Jasa Ulama dalam Pembebasan Mesir dari Syīʿah‎ Fâthimiyah

MUSTANIR.net – Keberhasilan Shalâhuddîn al-Ayyûbî dalam membebaskan negeri Mesir dari hegemoni dinasti Syīʿah‎ Fâthimiyah (567 H), selain meneruskan ide cemerlang dari pemimpin-pemimpin muslim kawakan sebelumnya (seperti: Nuruddin Zanki dan lainnya), juga merupakan jasa luhur  ulama.

Mereka berjasa besar sebagai pelapang jalan terjal menuju pembebasan bumi Kinanah. Tanpa bermaksud membatasi, ulama sekaliber Abu Hamid al-Ghazali, Abdul Qadir Jailani, dan al-Qadhi al-Fadhil rahimahumullah adalah di antara ulama-ulama brilian yang memuluskan jalan pembebasan.

Imam Ghazali (450-505 H)

Ulama yang dikenal dengan julukan “hujjatul Islam” ini bukan saja berjasa besar dalam mendidik generasi-generasi unggul yang nantinya menorehkan prestasi besar berupa pembebasan Baitul Maqdis di masa Shalâhuddîn, tapi juga sebagai figur penting yang berjuang menolak ideologi Syīʿah‎ yang gaungnya sampai masa Shalâhuddîn.

Dalam buku ‘Shalâhuddîn al-Ayyûbî wa Juhûduhu fî al-Qadhâ ‘alâ al-Daulah al-Fâthimiyah wa Taḥrīr al-Bait al-Maqdis’ (2008: 162-163) Dr. Muhammad Shallabi menulis catatan menarik mengenai perjuangan Imam Ghazali dalam menumpas Syīʿah‎ Bathiniyah. Sosok yang dikenal dengan magnum opus ‘Ihyâ ‘Ulûmiddîn’ ini termasuk deretan ulama besar di sekolah-sekolah Nidhzamiyah yang berusaha ekstra keras dalam memancangkan ideologi ahlus Sunnah dan membendung ideologi Syīʿah‎.

Banyak karya-karya lahir —untuk menolak ideologi Syīʿah‎— dari ulama-ulama madrasah Nidzamiyah ini. Salah satunya adalah karya Imam Ghazali yang berjudul ‘Fadhâ`ih al-Bâthiniyah’ (487 H). Di dalamnya, dengan sangat berani penulis ‘al-Munqidz min al-Dhalâl’ ini membabat habis ideologi Syīʿah‎ yang menyimpang.

Padahal, saat itu propaganda Syīʿah‎ sedang gencar-gencarnya, dan mereka tidak segan-segan membunuh —dengan berbagai cara— bagi yang menentang pemahaman mereka, sebagaimana Nidzam al-Mulk yang menjadi korban.

Menariknya, meski perjuangan Ghazali dalam melawan Syīʿah‎ bisa mengancam nyawanya, namun beliau secara kontinu berjuang melawan mereka —melalui jalur pemikiran— serta membuka kedok Syīʿah‎ yang sesungguhnya. Sikap tegas Ghazali terhadap Syi’ah ini penting dicatat bagi tokoh atau ulama yang bersikap lembek dan kompromistis terhadap Syīʿah‎, dengan mengupayakan perdamaian semu antara ahlus Sunnah dan Syīʿah‎.

Abdul Qadir Jailani (470-561 H)

Tak ayal lagi, salah satu bentuk nyata sumbangsih ulama bermadzhab Hanbali ini, adalah menanggulangi secara aktif ideologi Syīʿah‎. Dalam bukunya yang berjudul ‘al-Ghunyah li Thâlibi Thârîq al-Haqqi Azza wa Jalla’ (1417: 179-184), beliau membahas tentang bagian-bagian Syīʿah‎ serta beberapa penyimpangannya.

Menariknya, Syekh Abdul Qadir al-Jailâni dalam membantah ajaran-ajaran sesat Syīʿah‎, atau aliran menyimpang lainnya, tidak mengedepankan emosi, tapi argumentasi. Dr. Mâjid Ersan al-Kailâni dalam buku ‘Hâkadza Dhahara Jîlu Shalâhuddîn wa Hâkadza Âdat al-Quds’ (1995: 236-238) menyebutkan bahwa syekh pendiri Madrasah Qadiriyah ini melawan aliran-aliran menyimpang pada zamannya melalui diskusi atau dialog.

Diskusi yang dilakukan beliau —sebagaimana catatan Muhammad al-Shallâbi dalam ‘Ashru al-Daulah al-Zankiyah’— memiliki dua keistimewaan:

Pertama, menggugurkan argumentasi lawan-lawan dialognya bukan dengan ideologi Sunni yang diyakininya, tapi justru menggunakan ideologi menyimpang mereka.

Artinya, beliau menjatuhkan mereka, dengan senjata yang mereka sendiri. Ke dua, luasnya pengetahuannya mengenai aliran-aliran menyimpang. Tak mengherankan jika beliau sangat berani berdiskusi dengan aliran-aliran menyimpang (2017: 406-407)

Jasa besar yang dimainkan oleh Syekh Abdul Qadir (sebagaimana yang ditandaskan oleh Majid dan Shallabi) di antaranya usaha efektifnya dalam melawan pemikiran Syīʿah‎ konservatif Bahtiniyah dan lainnya; di samping itu mempunyai andil besar —meski tidak secara langsung— dalam meruntuhkan Daulah Fâthimiyah Ubaidiyah di Mesir dan yang tak kalah penting adalah sebagai pelapang jalan bagi masuknya Shalâhuddîn (1138-1193 M) dalam ekspedisi pembebasan Mesir dari hegemoni Daulah Syīʿah‎ Fâthimiyah.

al-Qadhi al-Fadhil (526-596 H)

Beliau adalah “tangan kanan” Shalâhuddîn al-Ayyûbî. Seorang ulama ahli sastra yang berjasa besar dalam membantu menumpas Syīʿah‎ Fathimiyah di Mesir (Shallabi, 2008: 295). Selain sebagai ulama yang disegani, beliau juga sebagai qadhi (hakim) cemerlang, administrator ulung, strategis andal, penghidup ajaran ahlus sunnah di Mesir, serta sosok brilian di balik pembebasan bumi Kinanah dari cengkeraman Syīʿah‎.

Tidak berlebihan jika kepada figur alim dan pemberani ini, Shalâhuddîn pernah membuat statement, “Kalian jangan menyangka bahwa aku bisa menguasai negeri-negeri dengan pedang-pedang kalian, tapi dengan pena al-Fadhil.” (Abdus Salam, 2002: 246).

Kata-kata Shalâhuddîn ini bukan sekadar pujian biasa, karena pada faktanya beliau banyak terbantu dalam misi pembebasan-pembebasan yang dicanangkannya.

Dari beberapa contoh tersebut, nyatalah bahwa jasa ulama terhadap pembebasan Mesir dari Daulah Syi’ah Fâthimiyah sangat besar. Karenanya, upaya untuk menanggulangi merebaknya ideologi Syīʿah‎, bukanlah hal sederhana. Perjuangan ini membutuhkan kolektivitas, sinergi, totalitas umat, dan dukungan intensif serta proaktif dari ulama.

Mengapa Syi’ah Fathimiyah Bisa Berkuasa di Bumi Kinanah?

Sebelum dinasti Syīʿah‎ Fâthimiyah berkuasa (297-567 H), Mesir berada dalam kekuasaan Ikhsyidiyah, 324-358 Hijriah (Didin, 2009: 146). Pertanyaannya, mengapa negara di bumi Kinanah yang berideologi Sunni ini bisa ditaklukkan dengan mudah oleh dinasti Syīʿah‎ yang awalnya berkembang di Maroko ini? Untuk mengetahuinya, perlu dipaparkan secara ringkas kondisi Mesir secara khusus, dan dunia Islam secara umum.

Saat penguasa terakhir Ikhsidiyah di Mesir —yaitu Kafur— wafat (357 H), kondisi Mesir sedemikian goncang dan ekonomi merosot. Lebih dari itu, wabah penyakit dan paceklik akibat surutnya sungai Nil merebak sehingga menimbulkan dampak serius di tubuh pemerintahan. Salah satu akibat paling nyata adalah ketidakmampuan pemerintah menggaji tentara. Situasi pelik ini memaksa pemangku kebijakan Mesir mengundang al-Mu’iz Lidinillah [penguasa Syi’ah Ubaidinyah Maroko] untuk bertandang ke Mesir (Tim Riset Studi Sejarah Mesir, 2013: 416)

Jadi, sebelum Syīʿah‎ Fâthimiyah berkuasa di Mesir, kondisi sosial dan negara Ikhsidiyah di bumi Kinanah mengalami krisis. Mereka sudah tidak memiliki pemimpin brilian dan kuat, ditambah krisis ekonomi yang sudah tidak bisa ditahan. Di samping itu, propaganda Syīʿah‎ gencar dilancarkan. Padahal, sebelum krisis mendera, beberapa kali upaya penaklukan Mesir oleh Ubaidillah al-Mahdi sejak 301, 321, 333 Hijriah mampu dipatahkan.

Selain mendapat serangan dari Syīʿah‎ Fâthimiyah dari arah timur dalam rentang 355-357 H, pemerintahan Ikhsidiyah (yang dipimpin Kafur) juga mendapat serangan Syīʿah‎ Qaramthah dari arah timur, sekaligus Raja Naubah dari arah selatan. Serangan-serangan ini juga turut melemahkan Daulah Iskhsidiyah (Ensiklopedi Sejarah Islam, 2013: 355).

Di luar itu, kondisi dunia Islam kala itu —khususnya yang berbasis ahlus Sunnah wal jama’ah— kondisinya tidak ideal. Dinasti Abbasiyah misalnya, menurut catatan Shallabi dalam buku ‘Ashru al-Daulataini al-Umawiyah wa al-‘Abbasiyah’ (1998: 97-103), daulah Islamiyah besar yang berideologi ahli Sunnah ini pasca era keemasannya (terutama sejak masa ke tiga) kondisinya begitu memprihatinkan.

Di antaranya: penguasaan keluarga Syīʿah‎ Buwaihi dalam tubuh pemerintahan, kekuasaan Syīʿah‎ di wilayah-wilayah Abbasiyah semakin masif (seperti: Buwaihi, Ubaidiyah, Qaramithah, dan al-Hamdaniyun), banyak wilayah yang memisahkan diri darinya. Ikhsidiyah pun adalah salah satu negara yang memerdekakan diri dari dinasti Abbasiyah.

Ketika dinasti Abbasiyah masih berada pada masa keemasan, orang-orang Syīʿah‎ tidak bisa melakukan apa-apa. Namun ketika mulai lemah, bani Buwaih (penganut ideologi Syīʿah‎) melakukan infiltrasi pada Daulah Abbasiyah (334-447 H) dan disusul dengan infiltrasi Syīʿah‎ yang lain. Penduduk Baghdad yang sebelumnya bermadzhab ahli Sunnah, mulai di-Syīʿah‎-kan. Kelemahan-kelemahan dinasti Abbasiyah inilah dalam dunia Islam, turut berpengaruh besar pada geliat perkembangan Syīʿah‎ di berbagai wilayah Sunni.

Dari kondisi internal dan eksternal ini, paling tidak ada beberapa poin yang bisa menjelaskan keberhasilan Syīʿah‎ Fâthimiyah (Ubaidiyah) menguasai Mesir:

Pertama, lemahnya kepemimpinan. Saat Kafur meninggal, anaknya (Ahmad) masih kecil sehingga tidak layak dijadikan pemimpin. Ke dua, kondisi krisis yang tak bisa dipecahkan solusinya sehingga memaksa mereka kerja sama dengan Syi’ah. Ke tiga, infiltrasi dan propaganda Syīʿah‎ yang dilancarkan begitu masif. Ke empat, perpecahan politik umat Islam yang berideologi ahlus Sunnah. Ke lima, serangan militer dari Syīʿah‎ maupun selainnya yang begitu gencar. Inilah beberapa poin yang paling tidak bisa menggambarkan sebab-sebab berkuasanya dinasti Syīʿah‎ Fâthimiyah di Mesir.

Sebagai penutup, catatan Prof. Dr. Didin Saefuddin Bukhari dalam buku ‘Sejarah Politik Islam’ (2009: 154-155) ini menarik untuk diketengahkan terkait dinasti Fâthimiyah di Mesir. Dinasti ini awal mulanya tampak arif, toleran, dan membebaskan penduduk menganut kepercayaan. Namun, seiring berjalannya waktu, watak aslinya mulai terlihat.

Propaganda Syīʿah‎ mulai ditonjolkan pada masa al-Aziz (372 H). Ia pernah membatalkan shalat tarawih di seluruh masjid. Sedangkan pada masa al-Hakim, ia pernah menyuruh algojonya untuk mengeksekusi siapa saja yang tidak mengakui keistimewaan Alī raḍiyallāhu ‘anhu. Yang lebih memprihatinkan, al-Hakim (salah satu penguasa Daulah Syīʿah‎ Fâthimiyah) pernah mengaku dirinya sebagai Tuhan.

Beberapa sebab dan pengalaman pahit sejarah ini seyogianya menjadi pemantik kesadaran umat, agar peristiwa itu tidak kembali terulang. Meminjam istilah al-Qur`an:

{فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ} [الحشر: 2]

“Maka ambillah (kejadian itu) untuk menjadi pelajaran, wahai orang-orang yang mempunyai pandangan.” (QS al-Hasyr [59]: 2) []

Sumber: Mahmud Budi Setiawan

About Author

2 thoughts on “Jasa Ulama dalam Pembebasan Mesir dari Syīʿah‎ Fâthimiyah

  1. Great – I should certainly pronounce, impressed with your site I had no trouble navigating through all the tabs and related info ended up being truly simple to do to access I recently found what I hoped for before you know it in the least Reasonably unusual Is likely to appreciate it for those who add forums or anything, web site theme a tones way for your customer to communicate Excellent task

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories