Kaum Misionaris Menebarkan Benih-benih Nasionalisme

MUSTANIR.net – Selama pertengahan abad ke-19, kaum misionaris mengambil kebijakan yang belum pernah mereka terapkan sebelumnya. Kaum misionaris tidak hanya memfokuskan kegiatan pada sekolah-sekolah, pusat penerbitan, dan klinik pengobatan, tetapi bergerak lebih jauh untuk mendirikan berbagai perkumpulan (asosiasi).

Pada tahun 1824, sebuah komite dibentuk untuk mendirikan asosiasi keilmuan di bawah perlindungan misionaris Amerika. Komite ini bekerja selama lima tahun sampai terbentuknya asosiasi yang mereka sebut sebagai Association of Arts and Science (Perkumpulan Seni dan Ilmu Pengetahuan).

Anggotanya termasuk Nasif al-Yaziji dan Butrus al-Bustani, [1] dua orang Kristen Lebanon yang dimasukkan ke dalam kepengurusan, sebab mereka adalah orang Arab. Selain itu ada pula Eli Smith dan Cornelius van Dick orang Amerika, dan Kolonel Churchill seorang Inggris.

Tujuan asosiasi ini awalnya tidak begitu jelas. Selain bertujuan untuk mengajarkan pengetahuan kepada orang-orang dewasa, juga bertujuan untuk mengajarkan anak-anak di sekolah. Asosiasi ini mendorong, baik orang dewasa maupun anak-anak, untuk senang mempelajari budaya Barat, kemudian membentuk dan mengarahkan mereka sesuai dengan rencana misionaris.

Sekalipun mereka telah melakukan usaha yang sangat sungguh-sungguh selama dua tahun di Syam, tetapi hanya lima belas orang yang dapat mereka rekrut sebagai anggota aktif. Mereka semua adalah orang-orang Kristen, sebagian besar dari Beirut. Tak ada seorang pun dari Druze ataupun muslim.

Usaha besar-besaran telah dilakukan untuk meluaskan dan mengefektifkan kerja mereka, namun sia-sia belaka. Asosiasi ini bubar dalam waktu lima tahun tanpa memperoleh hasil yang mencolok kecuali hanya memenuhi keinginan para misionaris untuk membentuk asosiasi yang lebih banyak lagi.

Karena itu, asosiasi yang lain didirikan pada tahun 1880 dan diberi nama Oriental Association (Perkumpulan Ketimuran). Asosiasi ini didirikan oleh orang-orang di bawah perlindungan Jesuit Prancis yaitu Bapa Henri Debrenier, dan semua anggotanya adalah orang Kristen.

Asosiasi ini mengikuti jejak Association of Arts and Science yang hanya bertahan dalam waktu yang tidak lama. Setelah itu, banyak asosiasi lain bermunculan di banyak tempat, tetapi kemudian gagal dan berjatuhan seperti pendahulunya.

Sebuah asosiasi baru dibentuk pada tahun 1857 dengan memilih metode yang sedikit berbeda. Tak seperti pendahulunya, semua pendiri asosiasi ini adalah orang Arab, dan tak seorang asing pun yang dibolehkan bergabung di dalamnya.

Ternyata, asosiasi ini cukup berhasil dan mampu merekrut orang Islam dan Druze untuk benar-benar bergabung. Asosiasi pun menerima mereka, sebab mereka adalah orang-orang Arab. Nama perkumpulan ini adalah Syrian Scientific Association (Perkumpulan Ilmiah Suriah).

Asosiasi ini berhasil berkat kegiatan-kegiatannya dan afiliasinya terhadap orang Arab, juga ketiadaan orang asing sebagai anggotanya. Para anggotanya mampu meyakinkan orang lain untuk bergabung dan mereka juga berhasil mengumpulkan dukungan untuk asosiasi, sehingga anggotanya mencapai 150 orang.

Di antara staf administrasinya adalah orang-orang Arab yang terpandang, seperti Muhammad Arsalan dari golongan Druze dan Husain Bayham dari golongan muslim. Orang-orang Kristen Arab pun juga bergabung, di antara yang paling menonjol adalah Ibrahim al-Yaziji dan Butrus al-Bustani.

Asosiasi ini baru berusia lebih lama daripada yang lainnya. Program-programnya dirancang untuk mengakomodasi semua golongan dan untuk menjadi pencetus nasionalisme Arab. Akan tetapi, tujuan tersembunyinya adalah kolonialisme dan misionaris di bawah selubung ilmu pengetahuan (sains). Hal ini tampak dari upaya penyebaran budaya dan model pendidikan Barat.

Pada tahun 1875, sebuah asosiasi yang memang betul-betul memiliki konsepsi politik didirikan di Beirut. Kelompok bernama Secret Association (perkumpulan rahasia) ini mulai menggalakkan konsep nasionalisme Arab.

Pendirinya adalah lima pemuda yang beberapa di antaranya merupakan didikan Perguruan Tinggi Protestan di Beirut. Kelimanya adalah orang Kristen yang tentunya sangat dipengaruhi oleh misionaris. Setelah pembentukan asosiasi ini, maka direkrutlah anggota-anggotanya.

Asosiasi ini, seperti tampak dalam berbagai deklarasi dan selebaran-selebarannya, menyerukan nasionalisme Arab dan kebebasan politik bagi bangsa Arab, khususnya di Suriah dan Lebanon. Akan tetapi, aktivitas kerjanya dengan program sebenarnya berkaitan dengan tujuan yang berbeda sama sekali.

Sasaran mereka yaitu menanamkan keinginan yang salah dan harapan yang keliru pada setiap hati orang-orang di sana. Mereka menyerukan nasionalisme dan Arabisme kepada umat, serta menghasut rasa permusuhan terhadap Khilafah Utsmaniyah dengan menyebutnya “Negara Turki”.

Mereka bekerja untuk memisahkan agama dari negara dan menjadikan nasionalisme Arab sebagai dasar dan landasan hidup. Meskipun asosiasi ini faktanya selalu mendengungkan Arabisme, dalam terbitan-terbitannya mereka, Turki telah merebut Khilafah Islamiah dari tangan orang Arab dan melanggar hukum syariat serta menyalahgunakan agama.

Hal ini menunjukkan dengan jelas wajah asli asosiasi ini dan tujuan pendiriannya yaitu untuk memancing keresahan dan kerusuhan terhadap Negara Islam, untuk menanamkan kecurigaan dan sikap skeptis terhadap agama Islam, serta untuk mendirikan gerakan-gerakan politik yang berdasarkan pada prinsip prinsip non-Islam.

Hal yang pasti mengenai gerakan-gerakan ini adalah bahwa mereka semua diprakarsai oleh kekuatan-kekuatan Barat. Baratlah yang mendirikan gerakan-gerakan itu dan Barat pula yang mengawasi dan mengontrol mereka.

Mereka juga menulis laporan tentang kegiatan gerakan-gerakan itu. Misalnya Konsulat Inggris di Beirut mengirimkan telegram pada pemerintahannya pada tanggal 28 Juli 1880 sebagai berikut:

“Selebaran-selebaran revolusi telah beredar. Mithat dicurigai sebagai sumbernya, namun situasi tetap tenang. Informasi lengkap lewat surat.” [2]

Telegram ini dikirimkan berkenaan dengan selebaran-selebaran yang tersebar di jalanan Beirut dan ditempelkan di dinding-dinding di sana. Telegram itu lalu disusul oleh beberapa surat yang dikirim oleh Konsulat Inggris di Beirut dan Damaskus.

Surat itu disertai dengan salinan selebaran yang disebar oleh asosiasi, sehingga sudah sepatutnya hal ini dianggap sebagai laporan atas aktivitas pergerakan di Perguruan Tinggi Protestan, yang memulai aktivitas mereka di Syam.

Kegiatan asosiasi ini lebih tampak di Syam sekalipun mereka juga melakukannya di daerah Arab yang lain, seperti yang ditunjukkan oleh apa yang ditulis Komisioner Inggris di Jeddah kepada pemerintahannya pada tahun 1882.

Dalam laporannya tentang gerakan Arab, dia menyatakan,

“Berita telah sampai kepada saya bahwa bahkan di Makkah sekalipun beberapa intelektual di sana telah mulai membicarakan masalah kemerdekaan.

Berdasarkan apa yang saya dengar, sepertinya telah tersusun rencana yang dilontarkan untuk menyatukan wilayah Nejd dengan wilayah di antara dua sungai, yaitu di selatan Irak, dengan menunjuk Manshur Pasha sebagai penguasa wilayah tersebut, juga rencana untuk menyatukan wilayah ‘Asir dengan nyaman dengan menunjuk Ali Bin ‘Abid untuk memerintah di sana.” [3]

Inggris bukanlah satu-satunya pihak yang tertarik, Prancis juga menunjukkan ketertarikan yang besar untuk ikut mencampuri urusan ini. Pada tahun 1882 salah satu dari pejabat Prancis di Beirut menunjukkan perhatian Prancis dengan mengatakan,

“Semangat kemerdekaan telah merata dan saya melihat selama lawatan saya di Beirut, dedikasi para pemuda muslim untuk mendirikan sekolah dan klinik pengobatan dan dalam membangkitkan negerinya.

Hal yang layak disampaikan di sini adalah bahwa gerakan ini bebas dari pengaruh sektarian. Asosiasi menyambut keanggotaan orang-orang Kristen serta mengandalkan mereka untuk ikut serta mereka dalam kegiatan-kegiatan kaum nasionalis.”

Utusan Prancis di Baghdad pun menulis sebagai berikut,

“Ke mana pun saya pergi, saya dihadapkan pada perasaan yang sama, dalam takaran yang sama, yaitu kebencian terhadap Turki. Ada pun konsep untuk memulai tindakan kolektif untuk melenyapkan situasi yang sangat dibenci ini, sesungguhnya memang sedang dijalankan.

Di cakrawala, angin pergerakan Arab sedang mengumpulkan kekuatannya dan akan segera lahir. Orang-orang yang telah tertekan sedemikian lama ini akan segera mengumumkan status mereka di dalam dunia Islam, dan mengarahkan ke mana nasib dunia ini berjalan.” [5]

Kerja kaum misionaris yang mengatasnamakan agama dan sains tidak hanya menjadi perhatian Amerika, Prancis, dan Inggris, tetapi meluas ke seluruh negara non-Islam, termasuk Tsar-Rusia yang mengirimkan ekspedisi misionaris dan Prussia (Jerman) yang mengirim sekelompok sister (Biarawati Carodt) untuk ikut serta bekerja sama dengan kelompok misionaris lain.

Sekalipun pendapat masing-masing kelompok itu berbeda terkait dengan program politik mereka, sesuai dengan pertimbangan kepentingan negaranya masing-masing, tetapi tujuan mereka tetap sama yaitu kristenisasi dan penyebarluasan budaya Barat di wilayah timur.

Ditambah lagi, dengan upaya meniupkan keraguan dan kecurigaan kaum muslimin terhadap din mereka, mendorong kaum muslimin membenci agama mereka sendiri dan memandang sejarahnya dengan penuh rasa jijik, sementara di sisi lain menggiring mereka untuk memuji dan mengagungkan Barat beserta gaya hidupnya.

Kaum misionaris menjalankan misi mereka berdasarkan rasa kebencian mereka yang sangat mendalam terhadap umat Islam dan kaum muslimin. Mereka merendahkan budaya Islam dan gaya hidupnya. Mereka menganggap kaum muslimin sebagai bangsa yang terbelakang, yang sampai saat ini pun masih menjadi opini yang bercokol dalam benak hampir semua orang Eropa.

Hasil yang mereka capai di masa lampau itu tecermin pada hari ini dalam kadar ketakpercayaan umat kepada agamanya sendiri, serta kolonialisme di negeri-negeri kaum muslimin. []

Sumber: Shabir Ahmed & Abid Karim

Catatan kaki:

[1] Butrus al-Bustani adalah seorang Maronit. Dia mendirikan sekolah yang terkemuka di Suriah bernama al-Madrasah al-Wathaniyah (Sekolah Kebangsaan). Sekolah ini didirikan untuk membangkitkan nasionalisme Arab. Tujuan ini tercermin dari sebuah dokumen yang disebut Hubb al-Wathan (Cinta Tanah Air).

Dukungan finansial untuk al-Bustani berasal dari Ismail, pemimpin nasionalis yang menguasai Mesir pada saat itu, yang menginginkan agar budaya Mesir mengikuti Barat. Al-Bustani terus membuat jurnal tentang politik, pengetahuan, dan sastra yang terbit dwi mingguan bernama al-Jinan (taman-taman), yang mana ia mengadopsi slogan “Hubb al-wathan min al-iman” (Cinta tanah air patriotisme adalah sebagian dari iman).

[2] Sumber: The Islamic State; Taqiuddin an-Nabhani, hal 185, Al-Khilafah Publication.

[3] Ibid, hal 186.

[4] Ibid, hal 186.

[5] Ibid, hal 186.

About Author

Categories