
Perjuangan KH Ahmad Dahlan Membendung Arus Sekolah Freemason
MUSTANIR.net – Banyaknya sekolah yang berada dalam pengelolaan Gerakan Kemasonan memunculkan rasa prihatin Muhammad Darwis alias Kiyai Haji Achmad Dahlan, seorang ulama yang dibesarkan di lingkungan Kauman Yogyakarta.
Sejarawan Abdurrachman Surjomihardjo dalam buku sejarah Kota Yogyakarta Tempo Doeloe menjelaskan keprihatinan KH Achmad Dahlan dengan tumbuh suburnya pendidikan netral (neutral onderwijs) bercorak Barat, yang dikelola oleh Gerakan Kemasonan. Selain itu, Kiai Dahlan juga prihatin dengan maraknya sekolah-sekolah Kristen yang mendapat subsidi pemerintah Belanda, yang dalam kerap melakukan upaya kristenisasi. Semua sekolah-sekolah ini, selain mendapat dukungan pemerintah kolonial, juga mendapat dukungan elite pemerintahan setempat yang kebanyakan sudah berada dalam pengaruh Gerakan Kemasonan. [1]
Dukungan pemerintah kolonial terhadap sekolah-sekolah milik Gerakan Kemasonan dan Kristen adalah upaya untuk mendirikan sekolah pribumi yang mampu bersaing dengan pesantren yang menjadi basis pendidikan umat Islam. Tujuan pendidikan netral yang didirikan oleh Gerakan Kemasonan dan menjamurnya sekolah-sekolah Kristen tak lain adalah upaya mematikan peran pesantren.
Pendidikan netral bertujuan menumbuhkan jiwa loyalitas masyarakat pribumi terhadap pemerintah kolonial atau mengubah anak-anak elit Jawa menjadi “bangsawan holland denken” (bangsawan yang berorientasi kebelandaan). Karena itu, untuk mendapatkan kaki tangan yang setia bagi pemerintah kolonial dalam bidang pemerintahan dan jaksa, dibuatlah sekolah pamong praja, Opleiding School voor Inlandsche Ambtenaren Ambtenaren (OSVIA). [2]
Karena prihatin dengan sekolah-sekolah yang membawa misi anti-Islam itu, KH Achmad Dahlan kemudian mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah pada 18 November 1912, yang secara tegas menonjolkan identitas keislamannya. Muhammadiyah mempunyai tujuan: Pertama, “Menjebarkan pengadjaran igama Kandjeng Nabi Muhammad kepada pendoedoek boemipoetra di dalam residentie Djokjakarta.” Ke dua, “Memadjukan hal igama anggauta-anggautanya.” [3]
Sebab-sebab berdirinya Muhammadiyah selain faktor internal, yaitu umat Islam tidak lagi memegang teguh tuntunan al-Qur’an dan Sunnah Nabi dan merajalelanya kemusyrikan, juga disebabkan faktor eksternal, yaitu kesadaran akan bahaya yang mengancam akidah umat Islam yang disebabkan oleh upaya Kristenisasi yang marak saat itu. Faktor eksternal lainnya adalah, merebaknya kebencian di kalangan intelektual saat itu yang menganggap Islam sebagai agama kolot, tidak sesuai zaman. Dan yang terpenting dari sebab berdirinya Muhammadiyah adalah upaya untuk membentuk masyarakat di mana di dalamnya benar-benar berlaku ajaran dan hukum Islam. [4]
Dengan berdirinya Muhammadiyah, KH Achmad Dahlan dan pengajaran dan membendung usaha-usaha Kristenisasi yang didukung holeh pemerintah kolonial lewat kebijakan Kerstening Politiek (Politik Kristensiasi) yang dimulai pada tahun 1910 oleh kelompok konservatif di Nederland dan dilaksanakan oleh Gubernur Jenderal AWF Idenburg. Di antara kebijakan Kerstening Politiek adalah dikeluarkannya “Sirkuler Minggu” dan “Sirkuler Pasar” yang dikeluarkan oleh Gubernur Jenderal pada 1910. Sirkuler Minggu menegaskan bahwa tidak patut mengadakan perayaan kenegaraan pada hari Minggu. Kegiatan pemerintahan pada hari Minggu diliburkan. Sirkuler Pasar melarang diadakannya hari pasaran pada hari Minggu. [5]
Langkah KH Achmad Dahlan dengan mendirikan Persyarikatan Muhammadiyah menurut Dr. Alwi Shihab dalam disertasinya, adalah upaya membendung arus, dari upaya Kristenisasi dan perkembangan Gerakan Kemasonan (Freemason). Alwi menjelaskan, bahwa Freemason di Indonesia digerakkan oleh orang-orang Kristen yang sadar diri dan sangat peduli terhadap penyebaran Injil. Mereka melakukan upaya Kristenisasi, termasuk tentu saja mempropagandakan ajaran-ajaran Freemason. [6]
Alwi Shihab menjelaskan, “Lembaga ini (Freemason) telah berhasil menggaet berbagai kalangan Indonesia terkemuka, dan dengan demikian memengaruhi berbagai pemikiran berbagai segmen masyarakat lapisan atas… Merasakan bahwa perkembangan Freemason dan penyebaran Kristen saling mendukung, kaum Muslim mulai merasakan munculnya bahaya yang dihadapi Islam… Dalam upayanya menjaga dan memperkuat iman Islam di kalangan Muslim Jawa, (Ahmad) Dahlan bersama-sama kawan seperjuangannya mencari jalan keluar dari kondisi yang sangat sulit ini. Untuk menjawab tantangan ini, lahirlah gagasan mendirikan Muhammadiyah. Dari sini, berdirinya Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dari keberadaan dan perkembangan pesat Freemason.” [7]
Selain jawaban terhadap upaya Gerakan Kemasonan dan Kerstening Politiek, berdirinya Muhammadiyah juga sebagai respon dari berbagai pelecehan terhadap Islam yang dilakukan oleh para aktivis kebangsaan yang tergabung dalam Boedi Oetomo. []
Sumber: Artawijaya dalam Bukunya Freemason dan Teosofi: Persentuhannya dengan Elit Modern di Indonesia
[1] Lihat: Abdurrachman Surjomihardjo, Kota Yogyakarta Tempo Doeloe: Sejarah Sosial 1880-1930, Jakarta: Komunitas Bambu, 2008, hlm. 87
[2] Ahmad Mansur Suryanegara, Api Sejarah, hlm. 303-306
[3] Anggaran Dasar Muhammadiyah, Jogjakarta, 1966.
[4] Junus Salam, KH A Dahian Amal dan Perdjoangannja, Djakarta: Depot Pengadjaran Mohammadijah, 1968, hlm. 33-34. Lihat juga, Yusuf Abdullah Puar, Perjuangan dan Pengabdian Muhammadiyah, Jakarta: Pustaka Antara, 1989.
[5] Lihat: Drs. W Poespoprodjo, LPH, SS, Jejak-Jejak Sejarah 1908-1926 Terbentuknya Suatu Pola, Bandung Remadja Karya, 1984, hlm.46-47. Mengenai Kerstening Politik lihat juga, Aqib Suminto, Politik Islam Hindia Belanda, Jakarta: LP3ES, 1985
[6] Dr. Alwi Shihab, Membendung Arus: Repons Gerakan Muhammadiyah terhadap Penetrasi Misi Kristen di Indonesia, Bandung: Mizan, 1998, hlm. 154
[7] Ibid., hlm.154-155
