Jasa Al-Walid Bin Abdul Malik

Oleh KH. Hafidz Abdurrahman

Al-Walid bin Abdul Malik menjadi Khalifah sejak tahun 86-96 H/705-715 M, menggantikan ayahnya, Abdul Malik bin Marwan al-Hakam. Al-Walid adalah anak tertua Abdul Malik. Sejak kecil al-Walid telah dipersiapkan oleh ayahnya. Abdul Malik mendorong putranya itu belajar bahasa Arab, hingga sejumlah ahli nahwu dikumpulkan untuk mengajari anaknya.

Al-Walid tumbuh menjadi orang yang baik, bertakwa dan banyak membaca Alquran. Dia bisa mengkhatamkan Alquran dalam tiga hari. Ada juga yang mengatakan tujuh hari. Khusus di bulan Ramadhan, dia bisa mengkhatamkan sebanyak tujuh belas kali.

Di masanya, dikenal sebagai era penaklukan, berbagai kemudahan dan kemakmuran, setelah sistem dan keamanan di dalam negeri stabil. Dia berhasil mereformasi urusan administrasi dan pemerintahan, serta merumuskan kaidah yang benar untuk struktur pemerintahannya. Hasilnya bisa dipetik al-Walid, yaitu reformasi domestik, dan ekspansi keluar.

Dengan kondisi yang aman dan stabil itu, maka al-Walid bisa melakukan sejumlah pembangunan penting. Memperbaiki jalan dan infrastruktur yang lain. Pada zamannya, dia berhasil mewujudkan banyak capaian melebihi yang lain. Di Madinah al-Munawwarah, misalnya, dia instruksikan kepada Amir Madinah untuk menggali sumur, dan infrastuktur lain yang dibutuhkan. Termasuk perluasan Masjid Nabawi, serta pembangunan Masjid Jamik al-Amawi di Damaskus. Hal yang sama dilakukan juga kepada wali yang lain.

Al-Walidlah yang menginstruksikan kepada Amir Madinah, Umar bin Abdul Aziz, untuk menghancurkan rumah-rumah istri Nabi, lalu dimasukkan di dalam masjid. Rumah-rumah yang ada di sekitarnya dibeli, sehingga menambah luasnya area masjid. Setelah perluasan ini, Masjid Nabawi bertambah menjadi 200 Dzira’. Mereka yang tidak berkenan, maka rumahnya akan diberi ganti rugi dengan adil. Dia kirim para tenaga ahli dari Syam untuk membangun rumah-rumah penduduk.

Umar bin Abdul Aziz pun mengikuti instruksi sang Khalifah, sehingga seluruh kamar istri-istri Nabi tersebut masuk di area Masjid Nabawi. Tidak ada yang tersisa, kecuali rumah Aisyah yang di dalamnya terdapat tiga makam. Di kamar Aisyah ini terdapat makam Nabi SAW, Abu Bakar as-Shiddiq dan Umar bin al-Khatthab. Sebenarnya di sana masih ada satu lagi ruang kosong, yang konon dipersiapkan untuk Nabi Isa, ketika kelak turun ke bumi.

Al-Walid juga membangun Masjid Jamik al-Amawi di Damaskus dari tahun 88-96 H/707-715 M. Pembangunan masjid ini menelan biaya besar, hingga dana Kharaj selama 7 tahun telah dihabiskan untuk pembangunan ini. Tukang dan ahlinya didatangkan dari India, Persia, Konstantinopel, Mesir, dan Maroko. Dengan mempekerjakan hingga 10.000 pekerja untuk merampungkan pembangunannya. Masjid Jamik Amawi ini pun menjadi mercusuar seni dan arsitektur Arab.

Al-Walid juga membangun Kota Damaskus, menyalurkan air hingga ke rumah-rumah, dari rumah besar, yang disalurkan dari sungai Baradi. Begitulah jasa al-Walid bin Abdul Malik bin Marwan al-Hakam

About Author

Categories