Demokrasi Meniscayakan Pemimpin Zalim Berkuasa

MUSTANIR.net – Di tengah Kongres PSI di Solo yang didukung penuh Jokowi, tokoh nomor dua terkorup dunia versi OCCRP, bahkan dia didapuk menjadi dewan pembinanya, ada salah satu harapannya secara implisit dia berharap Gibran akan diusung PSI untuk menjadi Presiden 2029.

Sontak saja, kehadiran dan dukungan dia terhadap anaknya Gibran memancing caci maki dan hujatan netizen. Tetapi politik sekuler bukan persolalan hitam putih yang mudah ditebak siapa salah siapa benar, tetapi penuh tipu daya dan penyesatan.

Tokoh baik belum tentu berkuasa karena kebaikannya, dan tokoh jahat dan korup bisa saja berkuasa karena pencitraan dan dukungan oligarki.

Apakah Gibran akan menjadi presiden dan KDM jadi wakilnya di 2029?

Bisa dan sangat bisa. Meski dengan kemampuan acak adul, tak ada isi otaknya, tetapi di dalam sistem politik demokrasi yang meniscayakan popularitas dan pencitraan disokong dengan dana tak terbatas, semua bisa dilakukan.

Ditambah rendahnya kesadaran politik rakyat, di mana mereka dengan mudah ditipu dengan segala pencitraan kosong dengan bunga-bunga bansos. Tidak mustahil mereka akan lupa nasib mereka lima tahun sebelumnya yang dizalimi sedemikian rupa hingga hidup segan mati tak mau.

KPU yang manipulatif, aparat keamanan yang intimidatif dan menjadi pendukung utama calon oligarki. Di sisi lain, kriminalisasi lawan politik lewat penjara bahkan pembulian akan menjadi daya dorong politisi kosong dan jahat semakin bebas melenggang menjadi pejabat publik.

Pada saat yang sama rakyat belum move on dari sistem politik demokrasi yang terbukti gagal berkali-kali membawa kebaikan buat rakyat, mereka seolah tidak mampu melihat sistem lain yang menjadi penyelamat hidup mereka.

Rakyat semestinya beralih kepada sistem politik Islam yang akan mencegah para politisi zalim dan bodoh untuk berkuasa. Tidak ada jalan bagi mereka yang bermuka dua dan hobi menipu untuk mencalonkan diri.

Secara siatemik, Islam juga akan menjamin siapa saja yang masuk di dalamnya tidak bisa berbuat kecuali kebaikan atau terlempar.

Sistem Islam akan memaksa orang menjadi baik, karena tuntutan sistem. Oligarki tidak memiliki tempat karena pengaruh mereka tidak akan bisa membeli suara, hal ini disebabkan sistem pemilihan kepala negara di dalam Islam hanya melibatkan ahlul halli wa aqdi di dalam majelis umat.

Tidakkah rakyat ini rindu kesejahteraan haikiki tanpa polesan pencitraan? Pemimpin yang tulus melayani karena Allah subḥānahu wa taʿālā.

Tinggalkan demokrasi, tinggalkan partai-partai oportunis sekuler yang hanya menghisap suara rakyat demi kepentingan pribadi dan beralih kepada sistem politik Islam, khilafah Islamiyyah. []

Sumber: Muhammad Ayyubi (Direktur Mufakkirun Siyasiyyun Community)

About Author

Categories