Pemprov DKI: Tanah di Jakarta Hampir Sama Seperti Palu

Tembok pemisah laut dan permukiman penduduk di Muara Baru, Jakarta Utara (Ilustrasi). foto: kumparan

MUSTANIR.COM – Permukaan tanah Jakarta terus turun. Itu bukan perkara baru. Air laut merambat naik. Itu juga sudah banyak orang tahu. Mungkin, Jakarta dan penduduknya telah terbiasa hidup di ambang bahaya. Mereka―sadar atau tidak―tinggal di atas daratan yang perlahan terbenam ke laut.

Firdaus Ali, Staf Khusus Menteri PUPR Bidang Sumber Daya Air sekaligus pakar bioteknologi lingkungan Universitas Indonesia, mengatakan, “Air laut akan naik pelan-pelan, 5–6 sentimeter per tahun. Tahun 2050, ada dua kemungkinan letak tepi laut Jakarta. Skenario optimistis di Harmoni, skenario pesimistis di Semanggi.

Ia tak mengarang atau menakut-nakuti warga Jakarta. Ia berucap berdasarkan riset bertahun-tahun yang dilakukan oleh tim peneliti geodesi Institut Teknologi Bandung. Tim ITB yang digawangi Heri Andreas itu menyimpulkan Jakarta berpotensi tenggelam.

“Jika penurunan tanah terus terjadi, akhirnya daratan nanti jadi di bawah permukaan laut. Kalau tanah lebih rendah dari permukaan laut, otomatis air laut akan menerobos masuk ke darat kalau tidak dibendung. Tahun 2050, 95 persen Jakarta Utara ada di bawah permukaan laut,” kata Heri.

Tingkat penurunan tanah di Jakarta bervariasi. Di Jakarta Utara turun 15 sentimeter per tahun, Jakarta Timur 10 cm, Jakarta Pusat 2 cm, dan Jakarta Selatan 1 cm.

Tak heran aktivis lingkungan gencar menyerukan penghentian penyedotan air tanah. Mereka yakin, bila air tanah terjaga, penurunan tanah Jakarta bisa dicegah―setidaknya melambat.

Bisakah itu dilakukan?
Untuk mengetahui kendala yang ada, kumparan berbincang dengan Deputi Gubernur Bidang Tata Ruang dan Lingkungan Hidup DKI Jakarta, Oswar Muadzin Mungkasa, dan Kepala Seksi Pemanfaatan Air Tanah DKI Jakarta, Ikhwan Maulani, secara terpisah.

Sebetulnya apa saja penyebab penurunan muka tanah?
Oswar: Penurunan muka tanah itu ada tiga penyebabnya, yakni beban, struktur geologi dari tanah, dan penyedotan air tanah.
Kita tak bisa mengubah struktur geologi. Kita bisa mengurangi banyaknya bangunan gedung di atas tanah, tapi itu pun agak sulit karena Jakarta memang membutuhkan lahan. Nah, yang paling mungkin kita lakukan adalah mengurangi penyedotan air tanah dalam.

Katanya, di daerah utara Jakarta itu penurunannya tiap tahun sekitar 7 cm. Berarti dalam 15 tahun, turun 1 meter. Itu berbahaya. Kalau pintu rumah kita tingginya 2 meter, berarti dalam waktu 10 tahun sisa setengahnya saja.

Ikhwan: Jakarta itu nggak usah diapa-apakan, tanahnya juga turun karena masih proses konsolidasi. Tanah Jakarta itu belum keras, masih mengalami pemadatan. Dan itu nggak bisa kita apa-apakan, karena proses alamiah.

Soal faktor tektonik, mana bisa kita lawan alam? Misalnya Jakarta kena gempa, apalagi megathrust, kita mau apa? Ya hancur. Apalagi di Jakarta tanah batuannya hampir sama seperti di Palu.

Batuan Jakarta merupakan endapan aluvial yang terdiri atas lempung dan pasir. Umur endapan ini masih terhitung muda, yakni 10 ribu tahun. Oleh sebab itu masih mengalami kompaksi (penekanan partikel sehingga membentuk massa padat) atau kompresi (pemampatan). Akibatnya, permukaan tanah Jakarta turun.

Untuk tanah di Jakarta Utara, menurut Kepala Badan Geologi ESDM Rudy Suhendar, juga dipengaruhi endapan rawa-rawa selain endapan sungai.

Berikutnya, beban bangunan. Jakarta itu bukan kota yang given kayak gini. Sekarang sudah banyak bangunan tinggi.
Yang bisa dikendalikan itu pengambilan air tanahnya. Untuk mengurangi dampak penurunan tanah itu salah satunya dengan mengendalikan pengambilan air tanah, soalnya dampaknya jauh lebih besar dibandingkan dengan pajak air tanahnya.
Air dalam tanah ada batasnya. Kalau diambil terus-menerus, air akan berkurang dan keseimbangan terganggu.

Solusi apa yang sedang dijalankan Pemprov DKI?
Oswar: Kedeputian kami sedang bekerja sama dengan berbagai pihak untuk menyusun desain besar pengelolaan air tanah.
Yang pertama, kita petakan dulu kondisinya. Kebijakan yang baik itu berdasarkan fakta data informasi, bukan insting. Kami bekerja sama dengan berbagai pihak mengumpulkan data-data untuk memastikan peta kondisi air tanah Jakarta.

Kami anggap merah bahaya, kuning so-so, hijau aman. Setelah kita tahu lokasi merahnya di mana, kuningnya di mana, baru kita ambil langkah-langkah. Tentunya prioritaskan dulu daerah merah. Kalau daerah yang hijau, kami larang orang masih bisa karena masih aman.

Yang kedua, selain air hujan, apa saja sih sumber air yang lain? Bisa dari air sungai. Makanya kami sekarang sedang berjuang untuk meningkatkan kualitas air sungai di Jakarta. Dengan demikian kami bisa yakin bahwa air sungai itu bisa menjadi sumber air PAM.

Kenapa PAM hanya bisa menjangkau 60 persen dari seluruh area di Jakarta? Karena nggak ada sumber airnya. Nah, kalau sungai bisa dijadikan sumber air, aman kan ya?

Satu lagi―cara yang paling mudah sebenarnya, tetapi jarang dilakukan. Standar di perkotaan itu 200 liter per hari per orang. Kalau kita bisa menghemat air, misalnya kita turunkan standarnya jadi 190 liter saja. Kan di Jakarta ada 10 juta penduduk, dikali 10, jadi 100 juta liter air per hari yang bisa kita hemat.

Artinya satu juta liter per hari itu bisa jadi sumber air untuk orang lain. Itu yang belum kita lakukan. Kalau itu bisa kita lakukan, itu bisa jadi sumber air kita dari sisi permintaan, bukan dari sisi suplai.

Soal pajak air tanah yang jadi salah satu solusi untuk mengurangi eksploitasi air tanah itu bagaimana?
Ikhwan: Jadi, golongan tarifnya itu non-niaga, niaga kecil, niaga besar, industri besar, dan industri kecil.
Untuk yang rumah tangga biasa, nggak harus bayar pajak. Untuk fasilitas umum, fasilitas sosial, dan gedung pemerintah, nggak harus bayar pajak. Cuma besarannya (kena pajak) beda. Ada di Peraturan Gubernur DKI Jakarta Nomor 86 Tahun 2012.

Di Jakarta, pengaruh terhadap lingkungan sangat besar, dan Jakarta itu ibu kota negara. Itu salah satu faktor yang menyebabkan pajak air tanah Jakarta lebih tinggi dibandingkan daerah lain. Di samping itu, bangunannya lebih banyak dan padat. Jadi misalnya terjadi penurunan tanah di situ, pasti efeknya lebih besar dibanding penurunan tanah di tempat lain.
Makanya dengan tingginya pajak air tanah, kami berharap mereka (konsumen) beralih ke PAM walaupun efek itu juga pasti banyak pelanggaran.

Kalau menurut saya sih (pajak air tanah) sebenarnya sangat efektif untuk mengurangi pelanggaran dari orang-orang yang nakal. Tarif PAM dengan tarif air tanah jauh.

Pengguna nakal itu nggak bisa kami pastikan, cuma yang baru ketahuan sekarang ini ada sekitar 100-an gedung. Bukan berarti hanya 100 itu.

Biasanya kami kerja sama dengan PDAM atau PALYJA. Hampir setiap bulan kami kasih data pengambilan air tanah ke mereka. Nah, nanti kami compare kira-kira di situ ada anomali apa enggak. Kalau dalam keadaan pemakaian yang normal-normal saja, biasanya (jarum air tanah dan jarum air PAM) sebanding lurus.

Tapi kalau tiba-tiba pemakaian air PAM kecil tapi nggak ada pemakaian air tanah, nah baru kami cek di situ ada apa. Apalagi kalau misalnya ternyata sudah empat atau lima bulan pemakaian air PAM-nya kecil tapi pemakaian air tanahnya nggak naik, itu kan ada anomali.

Yang jelas mereka harus membayar dari sisi administrasi, membayar kerugian. Kami juga punya SOP. Ada pemanggilan pertama, kedua, dan ketiga sampai kami tutup kalau dia nggak kooperatif. Kalau pemanggilan kedua, kami segel listriknya. Pemanggilan ketiga nggak dateng juga, terpaksa kami cor. Tapi tetap dia harus bayar kewajibannya.

Apakah ke depan akan ada kebijakan baru terkait penghentian pemakaian air tanah?
Ikhwan: Sebenarnya kita ingin (terapkan) itu di daerah-daerah yang sudah ada jaringan PAM. Nanti ke depannya, kami ingin pengambilan air tanah disetop. Tapi kalau yang belum ada pilihan (jaringan PAM), masih kami biarkan.

Untuk daerah merah yang sekarang ada di peta konservasi, kebijakan itu sudah berjalan. Di zona rusak itu, izin dan perpanjangan juga ditolak. Untuk zona rawan, izin bangun juga ditolak, tapi untuk perpanjangan masih diperbolehkan.
Masih dalam hitung-hitungan, sih. Tapi kami ingin mereka tidak menggunakan air tanah.

Apa kendala dalam menghentikan penyedotan air tanah secara masif?
Oswar: Kami nggak punya data siapa yang nyedot. Makanya, salah satu langkah kami nanti akan membuat seoptimal mungkin jumlah titik pantau untuk memantau tinggi air tanah.
Dari sekarang kita harus ambil langkah-langkah agar penurunan muka tanah bisa dihentikan.
(kumparan.com/29/10/18)

About Author

25 thoughts on “Pemprov DKI: Tanah di Jakarta Hampir Sama Seperti Palu

  1. We’re a group of volunteers and starting a
    new scheme in our community. Your website provided us with valuable information to work
    on. You’ve done a formidable job and our entire community will be
    thankful to you.

  2. Ⲣermaіnan jᥙdi poker оn the internet bukann permainan Ƅetting kartu poker raցam baru.

    Permainannya masih sama dengan holdem pоker cаsino.

  3. If you are going for finest contents like me,
    just go to see this web page all the time for the reason that it gives quality contents, thanks

  4. Everyone loves what you guys are up too. This sort of clever work and coverage!
    Keep up the wonderful works guys I’ve incorporated you guys to my blogroll.

  5. I’m not that much of a online reader to be honest but your blogs really nice, keep
    it up! I’ll go ahead and bookmark your website to come back in the future.

    All the best

  6. We’re a group of volunteers and starting a new scheme in our
    community. Your website provided us with valuable info to work on. You have
    done an impressive job and our whole community
    will be thankful to you.

  7. Проект первоначально был запущен на рынке Индии, но владельцы бренда позиционируют его как
    глобальный продукт казино.

  8. I believe this is one of the so much vital info for me. And i
    am happy reading your article. But should observation on some
    general things, The website style is great, the articles is truly nice : D.
    Just right activity, cheers

  9. Просто зайдите в “Галерею” с видео,
    нажав “Alt+Z”, выберите “Анимированный GIF-файл” и нажмите “Опубликовать”.

  10. You really make it appear so easy with your presentation but I
    to find this matter to be really something that I feel I
    might never understand. It seems too complicated
    and extremely broad for me. I’m having a look ahead
    in your next publish, I’ll attempt to get the dangle of it!

  11. Fantastic website. Lots of useful information here. I am sending it to some friends ans also sharing in delicious.
    And naturally, thanks on your effort!

  12. Greetings from Los angeles! I’m bored to death at work so
    I decided to check out your site on my iphone during lunch break.
    I love the knowledge you provide here and can’t wait to take
    a look when I get home. I’m amazed at how quick your blog loaded on my cell phone
    .. I’m not even using WIFI, just 3G .. Anyhow, superb site!

  13. I love your blog.. very nice colors & theme. Did you design this
    website yourself or did you hire someone to do it for you?
    Plz answer back as I’m looking to create my own blog and would
    like to know where u got this from. thank you

  14. Greetings from Florida! I’m bored to death at work so I decided to check out your site on my iphone during lunch break.
    I really like the information you provide here and can’t wait to take
    a look when I get home. I’m shocked at how fast
    your blog loaded on my phone .. I’m not even using WIFI, just 3G
    .. Anyways, very good site!

  15. Unquestionably believe that which you said. Your favorite justification appeared to be on the net the simplest thing to be aware
    of. I say to you, I definitely get irked while people consider worries that they just don’t know about.
    You managed to hit the nail upon the top as well as defined out
    the whole thing without having side effect , people
    can take a signal. Will probably be back to get more.
    Thanks

  16. Hi there, You have done an excellent job. I’ll definitely digg it and personally suggest to my friends.
    I am sure they’ll be benefited from this site.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories