Bukan HTI, Ternyata Pejuang Khilafah Saat Itu SI, Muhammadiyah, dan Cikal Bakal NU

MUSTANIR.net – Yang menyatakan perjuangan menegakkan khilafah yang dilakukan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) sebagai ahistoris (berlawanan dengan sejarah, tidak memedulikan aspirasi sejarah) terbantah dengan telak lewat fakta-fakta yang diungkap buku Peran Surat Kabar Bandera Islam dalam Perjuangan Khilafah 1924-1927.

Pasalnya, dalam buku karya sejarawan Septian AW menggambarkan dengan jelas dan rinci bagaimana Sarekat Islam (SI); Muhammadiyah; cikal bakal Nahdlatul Ulama (NU); dan ormas-ormas Islam lainnya membentuk Komite Khilafah sebagai wadah perjuangan Muslimin Hindia Belanda (Indonesia) untuk mengirimkan utusan Muslimin Hindia Belanda ke Mesir guna membaiat seorang khalifah, pasca runtuhnya Khilafah Utsmani pada 3 Maret 1924 M.

Meski qadarullah pembaiatan itu gagal, perjuangan Muslimin sedunia termasuk Muslimin Hindia Belanda yang diwakili Komite Khilafah tidak berhenti, mereka pun mengirim utusan negeri masing-masing ke Makkah untuk membaiat seorang khalifah.

Meski lagi-lagi Allah SWT menakdirkan pembaitan tersebut tidak pernah terjadi hingga kini, tapi jelas tergambar bahwa ormas-ormas Islam kala itu bukan hanya memahami dasar negara itu wajib Islam, tetapi juga memahami struktur negara itu mestilah khilafah, kepemimpinan umum Muslimin sedunia di bawah komando seorang khalifah.

Bandera Islam sendiri merupakan surat kabar yang diterbitkan Sarekat Islam untuk memberitakan keruntuhan Khilafah Utsmani dan juga berbagai peristiwa perjuangan penegakan kembali khilafah.

Maka, tidak aneh bila aktivitas Komite Khilafah sangat detail dibahas dalam surat kabar tersebut dan diceritakan ulang secara apik oleh Kang Septian dalam buku yang terbit pada Januari 2024 M ini, tepat seratus tahun sejak Khilafah Utsmani runtuh!

Buku yang diangkat dari skripsi sarjana sejarah penulisnya di Universitas Indonesia dengan hasil memuaskan pada Januari 2013 ini tentu sangat menarik dibaca oleh siapa saja yang menyadari kewajiban menegakkan kembali khilafah.

Selain itu, buku ini juga penting dibaca oleh Muslimin yang tergabung dalam Sarekat Islam, Muhammadiyah, NU, dan ormas Islam lainnya tetapi anehnya saat ini malah menolak kewajiban menerapkan syariat Islam secara kaffah dalam naungan khilafah, bahkan ada yang latah mengikuti kafir penjajah dan rezim berkuasa untuk mempersekusi dan mengkriminalisasi Hizbut Tahrir Indonesia dan para pejuang khilafah lainnya.

Semoga dengan membaca buku ini para penentang khilafah ini tidak lagi ahistoris, lalu kembali meneruskan pendahulunya memperjuangkan tegaknya kembali khilafah.

It is time to be one ummah, sekaranglah waktunya untuk menjadi umat yang satu di bawah naungan khilafah ‘ala minhajin nubuwwah.

It is time to be one ummah! It is time to be one ummah! It is time to be one ummah!

Allahu akbar! []

Sumber: Joko Prasetyo, Jurnalis

About Author

Categories