Makanan Bermerek Porno Bukti Kapitalisme Merusak Moral

Makanan Bermerek Porno Bukti Kapitalisme Merusak Moral

Mustanir.com – Upaya meraup keuntungan pedagang makanan dilakukan lewat banyak cara. Salah satunya adalah pornografi.

Sejumlah pedagang makanan tak ragu menjajakan produknya dengan nama-nama yang kurang pantas misalnya Bikini atau bihun kekinian yang di kemasannya meminta konsumen untuk meremasnya. Atau Makaroni Ngehe sebagai contoh lainnya.

Kepala Bidang Pemenuhan Anak Lembaga Perlindungan Anak Reza Indragiri mengatakan dari perspektif kampanye komersial nama-nama tesebut sudah sempurna alias mudah diingat. Tanpa sadar, namun penamaan sedemikian rupa mencerminkan menurunnya kepekaan terhadap nilai sakral tubuh manusia. Ia menambahkan persepsi orang dewasa akan integritas tubuh (body integrity) sudah menyimpang jauh.

“Tak aneh jika persepsi anak akan hal yang sama juga akan terdistorsi,” katanya, Kamis (3/8).

Reza mengatakan saat ini, hal tersebut boleh jadi masih sebatas kognitif. Tapi dari situ bisa jadi pintu masuk bagi afeksi dan motorik, di mana anak-anak tidak ragu lagi menampilkan tindak-tanduk yang jauh dari integritas tubuh sepatutnya.

“Mulai dari gaya berbusana, gaya relasi antarjenis kelamin, hubungan seksual pra-nikah, dan lain-lain,” tambahnya.

Ia mengatakan hal ini semakin mengenaskan karena ada lebel halal dibungkus merek-merek makan tersebut. Ia berharap lebel halal tidak terkerdilkan hanya sebatas bahan baku produk di dalam kemasan.

“Bukan pada keseluruhan produk. Andai produsen tersebut berupaya mendapat sertifikat halal resmi, saya berharap MUI tidak meloloskannya,” kata Reza. (rol/adj)

YLKI Minta Makanan Bermerk Tak Senonoh Ditarik dari Peredaran

Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi mendesak Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) untuk menegur produsen dan menarik makanan ringan dengan merek tidak senonoh yang dipasarkan melalui toko jual beli daring.

“YLKI menyatakan protes dan meminta produk itu segera ditarik dari peredaran. BPOM harus menegur keras produsennya dan menghentikan penjualan melalui toko jual beli daring,” kata Tulus melalui pesan singkat di Jakarta, Rabu (3/8).

Apalagi, Tulus menyatakan sudah melakukan pengecekan, produk makanan ringan itu belum terdaftar di BPOM. Meskipun mencantumkan logo halal, Tulus menyatakan logo dan penyataan halal tersebut juga palsu.
“Karena itu, Tulus masyarakat tidak udah membeli produk makanan ringan tersebut, apalagi untuk anak-anak,” ujarnya.

Di sebuah toko jual beli daring terkemuka ditawarkan produk makanan ringan dengan merek “Bikini” yang merupakan singkatan dari “Bihun Kekinian”. Tulus menilai produk makanan ringan tersebut sangat tidak edukatif dan tidak senonoh karena pada kemasannya menampilkan ilustrasi tubuh perempuan hanya mengenakan bikini dan tulisan “remas aku”. (rol/adj)

Komentar Mustanir.com

Berbagai cara dilakukan oleh para pengusaha untuk menciptakan merk yang menarik dan bernilai jual. Kadangkala merk yang diciptakan menabrak norma-norma sosial di masyarakat yang ke-Timuran, terlebih melanggar norma agama mayoritas negeri ini yakni Islam.

Merk makanan ringan “bikini” yang sedang marak beredar di beberapa kota di Indonesia, sesungguhnya adalah contoh dari bagaimana Kapitalisme merusak kepekaan moral generasi muda. Bikini tentu saja tidaklah lumrah bagi rakyat Indonesia. Pakaian tersebut adalah pakaian yang memiliki corak kebudayaan Barat yang Liberal.

Secara tidak langsung jika masyarakat me-lumrah-kan adanya makanan ber-merk bikini tersebut, sama saja dengan me-lumrah-kan kampanye kehidupan Liberal ditengah masyarakat pula. Kehidupan Liberal tentu saja adalah kehidupan yang tidak sesuai dengan Islam.

Categories