Dua Kekuatan Pengemban Dakwah di Era Ketidakpastian dan Krisis

MUSTANIR.net – Belakangan kita merasakan hidup yang makin sulit, era ketidakpastian global, krisis dan tekanan hidup, serta kegelapan dunia yang kian pekat. Umat Islam semakin terdampak kerusakan masyarakat, akibat kezaliman dan korupsi penguasa yang menerapkan sistem jahiliyah kapitalisme.

Kebodohan dan kebekuan pemikiran juga mewarnai umat yang berimbas pada dinginnya respons bahkan penolakan dakwah. Kondisi ini acap kali membuat para aktivis dakwah cenderung pesimis dalam dakwah. Sebagian di antara mereka tak sedikit bersikap playing victim, merasa menjadi korban sistem, menyalahkan orang lain dan terpuruk dengan keadaan.

Sindrom ini terjadi pada aktivis dakwah ketika mereka mengizinkan ‘realitas yang rusak’ mendefinisikan perjuangan mereka. Mereka lupa bahwa ada dua kekuatan yang menjadi esensi perjuangan dakwah yakni iman dan kekuatan tsaqofah Islam.

• Pertama, iman menuntut mereka tidak boleh berputus asa dari rahmat Allah, sebagaimana firman Allah ta’ala

۞ قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِۗ اِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًاۗ اِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ۝٥

“Katakanlah (Nabi Muhammad), “Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS az-Zumar: 53)

Ayat ini memuat pesan bahwa tidak selayaknya kaum mukmin itu mudah pesimis, apalagi ia adalah seorang pengemban dakwah. Rahmat Allah itu teramat luas dan keyakinan akan pertolongan Allah seharusnya menjadi pusat kesadaran para aktivis dakwah.

Inilah kekuatan iman, kekuatan paling mendasar yang harus selalu diaktivasi agar pengemban dakwah tidak mudah terpengaruh dengan realitas hidup yang berat dan gelap. Bekunya pemikiran umat seharusnya membuat mereka yakin bahwa akan selalu ditemukan mutiara di tengah umat yang siap membersamai dakwah, meski tidak mudah, karena ia yakin pada setiap kesulitan akan selalu ada dua kemudahan.

Iman harus selalu hadir dalam amal—tidak boleh hilang ataupun absen. Kaidah beramal yang diajarkan oleh Islam yaitu hendaknya suatu perbuatan didasarkan pada suatu pemikiran dan tujuan tertentu. Kemudian juga harus didasarkan pada keimanan, sehingga seseorang tetap berjalan dalam suasana iman secara terus menerus.

• Ke dua, adalah kekuatan tsaqofah Islam.

Tsaqofah bukan ilmu biasa, ia adalah ilmu agama yang istimewa karena sebab pembahasannya adalah aqidah Islam yang khas. Khazanah tsaqafah Islam memiliki kemampuan luar biasa membentuk mindset dan mentalitas luhur pada setiap manusia yang sungguh-sungguh mengkajinya.

Terutama karena kemampuan tsaqafah dalam mengasah dan membentuk kepribadian seseorang yang dinamakan sebagai proses pembinaan (at-tatsqiif). Sementara ilmu hanya memiliki kemampuan memberikan informasi dan wawasan seseorang yang sering disebut dengan proses ta’lim.

Tsaqofah bahkan bisa berfungsi sebagai kekuatan pengurai masalah, karena itu seseorang yang bercita-cita melakukan perubahan masyarakat dan kebangkitan umat harus mampu memberi nyawa pada setiap tsaqafah yang dikajinya, agar tidak sekadar menjadi tumpukan tsaqafah atau perpustakaan berjalan. []

Sumber: Dr. Fika Komara

About Author

Categories