(repubika.co.id)

Covid-19, Tawakal dan Sikap Keras Kepala

MUSTANIR.net“Azal kita telah diatur dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) jauh sebelum kita diciptakan” Ini firman Allah.Jadi jika kita meninggal karena virus, kita harus pasrah. Karena telah menjadi ketetapan. Untuk itu, Tauhid kita harus kuat, serahkan semua kepada Allah.”

Sontak saja saya berfikir, orang mengatakan kalimat di atas, terpapar paham Jabariyah. Yaitu sekte yang menganut kepercayaan bahwa manusia ibarat wayang yang dikendalikan oleh Allah. Sementara, kita tidak punya kuasa untuk bertindak sendiri dan membuat pilihan hidup. Jabariyayh adalah lawan dari Qadariyah, yaitu sebuah paham yang menganut kepercayaan bahwa Allah hanya bertugas menciptakan. Setelah itu manusia menentukan takdir sendiri terlepas dari takdir Allah.

Wabah Covid-19 atau lebih dikenal dengan corona ini telah mengakibatkan kewaspadaan nasional. Berbagai himbauan pemerintah telah disampaikan dari tingkat atas hingga ke lapisan masyarakat paling bawah. Tak ketinggalan, organisasi keagaamaan seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI), Muhammadiyah, NU, dan lainnya. Poin utama himbauan itu adalah minimalisir pertemuan yang melibatkan orang banyak, menghindari perjalanan ke daerah yang telah terinfreksi virus, melaksanakan hidup sehat dan higienis, menjaga kebersihan lingkungan, dan mengatur pola makanan yang sehat.

Tapi hal ini justru ditanggapi beragam oleh netizen. Tak tanggung-tanggung, mereka tiba-tiba jadi ahli medis, ahli tafsir bahkan ahli nujum. Seminggu ini intensitas di media sosial semakin tinggi. Berita, tips, dan anjuran nbanyak di-share dalam berbagai bentuk. Semua memunculkan pro dan kontra terkait himbauan ini.

Yang mengherankan, mayoritas banyak yang masa bodoh dengan himbauan ini. Banyak yang masih nekat bepergian ke luar daerah, bahkan turut hadir di kerumunan khalayak ramai. Tentu saja hal ini mengundang pertanyaan, seberapa serius kita menghadapi bahaya Covid-19 ini. Lihat saja beberapa rilis berita di media online.

Beberapa lokasi objek wisata masih terlihat ramai dan dimanfaatkan pengunjung yang rata-rata anak sekolah. Padahal sesuai himbauan, libur 14 hari ini dimanfaatkan untuk memperlambat penyebaran virus. Untuk itu, kita harus sebisa mungkin tidak bepergian. Akan tetapi himbauan ini hanya dianggap angin lalu saja. Terlebih di daerah yang belum terinfeksi virus ini.

Bagi sebagian orang, kasus Covid-19 ini tidak perlu ditanggapi secara berlebihan. Argumen yang dibangun mereka sederhana, ya karena azal dan kehidupan ini telah ada yang mengatur. Jalani kehidupan normal saja, biarkan Allah yang menjaga. Sikap seperti ini sungguh tidaklah benar. Ada indikasi kepasrahan sehingga tidak melakukan ikhtiar sama sekali, padahal telah dihimbau oleh pemerintah, ulama bahkan ahli kesehatan bagaimana bahayanya virus ini.

Dalam sebuah riwayat, suatu waktu Umar Sang Khalifah hendak ke negeri Syam bersama sahabatnya. Di tengah perjalanan, rombongan itu berhenti. Lalu kemudian tersebar kabar bahwa Syam tengah dilanda wabah thoun. Kemudian Umar memutuskan untuk membawa rombongan kembali ke Madinah.

Salah seorang kemudian bertanya, “Mengapa engkau kembali? Apakah Anda hendak lari dari takdir Allah?”

Umar kemudian menjawab, “Kita lari dari takdir Allah yang satu menuju ke takdir-Nya yang lain.”

Dalam riwayat lain, juga diceritakan nabi pernah ditanya oleh seseorang, “Wahai nabi, aku ikat untaku kemudian aku tawakal atau aku lepaskan saja lalu aku bertawakal.”

Lalu Nabi Muhammad menjawab, “Ikatlah untamu kemudian bertawakal.”

Tawakal artinya berserah diri kepada Allah, setelah semua ikhtiar telah dilaksanakan, bukan malah tidak berikhtiar justru langsung bertawakal, ini perilaku orang malas.

Dalam ilmu fikih kita, mengenal ruksah yaitu keringanan yang diberikan Allah dalam beribadah karena suatu kondisi yang tidak biasa. Rukhsah ini bisa digunakan dalam konteks menghindari wabah Covid 19 ini. Ini tertuang dalam beberapa himbauan organisasi Islam. Semisal anjuran untuk salat berjamaah di rumah, salat Jumat diganti dengan salat Zuhur di rumah. Ini semua merupakan kemudahan bagi kita, sehingga terhindar dari wabah ini, ikhtiar seperti ini yang patut dilaksanakan oleh kita sebagai umat muslim.

Namun yang mengherankan, kita di Indonesia begitu adem ayem bahkan santai saja menghadapi wabah ini. Beberapa tempat umum semisal terminal, kedai, mall, bahkan masjid masih terlihat ramai. Ini merujuk sebuah hadis yang menyatakan bahwa masjid adalah tempat berlindung yang baik, saya akhirnya mencari tahu tentang hadis ini dan ternyata hadisnya dhoif.

Mungkin kita baru akan sadar ketika orang dekat bahkan kita sendiri yang terkena virus ini. Sehingga dengan demikian, kita bisa melakukan tindakan preventif. Namun bagaimana jika virus terlanjur menyebar di seluruh tubuh dan kita terlambat mengetahui. Terlebih fasilitas medis di sekitar kita tidak memadai.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wassalam bersabda, “Tidak boleh berbuat madlarat dan hal yang menimbulkan madlarat.” (HR Bukhari dan Muslim dari Abdullah ibn Abbas)

Sebelum kita terlambat, yang kita lakukan ikhtiar, do’a dan tawakal saja. Tolong jangan keras kepala. []

Sumber: Delfian Giputradewa Thanta

Categories