Kampung Losari Potret “Toleransi” Kebablasan

Silaturahmi Natal warga Dusun Losari RT 04/RW 04, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Senin (26/12/2017) siang. foto: kompas


MUSTANIR.COM, AMBARAWA — Saat toleransi menjadi bahan perdebatan antarkelompok di Indonesia, warga Dusun Losari RT 04/RW 04, Kelurahan Lodoyong, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang justru menunjukkan wajah toleransi.

Kampung Losari yang terdiri dari 70 kepala keluarga, memiliki komposisi pemeluk agama Islam dan Kristiani yang hampir sama. Mereka punya tradisi unik setiap hari raya Idul Fitri maupun Natal. Seperti saat Natal, mereka menggelar silaturahmi Natal.

Dalam silaturahmi Natal, warga Kristiani berdiri berjejer di sepanjang jalan kampung. Sementara warga muslim berjalan menyalami dan mengucapkan selamat Natal kepada mereka.

“Tradisi ini kami mulai sejak tahun 2.000an. Kesepakatan warga, saat Lebaran dilangsungkan halal bihalal bersama pada hari pertama. Kemudian saat Natal warga mengucapkan Natal bagi warga yang merayakannya,” kata Ketua RT 04 RW 04 Losari, Sumarno, di sela Silaturahmi Natal, Senin (25/12/2017).

Sebelum acara berjabat tangan, ketua RT memberikan sambutan dalam seremonial sederhana ini. Mewakili pengurus RT dan warga, Sumarno menyampaikan ucapan sukacita atas perayaan Natal ini dan tak ketinggalan mengucapkan selamat Natal bagi warga Kristiani.

Menurut Sumarno, kegiatan Silaturahmi Natal ini bukanlah ritual peribadatan sehingga tidak ada atribut ibadah. Warga hanya saling mengucapkan selamat Natal.

“Inilah kampung toleransi,” tandasnya.

Perbedaan keyakinan, sambung dia, tidak menjadi penghalang bagi warganya untuk hidup berdampingan. Semua perbedaan dapat dikelola dengan baik dan warga saling menghormati perbedaan tersebut.

Hal inilah yang menjadi landasan bagi warga Kampung Losari dapat menyelenggarakan acara Silaturahmi Natal ini.

“Saya senang dan bangga mendapatkan ucapan selamat dari para tetangga muslim kami. Suasana kebersamaan seperti ini selalu kami rindukan,” ucap Antonius Suharjono (49), warga pemeluk Katolik di Kampung Losari.

Ia mengungkapkan, saat umat muslim merayakan Idul Fitri, ia dan warga non muslim menjadi panitia acara halal bihalal. Demikian halnya saat Natal. Saat warga Kristiani pergi beribadah ke gereja, para warga muslim di kampung ini bahu membahu menjadi panitia Silaturahmi Natal.

“Semoga warga lain bisa mencontoh yang dilakukan di sini,” tuntasnya.

Kegiatan Silaturahmi Natal ini selesai menjelang adzan Dzuhur, diakhiri dengan acara ramah tamah dengan menyantap makanan yang dibawa dari rumah masing-masing.

Natal Bersama

Sementara itu, perayaan Natal di Alun-Alun Bung Karno, Senin (25/12/2017) dinihari diikuti umat kristiani dari 40 gereja se-Kota Ungaran dan sekitarnya. Misa Natal dimulai tepat setelah umat muslim menjalankan ibadah Shalat Subuh, sekitar pukul 04.30 WIB.

Pendeta Sonang Saragih dari Gereja Bethel Indonesia (GBI) Langensari menjadi pengkhotbah dengan tema “Natal, Terang Dunia”.

Dalam khotbahnya ia mengatakan, sebagai orang Kristen harus berbuat baik dan berperilaku baik sehingga membawa dampak yang baik bagi lingkungannya.

“Jadi anak-anak, Tuhan harus menjadi teladan bagi orang-orang di sekitarnya. Itu yang menjadi terang di dunia,” kata Sonang Saragih.

Ia juga menegaskan bahwa perilaku Kristiani adalah berkata jujur dan tidak melakukan korupsi. Sebab berbohong dan korupsi tidak pernah diajarkan oleh Tuhan.

“Kebenaran inilah yang harus ditegakkan menjadi pelaku firman Tuhan yang kita praktikkan dalam hidup sehari-hari, dalam pekerjaan, keluarga,” tandasnya.

Kegiatan misa Natal ini berjalan dengan khidmat dengan penjagaan dan pengamanan dari aparat kepolisian, TNI, Linmas, dan Banser. (kompas.com/26/12/17)

Komentar:
Ini bukan “toleransi” tapi “telorasin”.

Categories