Pelacuran dan Perzinahan di Zaman Batavia

Pelacuran dan Perzinahan di Zaman Batavia

Oleh: Alwi Shahab

Sejak Batavia berdiri pada awal abad ke-17, yang berpusat di sekitar Pasar Ikan, Jakarta Utara, tempat pelacuran merajalela di luar benteng kota. Kota yang sebagian besar didominasi kaum pria, dalam sejarahnya banyak mencatat kisah pelacuran dan juga perselingkuhan.

Pada 13 Agustus 1635, seorang perempuan pribumi bernama Maria menghadap kepala dewan kota. Ia mengadukan suaminya, Manuel, yang memaksa dirinya dan juga budak perempuannya untuk mencari nafkah haram setiap hari, dengan memanggil laki-laki Belanda serta menerima uang dari mereka.

Pada Agustus 1631, diketahui beberapa perempuan Kristen telah melakukan perbuatan zina dengan orang-orang Cina dan orang-orang Banda yang beragama Islam. Sementara itu, Valdero, pemimpin orang-orang hitam (orang Mardijker = Merdeka), dan beberapa orang lain memelihara budak-budak perempuan, yang tiap hari disuruhnya melacur demi kepentingan mereka. Penghasilan mereka dalam sehari rata-rata setengah real (tulis Leonard Bluse, mengutip laporan tahun tersebut).

Suburnya pelacuran, karena prajurit-prajurit VOC yang bertugas di Batavia umumnya tidak memiliki istri. Demikian juga para penduduk yang banyak berdatangan bukan saja dari Eropa tapi juga Nusantara. Tempat-tempat pelacuran itu tiap saat bisa didatangi para serdadu, yang ingin berpelesiran dengan wanita-wanita itu, tapi tidak bisa masuk ke barak-barak mereka.

Pelaut Kesepian

Batavia, sebagai pusat perdagangan VOC di dunia, tiap saat didatangi kapal-kapal asing. Para pelautnya, setelah berbulan-bulan berada di lautan, haus akan wanita. Sampai 1860 perbudakan masih diberlakukan di Batavia. Banyaknya jumlah budak berakibat pada pergundikan.

Dalam masyarakat kolonial, poligami bukan hal aneh. Para pedagang Cina, misalnya, umumnya punya banyak istri dan keluarga pada kedua ujung rute mereka. Meskipun, gereja sangat tegas dalam hal ini, tulis Leonard Blusse dalam Persekutuan Aneh, dengan menyebutnya sebagai ‘lembaga kafir’.

Sebenarnya, pendiri Kota Batavia, Gubernur Jenderal JP Coen, menetapkan agar pergundikan harus diberantas. Menurut pendapatnya, pergundikan berakibat banyaknya aborsi, pembunuhan bayi, dan terkadang peracunan terhadap suami oleh gundik yang cemburu.

Bagaimanapun, menurut pendiri kota Batavia ini, pergundikan hampir selalu berakibat lahirnya anak-anak jadah. Namun, mengharapkan terhapusnya pergundikan saat itu ibarat impian kosong belaka.

Laporan-laporan di dalam akta tak henti-hentinya menyebut tentang penyelidikan yang dilakukan Dewan Gereja. Tercatat banyak pasangan yang hidup secara ‘kumpul kebo’.

Perselingkuhan Janda Pedagang Kaya

Sejak awal permukiman VOC berusaha menghilangkan gelandangan dan kecabulan. Leonard Blusse mencatat, peristiwa sengketa hukum terjadi pada 1639 terhadap Catrina Casembroot dan teman-temannya yang berdarah Asia. Catrina adalah janda Nicolaas Casembroot, seorang pedagang kaya raya di Batavia.

Catrina dituduh melakukan zina dengan sejumlah laki-laki, baik ketika suaminya masih hidup maupun setelah meninggal. Wanita ini juga dituduh berusaha membunuh suaminya dengan jalan meracuninya.

Sejumlah kasus semacam itu juga melibatkan wanita lain, seperti Annika da Silva, dan juga seorang pribumi, istri seorang prajurit VOC. Seperti juga Catrina, ia dituduh berzina dengan beberapa laki-laki ketika suaminya masih hidup.

Wanita ini juga dituduh berusaha membunuh suaminya dengan jalan meracuninya. Hukuman yang dijatuhkan kepada mereka sangat berat. Dibunuh dengan direndam tubuhnya dan dimasukkan ke dalam tong berisi air.

Nyonya Cemburu dengan Budak Belian

Tercatat kerapnya perselingkuhan antara meneer Belanda dengan para budak beliannya. Maklum, ketika itu status sosial atau tinggi rendahnya derajat seseorang dihitung dari berapa banyak ia memelihara budak.

Seperti Van der Ploegh, seorang pejabat tinggi VOC yang tinggal di Roa Malaka, Jakarta Barat, memiliki puluhan budak belian laki-laki dan perempuan. Salah seorang budaknya, bernama Rossina, dari Bali, yang baru berusia 16 tahun, digambarkan memiliki paras cantik dan tubuh bahenol. Sang nyonya yang dibakar cemburu ketika merasa tuannya jatuh hati kepada budaknya itu, tanpa mengenal kasihan telah membakarnya.

Gubernur Jenderal Van der Parra (1761-1775), yang kesohor senang pesta dan hura-hura, setiap tahun mengimpor 4.000 budak belian. Baik dari Bali dan Sulawesi, maupun dari Koromandel (India).

Banyaknya budak yang didatangkan ke Batavia, banyak di antara mereka yang mati karena pelayanan kesehatannya sangat buruk. Pada 1673 hampir setengah penduduk Batavia berstatus budak belian, yakni 13.278 orang dari 23.068 penduduk.

Cornelis Johanna ded Bevree, puteri Raad van Indie, memelihara 59 budak untuk mengurus rumah tangganya. Pada 1775, di kediaman van Rimsdij, seorang kaya raya di Batavia memelihara 200 budak terdiri dari perempuan, laki-laki dan anak-anak. (rol/adj)

Categories