Mengenali dan Meneladani Para Shahabat

Mengenali dan Meneladani Para Shahabat

Mustanir.com – Disebutkan dalam sejarah, seorang sahabat mulia Zaid bin ad-Datsinah yang keluarganya adalah Quraisy, ia ditawan oleh Quraisy untuk dibunuh, maka berkata Abu Sufyan kepadanya, “Wahai Zaid, semoga Allah menguatkanmu, apakah engkau senang bila Muhammad menggantikan posisimu sekarang untuk dipenggal kepalanya sedang engkau duduk manis bersama keluargamu? Spontan Zaid menjawab, “Demi Allah, sungguh apakah aku senang bila Muhammad sekarang tertusuk duri di tempatnya, sedang aku bersenang-senang bersama keluargaku.” Abu Sufyan pun mengatakan, “Saya tidak melihat seorang pun yang kecintaannya melebihi kecintaan sahabat-sahabat Muhammad kepada Muhammad.”

Demikianlah salah satu gambaran kecintaan para sahabat kepada Nabinya.

Seorang muslim seharusnya sudah mengetahui bahwa dalam beribadah hendaknya berdasarkan keikhlasan dan mengikuti apa yang Nabi ajarkan. Keikhlasan ini hadir dengan memurnikan ibadah hanya kita tujukan kepada Allah. Adapun mengikuti apa yang Rasulullah ajarkan, maka senantiasa meneliti dan mempelajari apakah ibadah yang kita lakukan itu benar-benar telah ada landasan dan ajarannya dari Rasulullah. Kalau ada, maka kita lanjutkan ibadah kita, tetapi jika tidak ada tuntunannya, maka kita tinggalkan. Lalu bagaimanakah kita mengetahui bahwa ibadah ini diajarkan oleh Nabi kita atau tidak? Salah satunya adalah dengan senantiasa belajar dan senantiasa mengikuti manhaj para Sahabat Nabi yang kita semua mengetahui bahwa mereka telah belajar langsung dari Rasulullah.

Pengertian Sahabat
Ibnu Hajar al-Asqalaniy mengatakan bahwa sahabat adalah orang yang bertemu Nabi baik itu lama atau sebentar, beriman kepadanya dan meninggal dalam keadaan Islam, atau yang meriwayatkan hadits maupun tidak, yang berperang bersama Nabi atau tidak, atau yang hanya melihat Rasulullah tetapi tidak bergaul ataupun yang tidak bisa melihat Nabi karena buta. (al-Ishabah fi Tamyizi as-Shahabah, Ibnu hajar, Maktabah Syamilah)

Keutamaan Sahabat
Banyak ayat dalam al-Qur’an yang menjelaskan keutamaan sahabat Nabi, di antaranya,
Allah berfirman, artinya, “Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imran: 110).

Allah juga berfirman, artinya, “(Juga) bagi orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan dari harta benda mereka (karena) mencari karunia dari Allah dan keridhaan-Nya dan mereka menolong Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshar) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshar) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung.” (QS. al-Hasyr: 8-9).

Rasulullah bersabda,

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah mereka yang hidup di zamanku, kemudian yang datang setelah mereka, kemudian yang datang setelahnya lagi …” (HR. al-Bukhari, no. 2652 dan Muslim, no. 2533).

Harus Mengikuti Manhaj Mereka
Mengikuti sahabat adalah keniscayaan, karena mereka yang menjadi perantara kaum muslimin dengan Nabi Muhammad, yang mendakwahkan agama ini dan menyampaikan hadits-hadits Nabi. Orang yang menyelisihi apa yang diajarkan para sahabat, maka sesungguhnya ia telah tersesat.

Oleh karena itu kaum muslimin harus berjalan di atas jalan hidup para sahabat sebagaimana ditegaskan di dalam nash-nash al-Qur’an dan hadits. Di antaranya, yaitu,

Firman Allah, artinya, “Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.” (QS. at-Taubah: 100)

Rasulullah bersabda,

أُوصِيكُمْ بِتَقْوَى اللَّهِ وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ عَبْدًا حَبَشِيًّا فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِى فَسَيَرَى اخْتِلاَفًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Aku wasiatkan kalian agar bertakwa kepada Allah. Lalu mendengar dan taat kepada pemimpin, meskipun dari kalangan budak Habasyah. Sungguh orang yang hidup sepeninggalku akan melihat perselisihan yang banyak. Maka wajib bagi kalian untuk mengikuti sunnahku dan sunnah khulafa ar-Rasyidin yang mereka telah diberi petunjuk. Berpegang teguhlah dan gigitlah ia dengan gigi geraham.” (HR. Abu Daud, no.4609)

Dari Abdurrahman bin Abdi Rabbil Ka’bah berkata,

دَخَلْتُ الْمَسْجِدَ فَإِذَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ جَالِسٌ فِى ظِلِّ الْكَعْبَةِ وَالنَّاسُ مُجْتَمِعُونَ عَلَيْهِ فَأَتَيْتُهُمْ فَجَلَسْتُ إِلَيْهِ فَقَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى سَفَرٍ فَنَزَلْنَا مَنْزِلاً فَمِنَّا مَنْ يُصْلِحُ خِبَاءَهُ وَمِنَّا مَنْ يَنْتَضِلُ وَمِنَّا مَنْ هُوَ فِى جَشَرِهِ إِذْ نَادَى مُنَادِى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- الصَّلاَةَ جَامِعَةً. فَاجْتَمَعْنَا إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ « إِنَّهُ لَمْ يَكُنْ نَبِىٌّ قَبْلِى إِلاَّ كَانَ حَقًّا عَلَيْهِ أَنْ يَدُلَّ أُمَّتَهُ عَلَى خَيْرِ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَيُنْذِرَهُمْ شَرَّ مَا يَعْلَمُهُ لَهُمْ وَإِنَّ أُمَّتَكُمْ هَذِهِ جُعِلَ عَافِيَتُهَا فِى أَوَّلِهَا وَسَيُصِيبُ آخِرَهَا بَلاَءٌ وَأُمُورٌ تُنْكِرُونَهَا

“Sewaktu aku masuk ke masjidil haram, kudapati Abdullah bin Amru bin Ash sedang duduk berteduh di bawah Ka’bah, sedangkan di sekelilingnya ada orang-orang yang berkumpul mendengarkan ceritanya. Lalu aku ikut duduk di majelis itu dan kudengar ia mengatakan, “Suatu ketika kami bersama Rasulullah dalam suatu safar. Ketika kami singgah di sebuah tempat, di antara kami ada yang sibuk membenahi kemahnya, ada pula yang bermain panah, dan ada yang sibuk mengurus hewan gembalaannya. Tiba-tiba penyeru Rasulullah berseru lantang, “Marilah shalat berjamaah!!!”, maka segeralah kami berkumpul di tempat Rasulullah lalu beliau bersabda, “Sesungguhnya tak ada seorang Nabi pun sebelumku, melainkan wajib baginya untuk menunjukkan umatnya akan setiap kebaikan yang ia ketahui; dan memperingatkan mereka dari setiap kejahatan yang ia ketahui. Sesungguhnya umat kalian ini adalah umat yang keselamatannya ada pada generasi awalnya; sedangkan generasi akhirnya akan mengalami bala ‘dan berbagai hal yang kalian ingkari …” (HR. Muslim, no. 4882).

Abdullah bin Mas’ud berkata,

إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى نَظَرَ فِي قُلُوبِ الْعِبَادِ فَاخْتَارَ مُحَمَّدًا صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَبَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، وَانْتَخَبَهُ بِعِلْمِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوبِ النَّاسِ فَاخْتَارَ أَصْحَابَهُ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَأَنْصَارَ دِينِهِ، فَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ حَسَنًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ حَسَنٌ، وَمَا رَآهُ الْمُؤْمِنُونَ قَبِيحًا فَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ قَبِيحٌ

“Allah Ta’ala memperhatikan hati-hati hamba-Nya, lalu Ia memilih Muhammad dan mengutusnya dengan risalah. Allah memperhatikan hati-hati manusia, lalu Ia memilih para sahabat Nabi, kemudian menjadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya dan pembela agama-Nya. Maka segala sesuatu yang dipandang baik oleh kaum Mu’minin -yaitu Rasulullah dan para sahabatnya-, itulah yang baik di sisi Allah. Maka segala sesuatu yang dipandang buruk oleh kaum Mukminin, itulah yang buruk di sisi Allah” (HR. at-Thabrani dalam Mu’jam al-Kabir, no. 8504)

Imam Malik berkata,

لَنْ يَصْلُحَ آخرُ هَذهِ الأمةِ إِلاَّ بما صَلُحَ بهِ أَوَّلها فَمَا لَمْ يَكُنْ يوْمئذ دينا لاَ يَكُونُ اليَوم دِينا

“Generasi terakhir umat ini tak akan menjadi baik (shalih), kecuali dengan apa-apa yang menjadikan generasi pertamanya baik. Karenanya, apa pun yang pada hari itu (zaman sahabat Nabi) tidak dianggap sebagai agama, maka hari ini pun juga bukan bagian dari agama” (lihat Asy Syifa bita’rifi Huquqil Musthafa, 2/88)

Demikianlah beberapa dalil tentang keharusan mengikuti jalan hidup para Sahabat Nabi. Semoga tulisan ini bermanfaat dan umat tidak terjerumus jauh dari jalan yang lurus, amin. (SUMBER)

Categories