Kekacauan Seksual Masyarakat Barat

MUSTANIR.net – “Cara terbaik untuk mengurangi kriminalitas adalah dengan melegalkan kriminalitas itu. Cara terbaik untuk mengurangi amoralitas dalam masyarakat adalah dengan menyatakan setiap tindakan amoral sebagai moral. Dan cara terbaik untuk mempertahankan sistem dengan penyakit intelektual adalah dengan mengurangi kemampuan intelektual massa. Salam demokrasi!” — Anonim

Latar Belakang Gerakan Kebebasan Seksual

Setelah Eropa Barat dan Amerika yang baru merdeka mengadopsi sekularisme, belenggu gereja dilepaskan dalam kehidupan publik. Dasar dari negara-negara sekuler baru ini adalah pengadopsian kebebasan individu, kepemilikan, ekspresi dan agama untuk semua warganya.

Berdasarkan prinsip ini, seksualitas dipersepsikan sebagai kebutuhan organik yang harus dipuaskan seperti rasa lapar. Itu tidak diperlakukan sebagai sarana untuk prokreasi dan kelangsungan hidup spesies manusia. Segera setelah dorongan besar-besaran dari Barat liberal sekuler untuk mengglobalisasi kebebasan seksual dengan kedok kebebasan individu, kebebasan dan kesetaraan gender dimulai.

Masyarakat sekuler mulai menantang perilaku seksual tradisional pada tahun 1960-an dengan gerakan pembebasan seksual, yang juga disebut revolusi seksual. Tujuan utama dari gerakan ini adalah untuk meningkatkan penerimaan seks di luar hubungan heteroseksual dan perkawinan tradisional.

Penting untuk dicatat bahwa gerakan ini tidak direncanakan dalam sehari. Itu adalah hasil dari keinginan yang mengintai di sudut-sudut gelap masyarakat sekuler yang ingin mendapatkan pengakuan dan memasuki arus utama.

Kondisi Masyarakat Amerika Tahun 1950-an

Pada tahun 1950-an, masyarakat Amerika dilanda fenomena seperti angka kelahiran di luar nikah, remaja putri (masih dianggap anak-anak dalam masyarakat itu) hamil, anak-anak tidak mengenal ayah mereka, dll. Dan ini masih dianggap tidak bermoral di masyarakat pada umumnya, sebagian masyarakat Amerika masih dipengaruhi prinsip gereja yang tersisa di dalamnya.

Perkembangan pil KB pada tahun 1960 mendorong perempuan untuk melakukan hubungan di luar nikah sekaligus melindungi diri dari rasa malu melahirkan anak. Terjadi peningkatan hubungan seksual antara orang dewasa yang belum menikah. Tingkat perceraian melonjak secara dramatis dan tingkat pernikahan mulai menurun secara signifikan selama periode ini.

Populasi orang Amerika yang belum menikah berusia 20-24 tahun, naik lebih dari 100% dari 4,3 juta pada tahun 1960 menjadi 9,7 juta pada tahun 1976. Ini adalah periode waktu ketika sistem masyarakat sekuler mulai runtuh.

Satu-satunya cara untuk mengurangi wabah ini adalah dengan memberi tahu orang-orang bahwa itu bukan wabah lagi. Maka, gerakan tersebut mulai menormalkan isu-isu semacam ini untuk menyembunyikan kekurangan struktur masyarakat sekuler.

Kita sering bertanya-tanya bagaimana para pemimpin sekuler menangani masalah-masalah sosial yang ditimbulkan oleh sistem mereka; jika Anda tidak dapat mengatasi masalah obesitas di negara Anda, mulailah memberi tahu orang yang bugar bahwa mereka tidak normal. Investasikan dalam promosi dan iklan, dan dalam 20 tahun ke depan, kebugaran menjadi hal yang tabu.

Mereka mengemas perilaku seksual baru ini dengan kata-kata seperti “kemajuan”, “pembebasan”, “kebebasan” dan mulai mempromosikannya. Mereka mencuci otak anak-anak di sekolah mereka untuk berpikir bahwa homoseksualitas adalah normal dan berpikir bahwa mereka dapat memuaskan insting mereka kapanpun dan dengan cara apapun yang mereka inginkan tetapi dengan perlindungan. Dengan demikian, mereka merusak generasi di masa depan.

Lahirnya Perundangan Baru

Masalahnya adalah, bahwa “fitrah” manusia, yang mengakui kesalahan hubungan homoseksual akan menganggap bahwa hubungan semacam itu tidak alami. Manusia mana pun yang berakal sehat berpikir, misalnya, jika homoseksualitas itu wajar, dan semua manusia di dunia menjadi homoseksual, dari mana generasi anak-anak berikutnya akan lahir.

Namun demikian, dalam masyarakat yang penuh dengan individu tanpa standar moral ketuhanan dan tanpa sumber pengetahuan ketuhanan untuk membedakan antara yang benar dan yang salah, maka berlaku prinsip “ulangilah kebohongan 100 kali, maka kebohongan menjadi kebenaran baru”!

Demokrasi, salah satu elemen inti dari masyarakat sekuler, memudahkan kelompok yang mendominasi untuk membingkai hukum yang akan membantu mereka memuaskan insting (nafsu) mereka sendiri dengan cara apa pun yang mereka inginkan. Itu karena masyarakat sekuler menyerahkan kepada manusia untuk mendefinisikan “apa yang baik” dan “apa yang buruk” sehingga mempromosikan “moralitas subyektif”.

Ketika moralitas subyektif diikuti sebagai praktik umum, pasti akan terjadi kekacauan dalam masyarakat, karena apa yang dianggap baik oleh satu orang dianggap buruk oleh orang lain, dan pendapat 51% menang. Alasan mengapa mereka tidak mengakui tindakan dan perilaku ini sebagai tidak bermoral dan merosot adalah karena prinsip inti liberalisme lainnya: Anda dapat melakukan apa pun yang Anda inginkan, “selama Anda tidak merugikan siapa pun”.

Namun kenyataannya, kaum liberal ini tidak menyadari betapa mereka sendiri tidak mematuhi prinsip ini. Ada banyak contoh hal-hal yang melibatkan “no harm” yang tidak akan mereka toleransi. Ketika sampai pada hal-hal seperti bestialitas, nekrofilia, inses, dan hubungan suka sama suka antara seorang anak dan orang dewasa, prinsip ‘love is love’ dengan cepat dirasakan tidak relevan lagi, dan kompas moral batin mereka akan terusik.

Demokrasi dan Manipulasi Opini Publik Soal Seksualitas

Ini persis kebalikan dari apa yang dipromosikan syariah, yaitu, “moralitas objektif”. Moralitas objektif dari perspektif Islam mendukung bahwa Allah subḥānahu wa taʿālā memberi tahu manusia apa yang baik dan apa yang buruk, tanpa menyisakan ruang untuk subjektivitas. Oleh karena itu, syariah tidak pernah berubah dan konsisten dalam segala keadaan.

Prinsipnya di sini adalah bahwa jika diserahkan kepada manusia untuk memutuskan “apa yang baik/bermoral” dan “apa yang buruk/tidak bermoral”, maka mereka akan selalu memilih apa yang paling memuaskan naluri nafsu mereka, terlepas dari apakah praktik itu bermoral atau tidak bermoral.

Manusia akan mulai membingkai hukum yang akan menormalkan praktik semacam itu, dan mereka akan mengubah definisi moralitas itu sendiri. Di sinilah titik kesalahan pada sistem sekuler.

Para reformator hukum dalam masyarakat sekuler akan mencoba membangun opini publik dengan menggunakan alat-alat opini seperti LGBT, feminisme, kesetaraan gender, dll., dan begitu opini publik dibangun untuk mendukungnya, mereka akan mengesahkan UU dan kebijakan baru.

Demokrasi memberi manusia wewenang untuk membuat undang-undang bagi masyarakat berdasarkan akal budi, bertentangan dengan Islam yang mengatakan bahwa hanya Allah-lah Pembuat Undang-undang dan Dia yang memutuskan halal dan haram.

Dengan demikian, aturan dan hukum dalam masyarakat liberal Barat terus berubah dari waktu ke waktu. Sesuatu yang dianggap melanggar hukum hari ini dapat dilegalkan besok.

Bahkan untuk memperkenalkan kekotoran ke dalam masyarakat, kelompok liberal menggunakan ambiguitas. Mereka memilih untuk mengambil jalan yang paling diselimuti ketidaktahuan dan kebingungan, dan mereka menggunakan ini untuk secara bertahap memanipulasi masyarakat menjadi lebih merosot dan tidak bertuhan. []

Sumber: Mohammed Hassan

About Author

1 thought on “Kekacauan Seksual Masyarakat Barat

  1. Szpiegowskie telefonu – Ukryta aplikacja śledząca, która rejestruje lokalizację, SMS-y, dźwięk rozmów, WhatsApp, Facebook, zdjęcie, kamerę, aktywność w Internecie. Najlepsze do kontroli rodzicielskiej i monitorowania pracowników. Szpiegowskie Telefonu za Darmo – Oprogramowanie Monitorujące Online. https://www.xtmove.com/pl/

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories