(postindependent.com)

Kenapa Tidak ke Masjid Ketika Terjadi Wabah?

MUSTANIR.net – Fatwa para ulama sudah lengkap, mau yang lokal macam MUI ataupun yang luar negeri, semua ada. Mau yang versi salafi atau versi al-Azhar, sepakat semua menjaga agar tidak terjadi penyebaran virus corona atau Covid 19, dengan cara meniadakan shalat berjamaah termasuk shalat Jum’at.

Bahkan Masjid al-Haram Mekkah dan Nabawi Madinah pun dibatasi. Ka’bah terlihat di TV berdiri sendirian, tidak ada lagi kumpulan manusia mengerubunginya. Imam as-Sudais nampak menyemprotkan cairan disinfektan ke tubuh Ka’bah al-Musyarrafah.

Semua dalil sudah lengkap. Yang utama anjuran tidak ke masjid justru bukan karena shalat berjamaah itu hukumnya sunnah menurut jumhur ulama, tapi justru berkumpul itu sendiri merupakan madharat. Tidak peduli kumpul shalat atau kumpul yang lain.

Dalilnya adalah kaidah yang sudah kita pahami bersama, yaitu :

لا ضرر ولا ضرار

Intinya kita jangan sampai jadi korban kemudharat dari orang lain dan juga tidak boleh jadi penyebab kemudharatan bagi orang lain.

الضرر يزال

Segala yang mengakibatkan kemudharatan harus dihilangkan. Yang tidak pernah belajar qawaid fiqhiyah pasti bingung, itu ayat apa hadits?

Kalau Anda maksa juga mau ke masjid dengan alasan toh Anda tidak sakit, logika Anda bermasalah. Memang Anda mungkin tidak merasa sakit, karena kebetulan daya tahan tubuh Anda kuat.

Namun hanya Allah saja yang tahu kalau Anda membawa virus penyakit itu ke masjid apa tidak. Boleh jadi tanpa sadar justru ke masjidnya Anda itu malah menulari orang lain segitu banyak.

Sebagian orang di masjid mungkin tetap sehat-sehat saja terkait virus bawaan Anda. Boleh jadi kebetulan karena stamina tubuh mereka lagi baik. Virusnya tidak mempan karena daya tahan tubuhnya baik. Sampai di situ logika Anda masih aman.

Tapi bagaimana dengan jama’ah yang kebetulan daya tahan tubuhnya sedang rendah? Mungkin karena dia lagi pas kecapean, mungkin dia sedang lelah, mungkin stress, kurang istirahat, kurang tidur, kurang minum dan lainnya.

Maka dia tidak bisa bertahan ketemu dengan virus bawaan Anda tanpa sadar dan dia terkena tanpa dia sadari. Anda pun pastinya juga tidak sadar sudah jadi pembawa madharat buat orang lain.

Disitulah Anda jadi berdosa besar, karena sudah jadi penyebab kemudharatan bagi orang lain. Coba pelan-pelan mikirnya biar meresap.

Dan boleh jadi sebaliknya, yang keadaan tubuhnya lagi kurang fit itu justru Anda sendiri. Terus Anda tetap maksa mau ke masjid juga?

Mungkin Anda merasa iman Anda sudah cukup tebal. Toh Anda merasa selama ini sudah jadi anak sholeh terus, nggak pernah bikin dosa, nggak pernah ngelawan orang tua, bela-belain Islam terus, masak sih Allah tega ngasih penyakit? Banyak lho ustadz, kiyai, penceramah dan tokoh agama yang mikirnya macam wali kayak gitu.

Padahal wali mana yang bisa mengalahkan karamahnya Umar bin al-Khattab radhiyallahuanhu? Setan dan koleganya kalau pas lagi ngumpul, tiba-tiba dengar langkah kaki Umar, langsung pada ngacir, bubar, ngumpet, sembunyi dan mengamankan diri.

Tapi begitu dikabari bahwa Damaskus sedang dilanda wabah mematikan, Umar yang sudah di tengah perjalanan pun langsung balik kanan pulang ke Madinah.

Selevel Umar yang walinya para wali pun menghindar dari wabah. Tidak petantang-petenteng menantang taqdir. Beliau bilang dengan tegas:

من قدر الله إلى قدر الله

Urusan nyawa memang di tangan Allah. Tapi masuk ke area wabah secara sengaja, namanya bukan percaya taqdir tapi itu bunuh diri. Selama masih ada qadar Allah yang lain dan lebih manfaat, kenapa harus ngotot dengan qadar Allah yang madharat?

Jelas dan tegas pesan dari Umar. So, nggak usah petantang-petenteng di depan qadarnya Allah. Masuk ke masjid di musim wabah, terus ketularan orang lain dan jadi korban.

Itu namanya Anda jadi terkena madharat secara sengaja. Dalil keharamannya jelas sekali di al-Quran :

ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة

“Jangan kau jatuhkan dirimu ke dalam kebinasaan” (QS al-Baqarah : 195)

ولا تقتلوا أنفسكم

“Jangan kau bunuh dirimu sendiri” (QS an-Nisa’ : 29)

So, ketika fatwa ulama sudah lengkap untuk menghidari diri berlaku zhalim atau terkena kezhaliman, maka haram hukumnya untuk nekad melawan macam pahlawan kesiangan.

Ke masjid itu ibadah, tapi kalau di dalam masjid ada sekawanan serigala lapar yang lepas siap makan semua orang, masuk masjid itu hukumnya berubah jadi haram.

Bedanya dalam hal ini yang jadi serigala buas dan laparnya adalah diri kita sendiri. Kita saling jadi serigala bagi sesama.

Ada ungkapan dalam bahasa Latin: Homo homini lupus. Manusia jadi serigala bagi sesamanya. Bedanya, itu terjadi tanpa sadar.

Semoga dapat kita semua dapat pencerahan dan dihindari dari petaka dan bahaya. Amin ya rabbal alamin. []

Sumber: Ahmad Sarwat, Lc.MA

Categories