Tak Usah Koar-koar Khilafah, Nanti Khilafah Juga Tegak Sendiri?

MUSTANIR.netAneh, mengakui bahkan meyakini khilafah akan tegak kembali tapi alergi terhadap dakwah khilafah. Bahkan menyebut aktivitas dakwah khilafah yang agung dengan ungkapan peyoratif, dengan stempel ‘koar-koar’. Ya, meskipun tak penting ditanggapi tapi penulis justru ingin menegaskan pentingnya koar-koar (baca: dakwah) khilafah.

Dahulu ketika Muhammad ﷺ diangkat menjadi Nabi dan Rasul, beliau langsung berdakwah. Mulanya dakwah beliau dilakukan secara sirri (sembunyi, rahasia). Beliau hanya berdakwah dalam ranah privat, mendakwahi istri beliau dan para sahabat dekat beliau.

Bahkan pada periode awal, beliau membina para sahabat di Darul Arqam secara senyap. Istilahnya, sendal yang datang pun harus dibungkus dan dibawa masuk agar tidak terendus intelejen kafir Quraisy.

Namun begitu turun ayat al-Qur’an yang memerintahkan dakwah secara terbuka, Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

فَاصْدَعْ بِمَا تُؤْمَرُ وَاَعْرِضْ عَنِ الْمُشْرِكِيْنَ

Faṣda’ bimā tu’maru wa a‘riḍ ‘anil-musyrikīn(a).

“Maka sampaikanlah (Muhammad) secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang yang musyrik.”

(QS al-Hijr: 94)

Setelah turun ayat ini maka dakwah Rasulullah memasuki fase baru. Dari dakwah era bisik-bisik, menuju era koar-koar. Dari dakwah secara sembunyi-sembunyi, menuju dakwah secara terbuka dan terang-terangan. Dakwah yang menantang rezim dan sistem kufur secara terbuka.

Bahkan Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk menunjukan eksistensi dakwah dan keislamannya secara terbuka. Para sahabat keluar beramai-ramai mengadakan masyirah (era sekarang: demonstrasi), menjadi dua barisan. Barisan pertama dipimpin Umar raḍiyallāhu ‘anhu dan barisan lainnya bersama Hamzah raḍiyallāhu ‘anhu, hingga mendatangai masjid. Quraisy melihat Umar dan Hamzah, dan mereka merasa mendapatkan pukulan berat saat itu.

Rasulullah langsung menghantam dan membongkar makar rezim Quraisy, dengan membacakan surat al-Lahab. Surat ini benar-benar menjatuhkan kredibilitas Abu Lahab sebagai pembesar Quraisy, bahkan menegaskan tempat Abu Lahab dan istrinya di neraka. Rasulullah mencela berhala yang disembah bangsa Arab, dan membongkar kejahilan akidah mereka.

Era dakwah koar-koar itulah yang menjadikan Islam opini umum di kalangan masyarakat Mekah dan akhirnya sampai opininya ke Madinah. Dakwah koar-koar itulah yang menyebabkan Islam sampai di Madinah. Rasulullah mengutus Mus’ab bin Umair ke Madinah, masyarakat Madinah menerima Islam dan menyerahkan kekuasaan Madinah kepada Rasulullah melalui Bai’at Aqabah II.

Jadi, hari ini dakwah khilafah itu sudah sampai pada tahap koar-koar, terbuka, terang-terangan. Bukan dakwah yang hanya bisik-bisik, karena era bisik-bisik telah berlalu.

Dakwah khilafah pertama kali digerakkan oleh Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani pada tahun 1953 di Palestina dengan mendirikan partai politik Hizbut Tahrir. Saat itu dakwah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.

Namun saat ini dakwah khilafah telah memasuki era terbuka. Dakwah khilafah harus koar-koar agar opininya menjangkau seluruh umat dan para jenderal militer dan yang memiliki kekuatan. Karena kekuasaan itu tegak di atas dua pilar, yakni umat dan pemilik kekuatan (ahlul quwwah).

Kalau dakwah khilafah hanya dilakukan secara bisik-bisik, apalagi dengan metode empat mata ala Tukul Arwana, kapan akan tercipta opini umum dan kesadaran umum tentang urgensi dan kewajiban menegakkan khilafah? Kalau umat tidak paham kewajiban dan urgensi khilafah, bagaimana mungkin mereka akan memperjuangkan khilafah? Kalau khilafah tidak diperjuangkan, bagaimana mungkin khilafah akan tegak?

Khilafah akan tegak kembali, itu janji Allah. Khilafah tegak pasti terjadi, karena itu bagian dari takdir Allah subḥānahu wa taʿālā.

Perjuangan khilafah adalah bagian dari sunatulah untuk menegakan khilafah. Sebagaimana dahulu ketika Rasulullah mengabarkan Konstantinopel akan ditaklukkan, para sahabat dan generasi berikutnya terus berjuang untuk mewujudkan. Bukan hanya diam dan berpangku tangan. Akhirnya, penaklukan itu terjadi pada era Muhammad al-Fatih.

Hari ini perjuangan khilafah itu wajib mengikuti perilaku Nabi ﷺ. Dahulu Nabi berjuang dengan koar-koar, mendakwahkan Islam secara terbuka. Sampai Nabi dilempari kotoran dan diteriaki orang gila. Nabi juga pernah diboikot 2 tahun karena koar-koar mendakwahkan Islam.

Jadi apa pun risikonya hari ini, umat Islam harus koar-koar khilafah. Bukan diam bahkan koar-koar demokrasi. Kapan lagi khilafah akan diperjuangkan oleh umat jika tak ada yang mendakwahkan?

Musuh Islam akan tahu? Ya iyalah, karena dakwah terbuka itu ya pasti diketahui musuh. Sebagaimana dakwah Nabi ﷺ yang juga diketahui para kafir Quraisy.

Musuh akan menghalangi dakwah khilafah? Ya iyalah, karena dahulu Nabi ﷺ juga dihalangi dakwahnya oleh kafir Quraisy. Jadi kalau hari ini dakwah khilafah dimusuhi oleh orang kafir dan munafik, biasa saja.

Namun akhirnya, dakwah khilafah ini akan dimenangkan, sebagaimana dakwah Rasulullah juga akhirnya dimenangkan. Pertolongan Allah subḥānahu wa taʿālā akan menjadi syarat kemenangan itu, dan untuk mendapatkan pertolongan ya khilafah harus didakwahkan. Harus koar-koar, bukan malah sembunyi apalagi bungkam.

Yang aneh itu mengaku muslim, tidak mendakwahkan khilafah, tapi malah menghalangi dakwah khilafah. Meledek dakwah khilafah sebagai koar-koar. Memangnya yang koar-koar demokrasi hasilnya apa? Demokrasi selalu berulang kali mengkhianati umat Islam di negeri ini, juga kaum muslimin di berbagai negeri lainnya. []

Sumber: Ahmad Khozinudin

About Author

Categories