Meningkatnya Pasangan Tanpa Anak Membuat Dunia Khawatir

aging-nation

Meningkatnya Pasangan Tanpa Anak Membuat Dunia Khawatir

Mustanir.com – Menurunnya populasi di negara-negara maju menciptakan kekhawatiran di kalangan pemimpin di seluruh dunia, dan mendorong upaya pemerintah melalui kampanye yang tampak sebagai putus asa.

Hal itu terlihat pada iklan di Denmark yang mendorong prokreasi, dan Paus Fransiskus menyebutnya sebagai ‘’budaya bebas anak yang membuat masyarakat depresi”, seperti dilaporkan situs Christian Examiner.

Lakukan Untuk Denmark

Sebuah laporan pemerintah Denmark tahun 2013 menjelaskan angka kelahiran di negara itu “sangat rendah” sehingga pejabat meluncurkan kampanye “Do it for Denmark” (Lakukan untuk Denmark). Kampanye mendorong pasangan untuk menikah untuk meningkatkan jumlah warga negara. Situs kencan juga telah dibuat dan perawatan anak disediakan bagi mereka yang memiliki anak kedua.

Dengan tingkat kesuburan total 1,7 anak per perempuan usia subur, proyeksi kependudukan menunjukkan populasi akan memuncak pada tahun 2034 dan kemudian merosot. Tingkat kesuburan 2,1 diperlukan untuk mempertahankan populasi dengan tidak ada pertumbuhan penduduk dan tidak ada penurunan. Sebab, pada dasarnya, setiap perempuan melahirkan anak untuk menggantikan dia dan suaminya.

Kekhawatiran meningkat sehingga Denmark mengubah kurikulum pendidikan seks-nya. Menurut New York Times, selain topik tentang seks yang aman dan bagaimana mencegah kehamilan, konten kurikulum juga ditambah  materi untuk memberitahu bagaimana untuk hamil.

Namun demikian, Denmark hanya satu dari sekitar setengah negara di dunia yang menghadapi depopulasi. PBB pada 2013 mengumumkan perkiraan 48 persen populasi dunia sekarang tinggal di negara-negara yang “rendah tingkat kesuburannya”. Populasi rendah kesuburan terbesar ada di China (Tiongkok), Amerika Serikat, Brasil, Federasi Rusia, Jepang dan Vietnam.

Kampanye untuk meningkatkan populasi denmark. (Foto: ist)

Hilangnya Gairah di Jepang

Jepang menunjukkan pergeseran yang paling dramatis dalam tren populasi, dan berada pada rekor terrendah, menurun ke tingkat yang sama yang tercatat pada tahun 2000. Penyebabnya adalah pasangan Jepang tidak lagi intim.

Asosiasi Keluarga Berencana Jepang melaporkan hasil survei pada Januari 2015 dan menunjukkan bahwa hampir 50 persen dari semua orang dewasa Jepang tidak berhubungan seks. Wanita mengeluh bahwa eks “mengganggu” (23,8 persen) dan mereka terlalu lelah akibat pekerjaan (17,8 persen).

Kaum pria juga menyalahkan kelelahan sebagai faktor tidak intim (21,3 persen) dan kelompok lain mengatakan mereka tidak tertarik setelah istri mereka melahirkan (15,7 persen).

Lebih buruk lagi, perilaku sosial nasional mnunjukkan bertumbuhnya kelompok muda (sekitar 20 persen dari laki-laki berusia 25 sampai 29 tahun) memiliki sedikit atau tidak ada aktivitas seks, kata laporan itu.

Hasilnya adalah pasangan yang tidak memiliki anak yang dibuktikan dengan tingkat kesuburan total  hanya 1,4. Itu berarti penduduk akan turun dari 127 juta jiwa saat ini menjadi sekitar 84 juta pada tahun 2060 dan hanya 42 juta pada tahun 2110.

Penduduk Jepang: kelelahan akibat kerja dipersalahkan. (Foto: Ist)

Pria Tanpa Istri di China

China yang sekarang menjadi negara paling padat penduduknya di dunia, juga menghadapi penurunan populasi. Sebagian besar akibat kebijakan satu anak yang dibuatnya sendiri. Angka kesuburan perempuan di sana berada pada tingkat di bawah tingkat penggantian, 1,7 anak per perempuan usia subur. Masalah lain, banyak yang melakukan aborsi, dan seks selektif yang mengakibatkan ketidakseimbangan jenis kelamin: 116 anak laki-laki yang lahir untuk setiap 100 anak perempuan.

Kondisi ini berarti, secara matematis, 14 persen pria kemungkinan tidak akan mendapatkan kesempatan dalam pernikahan. Saat ini, sosiolog memprediksi akan ada 30 juta orang dewasa pada tahun 2020 (hanya 5 tahun lagi), yang tidak memiliki prospek pernikahan dengan perempuan China akibat perbedaan populasi dalam jenis kelamin.

China akan mengalami penurunan jumlah penduduk menjadi sekitar 1,4 miliar jiwa pada tahun 2025, turun menjadi satu miliar pada tahun 2100, menurut data PBB.

Yang serius, setelah mencapai puncak jumlah populasi, akan ada penurunan penduduk usia kerja (16-59 tahun). Penurunan sudah terjadi dalam tiga tahun terakhir sebesar 3,71 juta (2014),  2,44 juta pada 2013 dan 3,45 juta pada tahun 2012, menurut laporan Bloomberg News. Hal ini bisa menjadi bencana  sosial dan ekonomi.

Kondisi serupa terjadi di India, negara dengan kepadatan penduduk terbesar kedua. Bahkan India diperkirakan akan mengambil alih posisi China sebagai negara yang paling padat penduduknya sekitar tahun  2025 sebelum kemudian menurun pada 2060. India menghadapi  kesenjangan jender yang sama, karena lebih banyak laki-laki dan menurunnya tingkat kesuburan. Padahal India dan China merupakan 37 persen penduduk dunia.

Kekacauan sosial mungkin terjadi karena orang tidak mendapatkan istri, dan tekanan ekonomi ikut bermain akibat tidak cukup tenaga kerja untuk menopang hidup penduduk yang masih sangat muda dan sudah terlalu tua. Padahal keuntungan tenaga kerja adalah lokomotif ekonomi untuk kedua negara sekarang ini.

Penduduk China: Masalah pada kertidakseimbangan jender. (Foto: ist)

Moralitas di Tempat Kerja

Pada akhirnya masalah kependudukan berpusar pada upaya mengejar kesuksesan pribadi dan pemenuhan itu swebagai “penipuan diri,” menurut tulisan opini yang diterbitkan oleh Damon Linker, koresponden senior untuk TheWeek.com, awal bulan ini, seperti dikutip Christian Examiner.

Linker, baru-baru ini menanggapi sebuah artikel New York Times dan buku “Selfish, Shallow, and Self-Absorbed: Sixteen Writers on the Decision Not to Have Kids”  yang menyebutkan bahwa  akar penyebab masalah kritis egosentris ini adalah “kemiskinan konsep moral kita.”

Linker sejauh itu menyeru pasangan tanpa anak sebagai “hedonis” yang mengejar kesenangan yang didapat dalam “imbalan materi bersama dengan kepuasan diri yang mengikutinya dalam mencapai status sosial tinggi melalui kemajuan karir.”

Categories