerintahan Taiwan, beberapa langkah politis bisa dilakukan di Indonesia.

Kebijakan pertama adalah menutup akses masuk dalam dan ke luar negeri beserta antar daerah wabah di seluruh penjuru Indonesia sehingga pergerakan virus Covid-19 bisa diatasi. Pemerintah harus menyediakan logistik bagi seluruh warga Indonesia agar mereka mampu melakukan lockdown meski berbulan-bulan. Sumber pembiayaan bisa diambil dari privatisasi perusahaan kapitalis di Indonesia.

Mengedukasi rakyat akan pentingnya lockdown dan gaya hidup sehat. Menindak tegas orang yang tidak melakukan lockdown. Insya Allah jika ini semua dilakukan Indonesia akan menjadi contoh terbaik dalam mengatasi virus Corona. []

Sumber: Abu Mush’ab al Fatih Bala, Pemerhati Politik Asal NTT

Categories