
Naluri Purba Diganti dengan Mempersatukan Antar Bangsa
MUSTANIR.net – Naluri untuk berkelompok dengan yang satu ras adalah naluri paling purba yang dimiliki setiap mahluk. Singa akan berkelompok dengan singa. Hyena dengan hyena. Serigala dengan serigala. Singa, hyena, atau serigala akan setia bertarung membela anggota kelompoknya.
Pemimpin serigala tak akan bertanya apakah anggotanya benar atau salah. Asal sesama serigala pasti akan dibela. Naluri setia pada ras itu tak hanya ada pada binatang. Masyarakat Quraisy sebelum Rasulullah juga mati-matian membela anggota sukunya tanpa pertimbangan benar salah.
Arab jahiliyah, saat Rasul ﷺ diutus, berpaham kesukuan dan kebangsaan. Salah ataupun benar, asal sesuku sebangsa harus dibela sampai mati. Kesetiaan jahiliyah adalah kesetiaan pada suku dan bangsa.
Setelah Rasul ﷺ diutus, cahaya Islam itu datang. Segala naluri manusia diarahkan dalam kendali ilmu islam. Sehingga semua terarah di jalan yang lurus. Perasaan keterikatan tidak lagi disandarkan pada keterikatan purba berupa ikatan suku atau kebangsaan.
Ikatan purba itu oleh Rasulullah diganti dengan ikatan aqidah, ikatan kebenaran. Ikatan aqidah adalah sebuah ikatan yang seribu kali lebih kuat dibanding ikatan purba suku dan bangsa.
Awal Daulah Madinah berdiri, Rasul ﷺ mempersaudarakan Aus dan Khazraj, Muhajirin dan Ansor. Bahkan Romawi dan Persi dengan simbol bersatunya Suhaib ar Rumi dan Salman al Farisi dalam tali aqidah Islam.
Kesetiaan kepada bangsa adalah kesetiaan pada warna kulit. Sedangkan kesetiaan kepada aqidah adalah kesetiaan pada kebenaran, al Haq.
Untuk menjadi setia pada bangsa, tak butuh akal. Para binatang secara naluriah akan setia pada bangsanya. Namun manusia yang telah dianugerahi akal, semestinya dipergunakan untuk berpikir menemukan kebenaran, untuk kemudian setia pada kebenaran itu.
Rasul mengubah kesetiaan pada bangsa menjadi kesetiaan pada aqidah. Sampai orang-orang kafir kembali meruntuhkan kesetiaan muslimin kepada aqidah, untuk dikembalikan kepada kesetiaan jahiliyah. []
