Berusaha Melanjutkan Kehidupan Islam vs Sekadar Mendirikan Negara

MUSTANIR.net – Melanjutkan kehidupan Islam bukanlah perebutan kekuasaan untuk membentuk rezim yang berupaya menerapkan Islam. Kemunduran umat Islam berakar pada kemerosotan taraf berpikir kolektif mereka.

Mereka telah kehilangan hubungan dengan Allah subḥānahu wa taʿālā, karena salah memahami Islam dan bagaimana penerapannya dalam kehidupan. Sebagai gantinya, mereka mengadopsi ide-ide yang asing bagi agama. Akibatnya, mereka mendapati diri mereka seperti lalat di jaring laba-laba yang tak mampu lepas, betapa pun kerasnya mereka berjuang.

Mendirikan negara ideologis bukan sekadar merebut kekuasaan atau menyebarkan ide-ide yang benar. Hal ini membutuhkan penghancuran konsep-konsep yang salah dan pengembangan pandangan dunia yang jelas dan koheren yang membentuk pemikiran, nilai-nilai, dan visi masyarakat.

Tanpa fondasi ideologis ini, bahkan jika suatu gerakan menguasai lembaga-lembaga negara, dengan dukungan rakyat maupun paksaan, gerakan tersebut akan kesulitan menyatukan hati dan pikiran rakyat. Hasilnya sering kali berupa sistem yang rapuh, rentan terhadap infiltrasi, konflik internal, dan pada akhirnya kehancuran.

Kita melihat hal ini dalam kasus yang disebut Revolusi Islam di Iran. Terlepas dari retorika Islamnya, ketiadaan keyakinan ideologis yang mendalam di antara sebagian masyarakat, dan bahkan di dalam kepemimpinannya, telah menghasilkan keragu-raguan, kekecewaan, dan campur tangan asing di berbagai tingkatan. Sebuah revolusi tanpa keyakinan sosial yang kuat akan menjadi hampa dan tidak stabil.

Pada akhir 1990-an dan awal 2000-an, melemahnya dakwah ideologis, karena stagnasi, ketakutan akan penindasan, maupun pergeseran ke arah tujuan jangka pendek, secara serius merusak upaya untuk membentuk inti intelektual yang kuat yang darinya kebangkitan Islam sejati dapat muncul. Ini adalah topik yang sensitif, tetapi konsekuensinya terlihat saat ini dan tidak dapat diabaikan.

Kebangkitan sejati menuntut kejernihan berpikir, keyakinan yang luas, dan kesabaran strategis. Nabi ﷺ di Madinah meletakkan fondasi ideologis sebelum lembaga negara apa pun didirikan. Gerakan yang berhasil membangun pola pikir sebelum membangun struktur. Tanpa itu, setiap upaya mendirikan negara Islam berisiko menjadi sekadar rezim biasa, yang tidak memiliki kedalaman, ketahanan, dan substansi Islam sejati.

Khilafah memang sebuah kewajiban, tetapi kita harus ingat bahwa Nabi ﷺ tidak memulai dengan kekuasaan, melainkan dengan dakwah, dengan membangun kejelasan, keyakinan, dan persatuan dalam pemikiran. Otoritas tanpa fondasi ini menjadi beban, bukan solusi.

Menegakkan kembali khilafah tanpa mengatasi kekosongan ideologis dalam umat berisiko menciptakan rezim tirani, bukan negara Islam sejati. Tujuan dakwah saat ini adalah untuk melanjutkan kehidupan Islam, bukan sekadar merebut kekuasaan. []

Sumber: Abdul Hafeez

About Author

Categories