Kemunculan Arus Reformasi dan Tajdid di Kalangan Umat Islam

MUSTANIR.net – Prancis—di bawah pimpinan Napoleon—menyerbu Mesir pada 1798, lalu ke Palestina, kemudian menarik diri dari kedua negeri tersebut pada 1801. Setelah itu, Muhammad Ali Pasha mengambil alih kekuasaan Mesir, salah satu tindakannya adalah mengirim elite pemuda Mesir untuk belajar dari ilmu-ilmu Eropa.

Beberapa di antaranya kembali dengan ide-ide baru Eropa tentang demokrasi, liberalisme, dan kapitalisme. Setelah mereka terpesona oleh kemajuan industri dan peradaban Eropa, mereka menyebarkan ide-ide baru ini di Mesir dan sekitarnya. Di antara simbol-simbol ide ini adalah Rifa’ah al-Tahtawi, Abdul Rahman al-Kawakibi, Khairuddin al-Tunisi, dan lainnya.

Seiring kembalinya, ada aliran baru yang menyeru untuk membebek peradaban dan sistem Eropa, muncul aliran yang menyerukan rekonsiliasi antara Islam dan peradaban Barat yang merupakan tren aliran reformasi. Aliran ini dipimpin oleh Jamaluddin al-Afghani yang mulai menyiarkan ide-ide tajdid dan reformasi di kalangan umat Islam. Al-Afghani dipengaruhi oleh sekelompok ulama al-Azhar, terutama Muhammad Abduh yang menjadi syekh al-Azhar dan salah satu muridnya, Muhammad Rasyid Ridha, penulis majalah al-Manar.

Kemudian, aliran reformasi ini berlanjut—yang berusaha merekonsiliasi antara dua peradaban dan ideologi, yakni sekuler dan Islam—dan tersebar ke berbagai bentuk gerakan, jema’ah, dan individu di negeri-negeri.

Seruan paling menonjol dari aliran reformasi di kalangan umat Islam adalah ide tajdid dan reformasi agama. Dari ide ini, jika kita mendalaminya dengan baik, akan kita temukan kemiripan dengan apa yang dilakukan oleh umat Kristen Eropa tatkala mereka menyerukan ide reformasi agama, dan yang paling menonjol adalah penerimaan mereka terhadap sekularisme.

Aliran reformasi ini dipersiapkan untuk mengambil ide Barat, yakni demokrasi dalam pemerintahan dan sistem ekonomi kapitalisme, serta membungkusnya “secara syar’i” dengan label ide tajdid dan konsiliasi. Akan tetapi, aliran reformasi ini tidak secara eksplisit setuju dengan sekularisme sebagaimana terjadi pada Protestan di Eropa, melainkan ingin mengambil manfaat dari Barat dalam sistem ekonomi dan pemerintahannya, tetapi sembari menjaga akidah, ibadah, dan akhlak Islam.

Kaum reformis mencoba memperbarui agama dari sisi pengkajian terhadap hukum Islam mengenai hal-hal yang memungkinkan untuk mengadopsi sistem dan ide-ide Barat. Mereka pun mendapati hadis-hadis Rasulullah ﷺ yang menyatakan tajdid. Hal tersebut—serta yang semisalnya—menjadi pintu masuk bagi mereka untuk mengubah hal-hal di dalam agama, agar sesuai dengan apa yang dimiliki Barat dengan kedok reformasi dan tajdid.

Kemudian, mereka bersandar pada prinsip usul fikih dan ternyata mendapatinya tertutup bagi mereka, serta menghalangi mereka dari penerimaan terhadap sistem Barat. Namun, mereka terus mencari dan menggali hingga mereka menemukan celah yang dapat mereka tembus.

Celah tersebut tidak lain adalah ide untuk menakwilkan maqasid syariah dan mashalih al-mursalah dalam bentuk yang bisa menerima “pemanfaatan” terhadap hal-hal yang dimiliki Barat, yaitu terkait sistem ekonomi dan pemerintahannya. Hal ini mengingat peradaban Barat menjadi “ukuran” kemajuan dan perkembangan sebuah peradaban. Oleh karenanya, menurut mereka hukum-hukum Islam haruslah sesuai dengan Barat.

Inilah catatan sejarah singkat munculnya ide tajdid agama, yakni suatu upaya yang sampai pada batas tertentu mirip dengan yang terjadi pada umat Kristen Barat, agar kita bisa mengambil pelajaran dari pengalamannya.

Namun sungguh, hal ini telah masuk ke dalam lubang biawak yang juga dimasuki oleh umat Kristen Eropa yang kemudian melahirkan sekularisme, ateisme, kepercayaan sesat, serta sekte-sekte agama baru yang tidak memiliki kesamaan.

Lantas, apakah kita sebagai muslim menerima bahwasanya kita mau merekonstruksi pengalaman yang merusak dari mereka (agama Kristen) dan menerapkannya pada agama Islam, kemudian mengeklaim bahwa itu adalah bentuk tajdid agama?

Konsep Tajdid di Tengah Perang Pemikiran

Pada awal abad ini, Amerika (sebagai pemimpin peradaban kapitalis Barat) mengadopsi cara konfrontasi Islam dengan dalih memerangi terorisme. Pada tahun 2003, Menteri Pertahanan Rumsfeld menyerukan pembentukan badan baru untuk menghadapi sesuatu yang disebut sebagai “perang pemikiran”—perang lama yang diperbarui caranya—untuk menghadapi ancaman besar secara efektif di abad ke-21.

Sebagaimana Jurnalis Amerika Thomas Friedman juga menyebarkan artikel atau tulisan-tulisan tentang perang pemikiran, di mana ia memandang bahwa perang pemikiran harus ada dalam masyarakat Islam, dengan memperkuat kaum moderat untuk melaksanakan tugas-tugas ini sebagai wakil dari Barat untuk menyingkirkan ide-ide ekstremisme, kekerasan, dan terorisme.

Kaum Barat kapitalis menyadari bahwa orientasi perjuangan keislaman semakin menguat dan sulit untuk diberantas, juga semakin membahayakan posisi Barat. Ditambah adanya usaha dari kaum muslimin yang ikhlas dan memiliki kesadaran untuk mewujudkan Islam melalui tajdid dakwah untuk menegakkan khilafah.

Hal ini menjadikan posisi Barat semakin terpukul mundur, dan posisi Islam semakin terdepan dalam kancah pergolakan antar peradaban. Oleh karena itu, Barat memandang bahwa rezim yang saat ini ada di negara kita telah habis riwayatnya, dan telah hilang kepercayaan rakyat padanya.

Maka Barat memandang harus mengatasi masalah ini sebelum Islam sampai pada tahap kekuasaan. Karena itu, ia sengaja berurusan dengan Islam. Dia ingin adanya pembaharuan dengan cara mengurangi dan mengubah ajaran agama, juga mempermainkan nas-nas agama.

Barat berusaha mengosongkan Islam dari esensinya yang bertentangan dengan peradaban Barat, khususnya dalam bidang politik, ekonomi, dan pemerintahan.

Seruannya baru-baru ini sampai di tahapan memerangi politik Islam (islamisme) dan dengan menyerukan bahwasanya Islam hanya sebatas ajaran moralitas dan spiritual yang tidak membahas tentang pemerintahan, hukum, politik, ataupun jihad. Seruan ini bertentangan dengan seruan tajdid Islam berdasarkan pemahaman yang sesuai syariat.

Islamisme adalah pola yang diadopsi orang kafir Barat untuk menjauhkan kaum muslimin dari tegaknya khilafah dan pemerintahan dengan hukum yang telah diturunkan Allah. Di mana Barat telah memberikan tekanan yang besar terhadap gerakan-gerakan Islam untuk mengumumkan ketidakpedulian mereka terhadap politik Islam; mengancam mereka untuk pemberantasan; dan mengizinkan mereka hanya untuk melakukan pekerjaan amal, moral, dan ibadah saja; dengan dalih bahwa tidak ada politik dalam Islam.

Taktik kaum kafir kolonial dalam menyerang Islam adalah dengan mencari “alat/antek” yang memberi respon positif pada taktiknya, dan mencoba untuk memasang kaidah dan dasar yang baru di bawah istilah “tajdid agama Islam”.

Apa yang dianggap sebagai pembaruan ini memiliki beberapa bagian seperti pembaruan prinsip-prinsip agama dan perlunya fikih baru, seperti realisme atau pragmatisme, fikih yang sesuai dengan realita saat ini, fiqh dhoruri, fiqh muwazanat, fleksibilitas Islam, dan klaim untuk memperbaharui agama dengan memanfaatkan maqashid syariah secara bengkok dan tidak sesuai dengan kaidah usul fikih yang benar, serta klaim pembacaan kontemporer atas teks agama. []

Sumber: Prof. Yusuf al-Sarisi

Glosarium:
• Maqasid syariah: Tujuan-tujuan syariat yang dimaksudkan Allah dalam setiap hukum-Nya.
• Fiqh muwazanat: Konsep fikih yang mencari sesuatu yang lebih ringan dari pada dua mafsadah.

About Author

Categories