Haram Membiarkan Palestina Tanpa Pembelaan Kita

MUSTANIR.net – Kembali kita menyaksikan keberanian para pemuda Muslim, khususnya Hamas, dalam berjihad melawan kaum Yahudi penjajah di Palestina. Sejak hari pertama serangan Hamas, tidak kurang dari 5.000 roket ditembakkan dari Gaza ke arah kaum Yahudi penjajah yang telah lama merampas tanah Palestina. Tentu saja serangan Hamas secara mendadak ini banyak memakan korban di pihak Yahudi. Ratusan Yahudi, khususnya para tentara mereka, terbunuh. Ratusan lainnya terluka.

Namun demikian, seperti biasa, pembalasan kaum Yahudi penjajah jauh lebih besar dan lebih brutal. Mereka membabi-buta menyerang warga Palestina. Sebuah sumber koran lokal menyebutkan, serangan brutal Yahudi penjajah tersebut telah menewaskan 770 warga Palestina, termasuk 140 anak-anak dan 120 wanita. Kemungkinan besar jumlah korban dari pihak Palestina akan terus bertambah. Apalagi dikabarkan bahwa Amerika Serikat telah mengirim bantuan militer untuk membantu kaum Yahudi penjajah dalam rangka menumpas perlawanan kaum Muslim Palestina.

Di sisi lain, seperti biasa, tak ada sama sekali bantuan militer dari negara-negara Arab dan Islam untuk membantu kaum Muslim Palestina dalam melawan kaum Yahudi penjajah. Seperti biasa pula, para penguasa Arab dan Islam memilih menjadi pengecut. Mereka hanya berani mengecam. Paling banter mereka hanya menyerukan agar kedua pihak saling menghentikan serangan. Pada saat yang sama, ratusan ribu bahkan jutaan tentara mereka tetap mereka biarkan “menganggur” di barak-barak mereka.

Tanah Palestina Milik Umat Islam

Palestina adalah bagian dari negeri Syam. Syam tak bisa dipisahkan dari ajaran Islam. Syam adalah negeri yang terdiri dari Suriah, Yordania, Libanon dan Palestina (termasuk yang diduduki Israel) saat ini. Rasulullah ﷺ memberikan banyak pujian pada negeri Syam. Di antaranya:

طُوبَى لِلشَّامِ فَقُلْنَا لِأَيٍّ ذَلِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ لِأَنَّ مَلَائِكَةَ الرَّحْمَنِ بَاسِطَةٌ أَجْنِحَتَهَا عَلَيْهَا

“Keberuntungan bagi penduduk Syam,” Kami bertanya, “Karena apa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Karena para malaikat membentangkan sayap-sayapnya kepada mereka (penduduk Syam).” (HR at-Tirmidzi)

Syam juga adalah negeri para nabi. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Para nabi tinggal di Syam. Tidak ada sejengkal pun Kota Baitul Maqdis kecuali seorang nabi atau malaikat pernah berdoa atau berdiri di sana.” (HR at-Tirmidzi)

Di Palestina, sebagai bagian dari negeri Syam, juga terdapat Masjid al-Aqsha. Masjid ini merupakan kiblat pertama kaum Muslim dan tempat singgah perjalanan Isra Mi’raj. Wilayah di sekitarnya juga tempat yang Allah berkahi (Lihat: QS al-Isra’ [17]: 1).

Khusus terkait keutamaan Masjid al-Aqsha, Rasulullah ﷺ bersabda:

ائْتُوهُ فَصَلُّوا فِيهِ فَإِنَّ صَلَاةً فِيهِ كَأَلْفِ صَلَاةٍ فِيمَا سِوَاهُ

Datangilah Masjid al-Aqsha. Lalu shalatlah di dalamnya karena sungguh shalat di sana seperti seribu kali shalat di tempat lain (HR Ahmad).

Rasulullah ﷺ pun bersabda, “Sekali salat di Masjid al-Haram sama dengan 100.000 salat. Sekali salat di Masjidku (di Madinah) sama dengan 1.000 salat. Sekali salat di Masjid al-Aqsha sama dengan 500 salat.” (HR ath-Thabrani dan al-Bazzar)

Masjid al-Aqsha adalah tempat suci ke tiga bagi umat Islam dan satu dari tiga masjid yang Rasulullah ﷺ rekomendasikan untuk dikunjungi. Beliau bersabda, “Tidaklah diadakan perjalanan dengan sengaja kecuali ke tiga masjid: Masjidku ini (Masjid Nabawi di Madinah), Masjid al-Haram (di Makkah) dan Masjid al-Aqsha.” (HR al-Bukhari dan Muslim)

Selain itu Al-Quds di Syam juga merupakan tanah ibu kota Khilafah. Yunus bin Maisarah bin Halbas bahwa Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda,

“Perkara ini (Khilafah) akan ada sesudahku di Madinah, lalu di Syam, lalu di Jazirah, lalu di Irak, lalu di Madinah, lalu di Al-Quds (Baitul Maqdis). Jika Khilafah ada di Al-Quds, pusat negerinya akan ada di sana dan siapa pun yang memaksa ibu kotanya keluar dari sana (al-Quds), Khilafah tak akan kembali ke sana selamanya.” (HR Ibn Asakir)

Fakta lainnya, Palestina adalah tanah air kaum Muslim dan telah berabad-abad menjadi bagian dari wilayah Islam. Kaum Muslim pun terikat dengan Palestina serta Yerusalem karena dua alasan:

Pertama, wilayah Yerusalem telah menjadi bagian dari negeri-negeri Islam dengan status sebagai tanah kharaj sejak era Kekhilafahan Umar bin al-Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu pada tahun 637 M. Setelah peperangan yang berkecamuk selama berbulan-bulan, akhirnya Uskup Yerusalem, Sophronius, menyerahkan kunci Kota Yerusalem kepada Khalifah Umar bin al-Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu secara langsung.

Ke dua, kaum Muslim terikat dengan kaum Nasrani Yerusalem untuk melindungi negeri tersebut lewat Perjanjian Umariyah. Dalam perjanjian tersebut Khilafah berkewajiban memberikan jaminan kepada kaum Nasrani baik terkait harta, jiwa dan ibadah mereka. Khilafah juga diminta untuk tidak mengizinkan orang-orang Yahudi tinggal bersama kaum Nasrani dan kaum Muslim di Yerusalem. Khalifah Umar kemudian menjamin tidak ada satu pun orang Yahudi yang lewat dan bermalam di wilayah tersebut. Perjanjian Khalifah Umar dengan kaum Nasrani Yerusalem ini mengikat kaum Muslim hari ini bahkan hingga akhir zaman.

Dengan alasan inilah, haram hukumnya mengakui keberadaan negara Yahudi penjajah di Palestina. Haram pula mengambil solusi dua negara yang diusulkan PBB dan negara-negara Barat. Semua itu hakikatnya sama dengan mengakui keberadaan kaum Yahudi penjajah di tanah kaum Muslim.

Ironinya, hari ini sejumlah penguasa Arab dan Islam malah mengakui keberadaan negara Israel serta menjalin hubungan diplomatik dan kerja sama lainnya, yaitu Mesir, Yordania, UEA, Arab Saudi, Maroko, Bahrain, Sudan dan Turki.

Wajib Mendukung Jihad di Palestina

Pendudukan kaum Yahudi penjajah atas Palestina bukan sekadar mengakibatkan kematian ratusan ribu warganya, tetapi juga menciptakan penderitaan yang terus-menerus yang dialami jutaan warga lainnya. Dengan demikian masih bercokolnya kaum Yahudi penjajah inilah yang menjadi pangkal persoalan di tanah Palestina dan menyebabkan penderitaan kaum Muslim berkepanjangan.

Karena itu kaum Yahudi penjajah wajib diusir dari tanah Palestina. Mereka hanya bisa diusir dari tanah suci tersebut dengan mengerahkan pasukan militer. Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ

Perangilah mereka di mana saja kalian menjumpai mereka dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (TQS al-Baqarah [2]: 191).

Karena itu sudah sepantasnya para penguasa Arab dan Muslim mengirimkan tentara mereka untuk membantu para mujahidin Palestina dalam mengusir kaum Yahudi penjajah dari negara itu.

Di sisi lain, jihad (berperang melawan musuh) di jalan Allah subḥānahu wa taʿālā adalah amalan yang utama. Rasulullah ﷺ bersabda:

مَوْقِفٌ سَاعَةً فِي سَبِيل اللهِ خَيْرٌ مِنْ قِيَامِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ عِنْدَ الْحَجَرِ اْلْأَسْوَدِ

Berjaga-jaga satu jam di medan perang fi sabilillah adalah lebih baik daripada menghidupkan Lailatul Qadar di dekat Hajar Aswad (HR Ibnu Hibban dan al-Baihaqi).

Karena itu pula, sudah sepantasnya kaum Muslim di mana pun, khususnya para perwira dan prajurit Muslim, menyambut panggilan jihad dari mana pun, termasuk dari Bumi Palestina. Tak sepantasnya mereka berdiam diri dan berpangku tangan.

Pentingnya Khilafah

Jika dihitung sejak pendudukan Israel sekaligus pendirian Negara Yahudi itu di Palestina pada tahun 1948 hingga hari ini, maka Tragedi Palestina sudah berumur sekira 75 tahun. Selama itu pula sudah tak terhitung korban di pihak rakyat Palestina oleh kebiadaban Yahudi tersebut. Kekejaman demi kekejaman yang dilakukan oleh Yahudi terhadap rakyat Palestina seolah tak pernah akan berhenti. Terus berulang dari waktu ke waktu. Bahkan hingga hari ini.

Di sisi lain, tanpa bermaksud meremehkan, jihad yang hanya melibatkan sebagian kaum Muslim Palestina terbukti sampai hari ini belum berhasil mengusir kaum Yahudi penjajah dari Bumi Palestina. Di sisi lain, melibatkan pasukan kaum Muslim dari seluruh dunia untuk membantu mujahidin Palestina juga tidak mudah. Tentu karena adanya penghalang berupa sekat-sekat negara-bangsa yang hakikatnya merupakan buatan kaum penjajah Barat.

Karena itu umat memang membutuhkan seorang khalifah, pemimpin kaum Muslim sedunia. Rasulullah ﷺ telah bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Imam (Khalifah) adalah perisai, di belakang dia kaum Muslim berperang dan berlindung (HR al-Bukhari Muslim).

Khalifahlah yang akan menyerukan sekaligus memimpin langsung pasukan kaum Muslim di seluruh dunia untuk membebaskan tanah Palestina dan menyelamatkan kaum Muslim di sana. Bahkan Khilafah pula yang akan menyelamatkan kaum Muslim di berbagai negeri di mana mereka ditindas. Di sinilah pentingnya umat ini untuk serius dan sungguh-sungguh untuk memperjuangkan kembalinya Khilafah ‘alâ minhâjan-Nubuwwah.

‘Ala kulli hal, haram kita membiarkan kaum Muslim Palestina menderita tanpa pembelaan kita. Haram pula kita membiarkan Palestina tetap dikuasai kaum Yahudi penjajah. Sebabnya, jika kita hanya diam, berarti kita telah berkhianat kepada bangsa Palestina, saudara sesama Muslim; berkhianat kepada Umar bin al-Khaththab raḍiyallāhu ‘anhu yang telah membebaskan Tanah Palestina untuk pertama kalinya; berkhianat kepada Sultan Abdul Hamid II dan para Khalifah yang beratus-ratus tahun mempertahankan Bumi Palestina; berkhianat kepada para syuhada yang telah mempersembahkan darah dan nyawanya demi kemerdekaan Palestina; bahkan berkhianat kepada Allah subḥānahu wa taʿālā dan Rasul-Nya yang telah menetapkan Palestina sebagai tanah milik kaum Muslim.

WalLâhu a’lam bi ash-shawâb. []

Sumber: Buletin Kaffah

About Author

Categories