Pangeran Arab Saudi sebut Pemimpin Iran Hitler Baru, Ada Apa?

Julukan putra mahkota Arab Saudi pada pemimpin tertinggi Iran Ayatolah Ali Khamanei semakin mempertinggi tensi kedua negara. foto: cnn


MUSTANIR.COM, Jakarta — Putera Mahkota Arab Saudi Pangeran Mohammed bin Salman mengecam pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei dan menyebutnya sebagai “Hitler baru Timur Tengah”.

Pernyataan ini dikeluarkan sementara ketegangan antara negara-negara yang saling berebut pengaruh di Timur Tengah terus meningkat.

Arab Saudi dan Iran terlibat perang kata-kata setelah rudal yang diluncurkan dari Yaman berhasil dicegat di dekat bandara Riyadh pada 4 November.

Pemberontah Huthi Yaman yang didukung Tehran mengklaim bertanggung jawab atas peluncuran rudal itu.

“Pemimpin tertinggi Iran adalah Hitler baru Timur Tengah”, kata Pangeran Mohammed dalam wawancara dengan harian New York Times terbitan Kamis (23/11).

“Kami belajar dari Eropa bahwa upaya menenangkan tidak berhasil. Kami tidak mau ada Hitler baru di Iran mengulangi kejadian Eropa di Timur Tengah.”

Tehran menyangkal keras memasok rudal jenis apapun ke pemberontak Houthi, dan Presiden Hassan Rouhani telah memperingatkan Arab Saudi akan “kedigdayaan” Iran.

Juru bicara kementerian Luar Negeri Iran mengeluarkan pernyaan pedas atas wawancara tersebut dengan membandingkan Pangeran Mohammed dengan “seorang diktator” dan mendesaknya “melihat kembali nasib” beberapa pemimpin Timur Tengah dalam beberapa tahun terakhir.

“Perilaku dan pernyataan tidak dewasa, tidak terduga dan tidak masuk akal dari putera mahkota Arab Saudi ini tidak membuat satu orang pun di dunia menerima pernyataan semacam itu,” kata Bahram Ghassemi, jubir kemenlu Iran, dalam pernyataan tertulis yang dikutip kantor berita AFP.

“Kesalahan-kesalahan akibat sikap petualang putera mahkota Arab Saudi – yangterakhir adalah skandal ikut campur dalam urusan dalam negeri Lebanon- menjadi masalah terbesar bagi negara sekutu tradisional Arab Saudi,” tambahnya.

Peningkatan ketegangan antara Arab Saudi dan Iran terjadi bersamaan dengan peningkatan langkah melawan korupsi yang menyebabkan 200 warga elit, seperti pangeran, menteri dan konglomerat ditahan atau dipecat pada awal bulan ini.

Perangi Korupsi

Putera mahkota Arab Saudi ini menggambarkan laporan-laporan yang menyebut langkah penangkapan itu sebagai pertarungan perebutan kekuasaan, “menggelikan”.

Dia menyebut bahwa banyak orang yang ditangkap dan ditahan di hotel mewah di kota Riyadh itu sebelumnya memang merupakan pendukungnya.

Pangeran Mohammed mengatakan bahwa “mayoritas keluarga kerajaan” mendukungnya dan dia membantah kabar burung bahwa ada penentangan internal atas karirnya yang melesat cepat.

Dia mengatakan, 95 persen tahanan itu menyetujui satu “kesepakatan”, atau menyerahkan keuntungan yang diraih secara tidak sah ke kas negara.

Jaksa Agung Arab Saudi memperkirakan setidaknya US$100 miliar telah disalahgunakan melalui penggelapan atau korupsi dalam beberapa dekade.

Pihak berwenang telah membekukan rekening para tertuduh dan memperingatkan akan menyita aset yang diduga didapat dari hasil korupsi.

Pemerintah Arab Saudi menyebut langkah ini sebagai pendekatan atas ke bawah yang bertujuan mengentaskan tindak korupsi yang sudah menggurita.

“Sekitar satu persen bisa membuktikan bahwa mereka bersih dan kasusnya langsung dihentikan saat itu juga. Sekitar empat persen mengatakan tidak melakukan tindak korupsi dan akan membawa kasus ini ke pengadilan,” kata Pangeran Mohammed.

“Kami memiliki sejumlah pakar yang memastikan tidak ada perusahaan yang bangkrut dalam proses peradilan ini,” tambahnya.

Langkah penanganan dugaan tindak korupsi ini menyebabkan ketidakpastian di kalangan pengusaha yang bisa berdampak pada pelarian modal ke luar negeri.

Para pakar mengatakan hal itu juga bisa menggagalkan reformasi di saat kerajaan Arab Saudi mencoba sekuat tenaga menarik investasi luar negeri untuk menjawab masalah akibat penurunan harga minyak dunia. (cnnindonesia.com/25/11/2017)

Categories