
Para Salaf Justru Mengkritik Penguasa Secara Terbuka
MUSTANIR.net – Kata mereka, “taatlah pada penguasa walaupun zalim.” Mereka bilang, “menasihati penguasa tidak boleh dilakukan secara terbuka, melainkan empat mata di tempat yang sepi.” Dipungkas dengan kalimat “inilah ajaran generasi salaf!”
Menohoknya, sejarah para ulama salaf justru memperlihatkan hal yang sebaliknya: kritik pada penguasa dilakukan secara terbuka!
Lihatlah Said bin Musayyib, seorang tabi’in, yang menolak menaati perintah Abdul Malik bin Marwan, khalifah Daulah Umayyah saat itu, untuk membai’at kedua anaknya sebagai putra mahkota (lantaran syariat Islam tidak mengenal sistem putra mahkota).
Atas tindakannya itu, gubernur Madinah waktu itu, Hisyam bin Ismail menghukumnya dengan cara mencambuknya dan mengaraknya keliling kota Madinah dengan hanya mengenakan Tuban, celana dalam dari kain kasar.
Tidak ada cerita bahwa Said bin Musayyib menyampaikan koreksinya itu secara tertutup dan empat mata dengan khalifah. Justu, beliau menyampaikannya secara terang-terangan di hadapan banyak orang di masjid tempat beliau mengajar tatkala tengah mengajar.
Dengan lantang ia berkata, “Aku tidak akan memberikan bai’at kepada dua orang sekaligus selama aku masih hidup.” Justru karena sikap terbuka itulah, otoritas Madinah merasa perlu menghukum dan mempermalukannya secara terbuka pula.
Lihat juga Said bin Jubair, yang juga tabi’in, murid shahabat Ibnu Abbas raḍiyallāhu ʿanhū, yang secara terbuka menentang kelaliman Al Hajjaj bin Yusuf at Tsaqafi, gubernur Irak Daulah Umayyah waktu itu yang sangat diktator, hingga berujung dieksekusi mati.
Atau Imam Malik, yang dengan integritas keilmuannya berani mengoreksi kebijakan khalifah Daulah Abassiyah waktu itu, Al Mansur, yang memaksa bai’at rakyat pada dirinya dengan ancaman “jika menolak membai’at, otomatis jatuh talak atas istrinya.” Apakah Imam Malik waktu itu “menggenggam tangan khalifah dan membawanya ke tempat sepi untuk dinasihati secara empat mata?”
Big no!
Imam Malik melawan kebijakan itu dengan menerbitkan fatwa! Ya, yang namanya fatwa pastilah ditujukan kepada khalayak ramai. Fatwanya berbunyi bahwa tidak sah talak dengan paksaan.
Atas “kesalahan” itu, Imam Malik dihukum oleh gubernur Madinah waktu itu, Ja’far bin Sulaiman dengan cara diarak di atas unta dan dicambuk dengan punggung terbuka hingga bahu beliau mengalami dislokasi.
Yang lebih epik lagi, tatkala punggungnya berlumuran darah, dari atas unta Imam Malik masih memberikan “kritik terbuka”-nya kepada penguasa di hadapan masyarakat dengan meneriakkan secara lantang, “Ketahuilah, barang siapa yang sudah mengenalku maka dia telah mengenalku. Dan barang siapa yang belum mengenalku, aku adalah Malik bin Anas, dan aku menegaskan: Tidak sah talak bagi orang yang dipaksa!”
Kurang apa Imam Malik mengajarkan agar kita, khususnya para ahli ilmu, hendaklah menyampaikan kritik kepada penguasa secara terbuka? Yang tidak lain tujuannya agar umat teredukasi mengenai kemungkaran yang terjadi dan bersikap benar terhadap kemungkaran dengan memberikan dukungan kepada setiap tindakan nahi munkar.
Kepada saudara-saudara kami yang menisbatkan diri pada generasi salafus shalih, jujurlah! Jujurlah pada ilmu dan sejarah. Janganlah hawa nafsu kalian untuk bermanis-manis pada kezaliman menutup mata kalian dari ajaran hakiki para ulama salaf. []
Sumber: Ageung Suriabagja, SHI, M.Ag
