Hinanya Negara-negara Muslim!

MUSTANIR.netWahn dan Board of Peace: Ketika Cinta Dunia Mengalahkan Keberanian Membangun Peradaban

Ada satu konsep klasik dalam khazanah Islam yang terlalu sering dipahami secara moralistik, padahal sesungguhnya sangat struktural dan politis: wahn.

Rasulullah menyebutnya sebagai hubb ad-dunya wa karahiyat al-mawt—cinta dunia dan takut kehilangan. Dalam konteks kontemporer, wahn bukan sekadar kerakusan individual, melainkan mentalitas kolektif yang membentuk pilihan kebijakan, orientasi ekonomi, dan sikap geopolitik negara-negara Muslim hari ini.

Board of Peace yang ditawarkan Donald Trump—dan disambut sebagian elite negara Muslim—adalah manifestasi paling telanjang dari wahn versi modern. la dibungkus dengan bahasa stabilitas, keamanan, dan “kesempatan ekonomi”, tetapi substansinya sederhana: mengamankan posisi hari ini, meski dengan mengorbankan kemungkinan esok hari.

Negara-negara Muslim tidak bergabung ke Board of Peace karena tidak punya alternatif ekonomi. Mereka bergabung karena takut kehilangan akses pasar, takut tarif naik, takut modal keluar, takut dianggap tidak kooperatif. Ini bukan rasionalitas pembangunan jangka panjang; ini adalah rasionalitas status quo survival—logika cinta dunia yang ingin aman sekarang, meski harus rela selamanya berada di bawah.

Secara kuantitatif, ketakutan ini ironis. Dunia Muslim menguasai seperempat populasi dunia, memiliki GDP PPP yang jika digabung setara-bahkan berpotensi melampaui—Amerika Serikat, dan mencatat pertumbuhan ekonomi rata-rata dua kali lipat negara maju. Namun alih-alih memanfaatkan keunggulan ini untuk membangun tatanan industri dan perdagangan mandiri, banyak elite justru memilih jalan termudah secara politik, tetapi termiskin secara historis: menempel pada arsitektur global yang dibangun orang lain.

Inilah wahn dalam bentuk negara.

Board of Peace menjanjikan “keamanan ekonomi” melalui penurunan tarif, stabilitas geopolitik, dan relasi baik dengan Washington. Tetapi dalam ekonomi politik internasional, keamanan tanpa kedaulatan produksi adalah ilusi.

Tarif nol persen ke Amerika tidak mengubah fakta bahwa struktur ekspor negara-negara Muslim masih didominasi komoditas mentah, manufaktur bernilai tambah rendah, dan ketergantungan teknologi. Ia tidak menciptakan rantai pasok intra-Muslim, tidak memaksa transfer teknologi, dan tidak melahirkan basis industri berat yang tahan guncangan global.

Lebih jujur jika dikatakan: Board of Peace adalah mekanisme pengelolaan ketergantungan, bukan jalan menuju kemakmuran.

Di titik ini, pernyataan Dino Patti Djalal bahwa peluang perdamaian Palestina tetap besar kemungkinan gagal menjadi sangat relevan. Bahkan stabilitas politik yang dijanjikan Board of Peace pun rapuh.

Jadi, apa sebenarnya yang diamankan?

Bukan perdamaian, bukan keadilan, bukan industrialisasi—melainkan kenyamanan elite hari ini. Wahn bekerja dengan sangat halus: ia membuat ketergantungan tampak rasional, subordinasi tampak pragmatis, dan stagnasi tampak sebagai kebijaksanaan.

Padahal, jika dilihat dari sudut sejarah pembangunan, semua negara yang berhasil melakukan industrialisasi besar dari Jerman, Jepang, Korea Selatan, hingga Tiongkok—melakukannya bukan dengan mencari “jaminan keamanan” dari hegemon, tetapi dengan mengambil risiko konflik kepentingan jangka pendek demi kedaulatan ekonomi jangka panjang. Tidak ada industrialisasi tanpa ketegangan. Tidak ada lompatan produktivitas tanpa keberanian melawan perdagangan global yang tidak adil.

Dunia Muslim hari ini justru melakukan kebalikannya. Dengan intra-trade yang hanya sekitar 20%, negara-negara Muslim lebih memilih berdagang dengan Barat dan Tiongkok ketimbang satu sama lain.

Dengan aset keuangan syariah hampir USD 5 triliun, modal justru diparkir di instrumen pasif, bukan diarahkan secara agresif ke industri baja, mesin, semikonduktor, farmasi, atau alutsista. Dengan populasi muda ratusan juta, banyak negara masih puas menjadi pasar, bukan produsen.

Ini bukan kekurangan sumber daya. Ini krisis visi.

Wahn membuat elite negara Muslim lebih takut kehilangan akses pasar Amerika daripada kehilangan kesempatan membangun peradaban. Lebih takut kena sanksi daripada terjebak selamanya di middle-income trap. Lebih takut tarif naik 10% daripada sadar bahwa tanpa industrialisasi, tarif 0% pun tidak akan membuat mereka kaya.

Board of Peace, dalam konteks ini, bukan sekadar forum diplomatik. Ia adalah simbol pilihan peradaban: memilih kenyamanan jangka pendek ketimbang kemerdekaan struktural. Memilih stabilitas semu ketimbang pertumbuhan eksponensial. Memilih cinta dunia hari ini ketimbang keberanian menata masa depan.

Yang paling tragis: semua data menunjukkan bahwa dunia Muslim sebenarnya tidak perlu pilihan ini. Dengan pertumbuhan yang lebih tinggi dari AS, pasar internal yang masif, dan kontrol atas energi global, dunia Muslim memiliki prasyarat objektif untuk membangun tatanan ekonomi sendiri dalam 20-30 tahun.

Yang tidak mereka miliki—atau lebih tepatnya, yang terus dikorbankan adalah keberanian politik untuk keluar dari logika wahn.

Maka problem utamanya bukan Trump, bukan Amerika, bahkan bukan Board of Peace itu sendiri. Problem utamanya adalah mentalitas elite negara Muslim yang lebih memilih aman sebagai bawahan daripada berisiko sebagai subjek sejarah.

Selama wahn ini tidak disadari sebagai penyakit struktural—bukan sekadar moral individual—maka dunia Muslim akan terus mengulang pola yang sama: potensi besar, hasil kecil; sumber daya melimpah, posisi lemah; populasi raksasa, suara geopolitik kerdil.

Dan selama itu pula, Board of Peace akan terus tampak menggoda—bukan karena ia membawa masa depan, tetapi karena ia membius ketakutan hari ini. []

Sumber: Anza Zahya Qeysha

Referensi:
Dinar Standard. (2025). State of the Global Islamic Economy Report 2024/25.
English Bharat Express. (2024). The position of 57 Islamic nations in terms of GDP, defence, and global rankings. Bharat Express.
State of the Global Islamic Economy Report. (2024. October). Aggregate size of global balal economy and Islamic finance assets. Zawya.
The Star. (2025). Empowering trade in Muslim markets.
World Bank Group. (2024). Halal economy and OIC GDP: structural opportunities & growth. World Bank.

About Author

Categories