Meluruskan Makna Hadis Kecintaan Rasulullah ﷺ terhadap Madinah sebagaimana Makkah

MUSTANIR.net – Allah subḥānahu wa taʿālā telah mengistimewakan dan mengaruniakan tanah Madinah dengan berbagai keutamaan dan kelebihan di bumi hingga hari kiamat. Madinah merupakan tanah haram ke dua (haramain) setelah Makkah. Disebut juga Madinatul Munawaroh atau Madinatur Rasul atau Madinatun Nabi.

Madinah juga adalah negeri yang dicintai oleh Rasulullah ﷺ setelah Makkah karena di antaranya, penduduknya telah memberi pertolongan dan tempat bernaung untuk beliau sehingga beliau mencintai mereka dan mencintai kota ini. Diabadikan doa beliau ﷺ atas Madinah dan penduduknya, dalam sebuah hadis dari Aisyah raḍiyallāhu ‘anhā beliau bersabda,

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ، كَمَا حَبَّبْتَ إِلَيْنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

“Ya Allah, jadikanlah Madinah sebagai kota yang kami cintai sebagaimana kami mencintai Makkah atau bahkan lebih dari itu….” (HR Bukhari no. 6372, Muslim no. 1376)

Hadis di atas menjelaskan bahwa mencintai tanah kelahiran, yaitu tanah air tempat kita hidup dan menghabiskan sisa usia, merupakan fitrah manusia, maka hukumnya boleh. Sebagaimana Rasulullah ﷺ mengungkapkan perasaan beliau dalam bentuk doa. Karena Madinah dan Makkah adalah dua tempat yang sangat spesial dan monumental dalam kehidupan beliau. Jadi suatu hal yang wajar.

Di antara hal yang melatarbelakangi cinta Rasul ﷺ kepada Madinah yang termaktub dalam doa beliau dari hadis di atas antara lain adalah karena Madinah merupakan tempat tujuan hijrah beliau ﷺ bersama para sahabat raḍiyallāhu ‘anhum atas perintah Allah subḥānahu wa taʿālā sebagaimana sabda beliau,

رَأَيْتُ فِي الْمَنَامِ أَنِّي أُهَاجِرُ مِنْ مَكَّةَ إِلَى أَرْضٍ بِهَا نَخْلٌ فَذَهَبَ وَهَلِي إِلَى أَنَّهَا الْيَمَامَةُ أَوْ هَجَرُ فَإِذَا هِيَ الْمَدِينَةُ يَثْرِبُ

“Aku melihat di dalam mimpi bahwa aku berhijrah dari Makkah ke sebuah daerah yang memiliki banyak pohon kurma, maka aku menyangka bahwa tempat itu adalah al-Yamamah atau Hajar ternyata dia adalah al-Madinah yaitu Yatsrib.” (HR Bukhari dan Muslim)

Lalu Rasul ﷺ beserta para sahabatnya hijrah dari Makkah ke Madinah. Hijrah yang dilakukan kali ini berbeda dengan hijrah yang dilakukan sebelumnya, yakni ke Habasyah. Hijrah dari Makkah ke Madinah merupakan proses perpindahan dari wilayah kufur (dar kufur) ke wilayah Islam (dar Islam) yang didirikan Rasul ﷺ di Madinah, dan Madinah menjadi pusat dar Islam pada saat itu.

Madinah menjadi masa depan satu-satunya. Ketika hampir seluruh kabilah Arab menghindar dan memusuhi Rasul ﷺ, penduduk Madinah tampil sebagai tuan rumah terbaik untuk tamu teragung. Masyhur dalam sejarah mereka dipersaudarakan oleh Islam dengan sebutan kaum Anshar. Sedangkan para sahabat yang pindah dari Makkah dengan sebutan Muhajirin. Suatu sikap yang wajar ketika Rasul ﷺ memohon kepada Allah, karena penduduk Madinah telah memberi pertolongan dan tempat bernaung beliau setelah hijrah dari Makkah.

Allah subḥānahu wa taʿālā menyebut kemuliaan diri mereka dan menjelaskan di dalam al-Qur’an tentang kedudukan mereka. Allah dan Rasul-Nya rida kepada mereka dan mereka pun rida. Oleh karena itu, Madinah, dengan kebaikan serta karunia Allah, menjadi bumi yang paling baik setelah Makkah yang dijaga oleh Allah.

Selain itu Madinah adalah tempat yang aman, damai, baik untuk kehidupan, serta nyaman untuk ditempati. Ia adalah tempat hijrah dan negeri pemerintahan Rasulullah ﷺ. Dari sanalah cahaya kebenaran memancar dan meliputi dunia hingga ke sudut-sudutnya. Madinah adalah tempat yang dicintai oleh Nabi ﷺ dan dicintai oleh para sahabat beliau, baik kaum Muhajirin maupun Anshar. Tak lain kecintaan mereka terhadap tempat ini karena dilandasi keimanan dan kecintaan kepada Allah dan Rasul-Nya semata.

Demikian pula dengan kecintaan Rasul ﷺ kepada Makkah karena ia merupakan tanah kelahiran beliau dan tanah yang dicintai oleh Allah subḥānahu wa taʿālā. Pada bulan Rabiul Awal, tahun 13 kenabian, Rasul ﷺ hijrah ke Madinah. Sebelum meninggalkan kota Makkah, Rasul ﷺ berhenti di Hazwarah lalu berkata,

وَاللَّهِ إِنَّكِ لَخَيْرُ أَرْضِ اللَّهِ وَأَحَبُّ أَرْضِ اللَّهِ إِلَى اللَّهِ وَلَوْلاَ أَنِّي أُخْرِجْتُ مِنْكِ مَا خَرَجْتُ

“Demi Allah, sesungguhnya kamu (kota Makkah) adalah sebaik-baik tanah Allah, dan tanah yang paling dicintai oleh Allah, seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan keluar (darimu).” (HR Tirmidzi no. 3925 dan Ibnu Majah no. 3108)

Jadi kesimpulannya, berdasarkan kandungan beberapa hadis tadi bahwa cinta pada tanah kelahiran dan tempat menetap diperbolehkan, karena sesuai dengan fitrah manusia. Rasul ﷺ sangat mencintai Makkah karena merupakan tempat kelahiran beliau dan ada rumah terbaik yakni Ka’bah dan Masjidil Haram. Sedangkan Madinah merupakan tempat tujuan hijrah beliau, penduduknya memberikan pertolongan dakwah dan tempat menetap beliau, bukan karena asabiah.

Cinta beliau kepada dua tempat ini (haramain) melebihi tempat lain di bumi adalah suatu hal yang wajar (mahabatuth thabi’i) dan juga disandarkan pada cinta kepada Allah subḥānahu wa taʿālā (mahabbatusy syar’i), sudah mafhum bahwa kecintaan Rasul ﷺ mengikuti kecintaan Allâh subḥānahu wa taʿālā. Mencintai kedua tempat tersebut (Makkah dan Madinah) memang harus lebih berdasarkan nas karena memiliki keutamaan, maka mencintai kedua tempat tersebut merupakan bagian dari keimanan yang juga harus ditanam pada setiap diri muslim sebagaimana Rasul ﷺ.

Namun, saat ini, seiring arus sekularisme dan liberalisasi yang sangat masif, makna hadis di atas sudah mengalami distorsi dan disorientasi. Pemahaman yang ada tidak mengacu pada ijtihad dan pemahaman para ulama muktabar. Kaum sekuler nasionalis telah menggiring maknanya pada gerakan asabiah dan fanatisme kesukuan.

Kaum kafir penjajah (para kapitalis) demi kepentingannya mengeruk dan mengeksploitasi sumber daya alam dan sumber daya manusia, telah menjadikan nasionalisme alat penjajahannya. Atas nama cinta tanah air (dengan dalih hadis di atas) berupaya memecah belah kaum muslim dengan berbagai cara dan sarana untuk memudahkan penjajahannya. Mereka tidak rela umat Islam di bawah satu komando kepemimpinan. Mereka berusaha menanam paham pemecah belah persatuan umat Islam sedunia, yakni nasionalisme, patriotisme, dan fanatisme mazhab yang berlebihan dan lain sebagainya.

Di antaranya adalah lewat proyek moderasi beragama dan penguatan nasionalisme dan kebangsaan yang terus-menerus mereka gencarkan di seluruh lini kehidupan. Oleh karenanya, proyek ini telah melahirkan generasi asabiah yang mementingkan bangsa dan negara sendiri di atas cintanya pada Allah subḥānahu wa taʿālā dan Rasulullah ﷺ (syariat-Nya).

Terbukti nyata, sekat nasionalisme telah mematikan rasa persaudaraan dan persatuan sesama muslim, tatkala muslimin di Palestina dijajah, dibombardir, dan dibunuh oleh Yahudi laknatullah, muslimin yang ada di Mesir, Arab Saudi, Yordania, dan negara Timur Tengah lainnya merasa tidak berkewajiban untuk membantu muslimin Palestina dengan alasan masalah internal Palestina bukanlah masalah bagi Mesir, Arab Saudi, dan negeri-negeri muslim lainnya.

Menyatakan pembelaan dan mempertahankan negara bangsa yang berbasis demokrasi sekuler yang menaungi seluruh negeri-negeri muslim saat ini, jelas-jelas merupakan bagian dari kemaksiatan nyata dan termasuk perbuatan yang dilarang serta diharamkan dalam Islam. Cukuplah firman Allah subḥānahu wa taʿālā menjadi pengingat bagi kita yang berbunyi,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً وَكُنْتُمْ عَلى شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan beragama Islam. Dan berpegangteguhlah kamu semuanya dengan tali agama Allah, dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.” (QS Ali Imran (3): 102-103)

Rasulullah ﷺ telah mengharamkan asabiah, sebab persaudaraan dan persatuan umat Islam tidak mengenal batas teritorial, ras, suku, dan bahasa. Abu Hurairah raḍiyallāhu ‘anhu meriwayatkan sebuah hadis dari Rasulullah ﷺ,

مَنْ خَرَجَ مِنْ الطَّاعَةِ وَفَارَقَ الْجَمَاعَةَ فَمَاتَ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً وَمَنْ قَاتَلَ تَحْتَ رَايَةٍ عِمِّيَّةٍ يَغْضَبُ لِعَصَبَةٍ أَوْ يَدْعُو إِلَى عَصَبَةٍ أَوْ يَنْصُرُ عَصَبَةً فَقُتِلَ فَقِتْلَةٌ جَاهِلِيَّةٌ وَمَنْ خَرَجَ عَلَى أُمَّتِي يَضْرِبُ بَرَّهَا وَفَاجِرَهَا وَلَا يَتَحَاشَى مِنْ مُؤْمِنِهَا وَلَا يَفِي لِذِي عَهْدٍ عَهْدَهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَلَسْتُ مِنْهُ

“Barang siapa keluar dari ketaatan serta memisahkan diri dari jemaah lalu mati, maka kematiannya adalah kematian secara jahiliah. Barang siapa berperang di bawah panji asabiah, emosi karena asabiah, lalu terbunuh, maka mayatnya adalah mayat jahiliah. Barang siapa memisahkan diri dari umatku (kaum muslim) lalu membunuhi mereka, baik yang saleh maupun yang fajir dan tidak menahan tangan mereka terhadap kaum mukmin serta tidak menyempurnakan perjanjian mereka kepada orang lain, maka ia bukan termasuk golonganku dan aku bukan golongannya.” (Hadis Riwayat Muslim)

Setiap muslim adalah saudara dan disatukan dalam naungan satu kepemimpinan tanpa sekat nation state (negara bangsa) . Pemersatu itu adalah sistem khilafah.

Allah subḥānahu wataʿālā berfirman,

إِنَّمَا ٱلْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا۟ بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Oleh sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS al-Hujurat: 10)

Wallahualam bissawab. []

Sumber: Siti Murlina

About Author

Categories