Kepastian Hari Kiamat Dan Perjumpaan Manusia Dengan Tuhannya

tafsir-surat

Kepastian Hari Kiamat Dan Perjumpaan Manusia Dengan Tuhannya

(Tafsir QS al-Insyiqaq [84]: 1-6)

إِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ، وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ، وَإِذَا الأرْضُ مُدَّتْ، وَأَلْقَتْ مَا فِيهَا وَتَخَلَّتْ، وَأَذِنَتْ لِرَبِّهَا وَحُقَّتْ، يَا أَيُّهَا الإنْسَانُ إِنَّكَ كَادِحٌ إِلَى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلاقِيهِ

Jika langit terbelah serta patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya langit itu patuh. Jika bumi diratakan, memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong, serta patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya bumi itu patuh. Hai manusia, sesungguhnya kalian telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhan kalian sehingga kalian pasti akan menemui Dia (QS al-Insyiqaq [84]: 1-6).

Surat ini dinamakan al-insyiqâq. Nama ini diambilkan dari salah satu kata pada ayat pertama. Surat yang berjumlah dua puluh lima ayat ini termasuk surat Makkiyyah.1 Tak ada perbedaan pendapat tentang ini.2

Dalam surat sebelumnya, yakni surat al-Muthaffifin, telah dijelaskan tentang adanya kitab atau catatan atas golongan al-fujjâr dan golongan al-abrâr. Kedua golongan manusia tersebut mengalami nasib yang kontradiktif. Golongan pertama dimasukkan ke dalam neraka Jahim,. Golongan ke dua mendapatkan kenikmatan di surga. Kemudian dalam surat ini kembali ditegaskan tentang adanya catatan yang diserahkan kepada kedua golongan manusia tersebut. Peristiwa itu terjadi pada Hari kiamat.

Mengenai keistimewaan surat ini, Rasulullah saw. bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَنْظُرَ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ كَأَنَّهُ رَأْيُ عَيْنٍ فَلْيَقْرَأْ إِذَا الشَّمْسُ كُوِّرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْفَطَرَتْ، وَإِذَا السَّمَاءُ انْشَقَّتْ

Siapa saja yang senang memperhatikan (peristiwa-peristiwa yang akan terjadi) pada Harikiamat, hendaknya dia membaca surat at-Takwir, al-Infithar dan al-Insyiqaq (HR al-Tirmidzi).

Tafsir Ayat

Allah SWT berfirman: Idzâ as-samâ‘ [i]nsyaqqat (Jika langit terbelah). Huruf idzâ menunjukkan kepastian terjadinya peristiwa yang disebutkan sesudahnya pada masa yang akan datang. Kata Ibnu Katsir, peristiwa tersebut terjadi pada Hari kiamat.3 Saat itu langit insyaqqat, menjadi terbelah. Dikatakan al-Khazin, ini merupakan tanda-tandanya.4

Kata insyaqqa berasal dari kata asy-syaqq. Artinya, al-khurm al-wâqi’ fî asy-syay‘ (lubang yang terjadi pada sesuatu). Diterangkan Ibnu Abbas, pengertian insyaqqat adalah inshada’at wa tafaththarat bi al-ghamâm (retak dan terbelah dengan awan putih).5

berita terbelahnya langit pada Hari kiamat ini juga disebutkan dalam firman Allah SWT:

وَانْشَقَّتِ السَّمَاءُ فَهِيَ يَوْمَئِذٍ وَاهِيَةٌ

Terbelahlah langit karena pada hari itu langit menjadi lemah (QS al-Haqqah [69]: 16).

Kemudian disebutkan: Wa adzinat li Rabbiha wa huqqat (dan patuh kepada Tuhannya; dan sudah semestinya langit itu patuh). Kata adzinat berarti sami’at (mende-ngar). Adzinat li Rabbiha berarti istama’at lahu ta’âlâ (langit itu mendengar kepada-Nya).6 Diterangkan juga oleh al-Alusi, mendengar di sini merupakan bentuk majaz dari ath-thâ’ah wa al-inqiyâd (taat dan tunduk).7 Ibnu Katsir juga memaknai kalimat tersebut: Langit mendengar Tuhannya dan menaati perintah-Nya ketika Dia memerintah dia agar menjadi terbelah.8

Kata wa huqqat memberikan penegasan bahwa hal itu menjadi keharusan bagi langit untuk menaati perintah Tuhannya.9 Layak bagi langit itu menaati perintah-Nya karena Dia Mahaagung yang tidak bisa dihalangi dan dikalahkan. Bahkan Dia mengalahkan dan menundukkan segala sesuatu.10

Dengan demikian ayat ini menerangkan bahwa terjadinya langit menjadi terbelah merupakan kehendak Allah SWT. Dia menghendaki dan langit sebagai makhluk-Nya menaati perintah-Nya.

Lalu diberitakan: Wa idzâ al-ardh muddat (Jika bumi diratakan). Sebagaimana langit, peristiwa besar juga terjadi pada bumi. Jika langit menjadi terbelah, maka peristiwa yang terjadi pada bumi adalah muddat.

Menurut Fakhruddin ar-Razi, kata muddat dalam ayat ini memiliki dua makna. Pertama: diambi dari kata madda asy-syay’, fa[i]mtadda (menghamparkan sesuatu sehingga menjadi terhampar). Hal itu dengan melenyapkan gunung-gunung dengan menghancurkannya, sebagaimana firman Allah SWT:

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الْجِبَالِ فَقُلْ يَنْسِفُهَا رَبِّي نَسْفًا، فَيَذَرُهَا قَاعًا صَفْصَفًا، لا تَرَى فِيهَا عِوَجًا وَلا أَمْتًا

Mereka bertanya kepada kamu tentang gunung-gunung. Katakanlah, “Tuhanku akan menghancurkannya (pada Hari kiamat) sehancur-hancurnya. Dia akan menjadikan (bekas) gunung-gunung itu datar sama sekali; tidak ada sedikitpun kamu lihat padanya tempat yang rendah dan yang tinggi-tinggi (QS Thaha [20]: 105-107).

Artinya, Allah SWT meratakan permukaannya. Jika permukaannya telah diratakan, semua yang menonjol di dalamnya menjadi rata.11 Rasulullah saw. bersabda:

وَتُمَدُّ الأَرْضُ مَدَّ الأَدِيمِ

Bumi diratakan seperti kulit yang disamak (HR Ibnu Majah dari Ibnu Mas’ud).

Dikatakan al-Qurthubi, kulit yang disamak jika diratakan hilang gundukan yang ada padanya sehingga menjadi rata dan lurus.12

Kedua: diambil dari kata maddahu yang bermakna amaddahu. Artinya, ditambah luasnya pada Hari kiamat agar makhluk berdiri di atasnya dan untuk hisab. Untuk diketahui, penambahan pada permukaan bumi merupakan keharusan, baik dengan dipanjangkan maupun diluaskan. Sebab, seluruh makhluk dari awal hingga akhir ketika berdiri di atas permukaannya mengharuskan penambahan panjang dan lebarnya.13

Ibnu Abbas dan Ibnu Mas’ud berkata, “Ditambahkan luasnya demikian karena saat itu semua makhluk berdiri untuk dihisab sehingga tidak ada satu pun tempat bagi manusia kecuali kakinya berpijak. Hal itu karena banyaknya makhluk yang berada di tempat tersebut.”14

Kedua pengertian itu saling melengkapi sehingga bisa diambil dua-duanya, Sebagaimana dikatakan Ibnu Katsir, muddat di sini bermakna busithat wa fursiyat wa wussi’at (dibentangkan, dihamparkan dan diluaskan).15

Mengenai keadaan bumi pada saat itu, Allah SWT berfirman:

يَوْمَ تُبَدَّلُ الأرْضُ غَيْرَ الأرْضِ وَالسَّمَاوَاتُ وَبَرَزُوا لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ

(Yaitu) pada hari (ketika) bumi diganti dengan bumi yang lain dan (demikian pula) langit; mereka semuanya (di Padang Mahsyar) berkumpul menghadap ke hadirat Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa (QS Ibrahim [14]: 48).

Juga diberitakan: Wa alqat mâ fîhâ wa takhallat (memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong). Dikatakan al-Khazin dan ar-Razi, pengertian bumi mengeluarkan apa yang ada di dalamnya adalah mengeluarkan mayat-mayat dan harta simpanan dari perutnya.16 Menurut ar-Razi, ini seperti yang diberitakan dalam beberapa ayat lainnya, yakni al-Zalzalah [99]: 2, al-Infithar [82]: 4, dan al-Mursalat 77]: 25-26).17

Adapun wa takhallat artinya perutnya kosong; benar-benar kosong sehingga tersisa di dalam perutnya sesuatu pun. Seolah-olah bumi telah berusaha dengan sepenuh kekuatan untuk mengosongkan dari mayat-mayat dan harta simpanan.18

Perlu ditegaskan bahwa Allah SWT yang mengeluarkan semua benda tersebut dari perutnya ke permukaan.19

Allah SWT berfirman: Wa adzinat li Rabbiha wa huqqat (serta patuh kepada Tuhannya dan sudah semestinya bumi itu patuh). Sebagaimana langit, bumi juga bersikap sama: tunduk dan patuh kepada Tuhannya, Allah SWT. Sebagai makhluk-Nya, memang demikianlah sikap yang layak dilakukan.

Kemudian Allah SWT berfirman: Yâ ayyuhâ al-insân innaka kâdih[un] ilâ Rabbika kad-h[an] fa mulâqîhi (Wahai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu sehingga pasti kamu akan menemui-Nya). Seruan ayat ini ditujukan kepadaal-insân. Dikatakan al-Qurthubi, yang dimaksud dengan al-insân adalah Bani Adam. Demikian pula pendapat Qatadah sebagaimana diriwayatkan Said.20

Adapun kâdih merupakan bentuk al-fâ’il (pelaku dari) al-kad-h. Kata al-kad-h dalam bahasa Arab berati al-‘amal wa al-kasb (perbuatan dan usaha).21

Diterangkan juga oleh ash-Shabuni, makna al-kad-h adalah al-jadd wa al-ijtihâd wa juhd al-nafs fî al-‘amal (serius, sugguh-sungguh dan mengerahkan jiwa dalam bekerja).22 Kata kad-h[a] ini memberikan ta’kîd, bahwa manusia benar-benar bekerja dengan sungguh-sungguh.

Disebutkan bahwa usaha dan kerja keras itu dikerjakan ilâ Rabbika, kepada Tuhanmu. Menurut al-Qurthubi, makna ilâ Rabbika di sini bermakna râji’[un] ilâ Rabbika (kembali kepada Tuhanmu).23 Mereka bekerja dengan sungguh-sungguh hingga kembali kepada Tuhannya. Dikatakan Ibnu Juzyi, “Sesungguhnya kamu berada pada puncak kesungguhan dalam perjalanan kepada Tuhanmu. Sebab, waktu terus berjalan, sedangkan engkau setiap saat kehilangan usiamu yang pendek. Seolah-olah engkau berjalan dengan cepat menuju kematian, kemudian menemui Tuhanmu.”24

Frasa famulâqîhi (sehingga pasti dia akan menemuinya). Menurut sebagian mufassir, dhamîr ghâib menunjuk pada amal yang dikerjakan. Dikatakan Ibnu Katsir, frasa tersebut bermakna,“Manusia akan mendapatkan apa yang dia kerjakan, kebaikan maupun keburukan.” Menurut Ibn Katsir, ini sesuai dengan hadis yang diriwayatkan Abu Dawud ath-Thayalisi, dari Jabir ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:

قَالَ جِبْرِيلُ: يَا مُحَمَّدُ، عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحَبِبْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مُلَاقِيهِ

Jibril berkata, “Wahai Muhammad, hiduplah sekehendakmu. Sesungguhnya engkau akan mati. Cintailah sekehendakmu. Sesungguhnya engkau akan berpisah. Berbuatlah sekehendakmu. Sesungguhnya ngkau akan menjumpai (akibat)-nya (HR Abu Dawud al-Thayalisi).25

Ada juga berpendapat bahwa adh-dhamîr tersebut kembali kepada Rabbika (Tuhanmu), sehingga famulâqi Rabbika (sehinggaa menemui Tuhanmu). Maknanya, “Dia akan membalas kamu dengan amalmu dan membalas kamu atas usahamu.” Ditegaskan Ibnu Katsir, dua penafsiran itu saling menguatkan.26

Penafsiran tersebut dikemukan oleh Ibnu Abbas dari al-Aufa ketika menafsirkan ayat ini dengan ungkapan, “Kamu telah mengerjakan suatu perbuatan sehingga kamu akan menjumpai Allah dengan amal perbuatan tersebut, yang baik maupun yang buruk.”27

Qatadah juga berkata tentang ayat ini, “Sesungguhnya usahamu, wahai Bani Adam, benar-benar lemah. Karena itu, siapa saja yang mampu mengerjakan usahanya dalam ketaatan kepada Allah, hendaklanya dia mengerjakannya. Tak ada kekuatan selain Allah.”28

Beberapa Perkara Penting  

Banyak perkara penting yang perlu ditekankan dari ayat ini. Pertama: Kepastian datangnya Harikiamat. Ayat-ayat dalam surat ini memberitakan beberapa peristiwa yang akan terjadi pada Harikiamat. Langit yang terlihat kokoh terbelah. Bumi akan dihamparkan menjadi rata dan ditambah luasnya. Bumi juga akan mengeluarkan semua isi perutnya, termasuk semua mayat yang berada di dalamnya, hingga tak tersisa.

Kedua: Ketaatan langit dan bumi kepada Allah SWT. Ayat-ayat ini memberitakan ketaatan dan ketundukan makhluk-makhluk yang besar tersebut. Ketundukan langit, bumi dan bintang-bintang itu kepada Allah juga disebutkan dalam firman-Nya:

يُغْشِي اللَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَثِيثًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ وَالنُّجُومَ مُسَخَّرَاتٍ بِأَمْرِهِ

Dia menutupkan malam pada siang yang mengikutinya dengan cepat. Demikian pula (Dia ciptakan pula) matahari, bulan dan bintang-bintang; masing-masing tunduk pada perintah-Nya(QS al-A’raf [7]: 54).

         

Jika makhluk-makhluk yang jauh lebih besar dan lebih kuat itu taat dan tunduk kepada Allah SWT, atas dasar apa manusia yang jauh lebih kecil dan lebih lemah itu berani melawan Tuhannya?

Ketiga: Kepastian manusia menjumpai Tuhannya dan mendapatkan balasan atas apa yang dia kerjakan. Ayat ini menegaskan bahwa dalam hidupnya, manusia bekerja sungguh-sungguh hingga kembali kepada Tuhannya. Lalu manusia pun mendapati balasan atas perbuatan yang dilakukan. Balasan itu tentu sejalan dengan perbuatannya. Hal itu diterangkan dalam ayat-ayat berikutnya.   WalLâh a’lam bi ash-shawâb.[Ust. Rokhmat S. Labib, M.E.I.]

Catatan kaki:

1     al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, vol. 19 (Kairo: Dar al-Kutub al-Mishriyyah, 1964), 269.

2     Asy-Syaukani, Fat-h al-Qadîr, vol. 5 (Damaskus: Dar Ibnu Katsir, 1994), 49; al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15 (Beirut: Dar al-Kutubu al-‘Ilmiyyah, 1995), 286.

3     Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8 (Beirut: Dar al-Kitub al-‘Ilmiyyah, 1999), 351.

4     Al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl fî Ma’ânî Tanzîl, vol. 4 (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 1995), 408.

5     Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 269.

6     Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 286.

7     Al-Alusi, Rûh al-Ma’ânî, vol. 15, 286.

8     Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 351.

9     Al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl, vol. 4, 408.

10    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur‘ân al-‘Azhîm, vol. 8, 351.

11    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31 (Beirut: Dar Ihya’a at-Turats al-‘Arabi, 4120 H), 96.

12    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 269.

13    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31, 97.

14    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 270.

15    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 351.

16    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31, 97; al-Khazin, Lubâb at-Ta‘wîl, vol. 4, 408.

17    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31, 97.

18    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31, 97.

19    Ar-Razi, Mafâtîh al-Ghayb, vol 31, 97.

20    Al-Qurthubi, al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 271.

21    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 271.

22    Ash-Shabuni, Shafwah al-Tafâsîr, vol. 3 (Kairo: Dar al-Shabuni, 1997), 511.

23    Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur‘ân, vol. 19, 271.

24    Ibnu Juzyi, At-Tas-hîl li ‘Ulûm at-Tanzîl, vol. 2 (Beirut: Syarikah Dar a-Arqam, 1996), 464.

25    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 356.

26    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 356.

27    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 356.

28    Ibnu Katsir, Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, vol. 8, 356.

Categories