Peran Strategis Ulama dalam Perubahan

MUSTANIR.net – Secara bahasa, kata ulama (علماء) berasal dari bahasa Arab (علم, يعلم, artinya: mengetahui). Perubahan kaidah tashrif Arab, menjadi kata (عالِم [Alim]) ismul faa’il (kata untuk menunjukkan si pelaku/subjek, yang berarti orang yang mengetahui).

Kemudian, dari ismul mufrad atau kata tunggal: Alim (عالِم) berubah menjadi isim jama’ atau kata jamak: Ulama (العلماء). Yang diartikan, sebagai orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan.

Ada pun, terminologi ulama menurut Wikipedia: “Ulama adalah pemuka agama atau pemimpin agama yang bertugas untuk mengayomi, membina dan membimbing umat Islam. Baik dalam masalah-masalah agama, maupun masalah sehari-hari yang diperlukan, baik dari sisi keagamaan maupun sosial kemasyarakatan.

Makna sebenarnya, dalam bahasa Arab adalah ilmuwan atau peneliti. Kemudian, arti ulama tersebut berubah ketika diserap ke dalam bahasa Indonesia, yang maknanya adalah sebagai orang yang ahli dalam ilmu agama Islam.” [1]

Dalam Ensiklopedi Islam sendiri, dijelaskan bahwa ulama berarti orang yang tahu atau orang yang memiliki ilmu agama dan ilmu pengetahuan kealaman. Yang dengan pengetahuannya tersebut memiliki rasa takut dan tunduk kepada Allah subḥānahu wa taʿālā. [2]

Menurut imam Ibnu Jarir ath-Thabari rahimahullah dalam kitab tafsirnya, Jami’ul Bayan. Beliau mengatakan, bahwa: “Yang dimaksud dengan ulama adalah seorang yang Allah jadikan sebagai pemimpin atas umat manusia dalam perkara fiqih, ilmu, agama, dan dunia.” [3]

Sementara itu, menurut Imam Ibnul Qayyim rahimahullah dalam I’lamul Muwaqqi’in-nya. Beliau membatasi bahwa: “Ulama adalah orang yang pakar dalam hukum Islam, yang berhak berfatwa di tengah-tengah manusia. Yang menyibukkan diri dengan mempelajari hukum-hukum Islam kemudian menyimpulkannya, dan yang merumuskan kaidah-kaidah halal dan haram.” [4]

Jadi, secara istilah ulama adalah orang-orang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam dan cemerlang mengenai Islam beserta al-Qur’an dan al-hadits (as-sunnah), dan Menerapkan al-Qur’an dan al-hadits (as-sunnah) dalam kehidupannya. Ulama adalah orang-orang yang mengetahui dan memahami al-Qur’an dan as-sunnah, baik bacaannya maupun kandungannya serta hukum-hukum di dalamnya dan kemudian mengajarkannya.

Maka, ulama merupakan orang-orang yang mendapat ilmu Rasulullah ﷺ dan setiap harinya disibukkan dengan ilmunya seperti tabligh atau dakwah, mengajar dan menulis atau mengarang kitab serta menasihati penguasa. Dan masih banyak lagi yang lain, namun pada dasarnya tetap sama yaitu orang-orang yang bukan hanya sangat memahami ilmu agama Islam, namun juga mengamalkan ilmunya.

Ulama merupakan orang-orang yang mendapatkan kedudukan yang sangat tinggi setelah para nabi dan rasul, dan ulama adalah pewaris para nabi dan rasul. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah ﷺ, dalam sabdanya:

إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوادِينَاراً وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَن أَخَذَهُ أَخَذَبِحَظٍّ وَافِرٍ

“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu. Barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.” (HR at-Tirmidzi, Ahmad, ad-Darimi, Abu Dawud, Ibnu Majah, al-Hakim dan Ibnu Hibban). [5]

Allah subḥānahu wa taʿālā pun berfirman:

ثُمَّ أَوۡرَثۡنَا ٱلۡكِتَٰبَ ٱلَّذِينَ ٱصۡطَفَيۡنَا مِنۡ عِبَادِنَاۖ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba kami.” (QS Fathir: 32)

Al-Imam Ibnu Katsir rahimahullah menyatakan, Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman, “Kemudian Kami menjadikan orang-orang yang menegakkan (mengamalkan) Al-Kitab (al-Qur’an) yang agung sebagai pembenar terhadap kitab-kitab yang terdahulu yaitu orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, mereka adalah dari umat ini.” [6]

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah mengatakan, “Ayat ini sebagai syahid (penguat), terhadap hadits yang berbunyi al-‘ulama waratsatil anbiya (ulama adalah pewaris para nabi).” [7]

Al-Imam asy-Syaukani rahimahullah mengatakan bahwa maknanya adalah:

“Kami telah mewariskan kepada orang-orang yang telah Kami pilih dari hamba-hamba Kami yaitu al-kitab (al-Qur’an). Kami telah tentukan dengan cara mewariskan kitab ini kepada para ulama dari umat engkau wahai Muhammad yang telah Kami turunkan kepadamu.

Tidak ada keraguan bahwa ulama umat ini adalah para sahabat dan orang-orang setelah mereka. Sungguh Allah subḥānahu wa taʿālā telah memuliakan mereka atas seluruh hamba dan Allah subḥānahu wa taʿālā menjadikan mereka sebagai umat di tengah-tengah agar mereka menjadi saksi atas sekalian manusia. Mereka mendapat kemuliaan demikian, karena mereka umat nabi yang terbaik dan sayyid bani Adam.” [8]

Allah subḥānahu wa taʿālā juga menegaskan, dalam firman-Nya:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Niscaya, Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS al-Mujadilah: 11)

Pewarisan ulama di sini, bukan hanya sekadar mengenai ilmu dan hal-hal luar biasa yang diberikan kepada mereka. Akan tetapi juga mencakup mengenai beban dan tugas mereka, dalam meluruskan dan membimbing masyarakat kepada jalan yang benar menurut akidah dan syariah Islam.

Allah subḥānahu wa taʿālā menegaskan sosok karakter dan sifat ulama yang sesungguhnya, dalam firman-Nya:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ

“Sesungguhnya di antara hamba-hamba Allah yang takut kepada-Nya hanyalah para ulama, sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS Fathir: 28)

Maka, sebagai pelaku (faa’il) dalam ayat ini adalah: Para ulama adalah orang yang paling khawatir dan paling takut kepada Allah. Lafdzul jalalah (Allah) sebagai objek (maf’ul) yang didahulukan.

Ada pun faidah dan fungsi didahulukannya peletakan objek (maf’ul) ini adalah: untuk pembatasan kerja subjek/pelaku. Maksudnya, yang takut kepada Allah subḥānahu wa taʿālā tidak lain hanyalah para ulama.

Karena kalau subjeknya yang didahulukan pastilah pengertiannya akan berbeda, dan menjadi “Sesungguhnya para ulama takut kepada Allah.” Permaknaan seperti ini tidak dibenarkan, karena artinya ada di antara para ulama yang tidak takut kepada Allah.

Atas dasar inilah Syaikhul Islam berkomentar tentang ayat ini: “Hal ini menunjukkan bahwa setiap yang takut kepada Allah maka dialah orang yang alim, dan ini adalah haq. Dan bukan berarti setiap yang alim akan takut kepada Allah”. [9]

Ada pun fungsi atau peran strategis ulama dalam perubahan, dapat diringkas sebagai berikut:

Pertama: Pewaris para nabi. Tentu, yang dimaksud dengan pewaris nabi adalah pemelihara dan penjaga warisan para nabi, yakni wahyu atau risalah, dalam konteks ini adalah al-Qur’an dan as-sunnah atau Islam itu sendiri. Dengan kata lain, peran utama ulama sebagai pewaris para nabi adalah penjaga agama Allah subḥānahu wa taʿālā (Islam) dari kebengkokan dan penyimpangan.

Hanya saja, peran ulama bukan hanya sekadar menguasai khazanah pemikiran Islam, baik yang menyangkut masalah akidah maupun syariah dan akhlaq. Namun juga, bersama umat berupaya menerapkan, memperjuangkan, serta menyebarkan risalah Allah di muka bumi.

Dalam konteks saat ini, ulama bukanlah orang yang sekadar memahami dalil-dalil akidah dan syariah, kaidah istinbâth (pengalian hukum), ijtihad, dan ilmu-ilmu alat lainnya. Akan tetapi, ia juga terlibat dalam perjuangan untuk mengubah realitas rusak yang bertentangan dengan warisan Nabi ﷺ menjadi realitas Islami yang haq di atas jalan nabi.

Ke dua: Pembimbing, pembina dan penjaga umat. Pada dasarnya, ulama bertugas membimbing umat agar selalu berjalan di atas jalan lurus (sirathol mustaqiem). Ulama juga bertugas menjaga mereka dari tindak kezaliman, kejahatan, pembodohan, dan penyesatan yang dilakukan oleh kaum kafir dan munafik serta antek-anteknya; melalui gagasan, keyakinan, dan sistem hukum yang bertentangan dengan Islam.

Semua tugas ini mengharuskan ulama untuk selalu menjaga kesucian dan kemurnian akidah dan pemikiran Islam dalam benaknya, sekaligus menjaga kesucian agamanya dari semua kotoran dan syubhat tsaqafah kufur dan filsafat. Ulama juga harus mampu menjelaskan kerusakan dan kebatilan semua akidah kufur, pemikiran kufur, dan sistem kufur serta ideologi kufur kepada umat Islam.

Ia juga harus bisa mengungkap tendensi-tendensi jahat, skenario dan propaganda negatif, serta makar jahat di balik semua sepak terjang kaum kafir dan munafik beserta antek-anteknya. Ini ditujukan agar umat terjauhkan dari kejahatan musuh-musuh Islam.

Ke tiga: Pengontrol penguasa. Peran atau fungsi ini hanya bisa berjalan jika ulama mampu memahami konstelasi geopolitik strategis global dan regional serta lokal. Ia juga mampu terdepan dalam muhasabah lil hukkam atau dalam mengontrol dan mengoreksi penguasa. Dan ia pun mampu pula, memimpin perlawanan terhadap segala bentuk penjajahan, menyingkap makar jahat dan permusuhan kaum kafir dan munafik dalam memerangi Islam dan kaum muslim.

Dengan ungkapan lain, seorang ulama harus memiliki visi dan misi intelektual dan politis-ideologis yang kuat. Hingga ijtihad dan fatwa-fatwa yang ia keluarkan tidak hanya beranjak dari tinjauan normatif belaka, tetapi juga bertumpu pada konteks intelektual dan ideologis-politis.

Dengan demikian, ijtihad dan fatwa-fatwanya mampu menjaga umat Islam dari kebinasaan dan kehancuran. Sekaligus pula dapat membangkitkan umat Islam dengan kebangkitan hakiki, bukan malah menjadi sebab malapetaka dan kehancuran bagi umat Islam.

Misalnya, fatwa yang dikeluarkan oleh Syaikhul Islam mengenai bolehnya kaum muslim mengadopsi sistem pemerintahan demokrasi dan perundang-undangan Barat, pada akhir kekhilafahan Islam. Fatwa ini tidak hanya keliru, tetapi juga menjadi salah-satu faktor penyebab kehancuran khilafah Islamiyah. Fatwa ini muncul karena lemahnya visi dan misi intelektual dan politis-ideologis ulama pada saat itu.

Ke empat: Sumber ilmu. ulama adalah orang yang faqih fiddiin (paham agama secara mendalam dan cemerlang) dalam masalah halal-haram, dan dalam seluruh perkara kehidupan. Ia adalah rujukan dan tempat menimba ilmu, sekaligus guru atau musyrif ataupun murabbi yang bertugas membina dan mengemong umat. Agar umat selalu berjalan di atas tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.

Dalam konteks ini, peran sentral dan utamanya adalah mendidik dan membina serta mengemong umat dengan akidah dan syariah Islam. Dengan begitu, umat memiliki akidah Islam yang kokoh dan memiliki kepribadian Islam (syakhsiyah Islam) yang kuat. Mereka juga gagah berani dan terdepan dalam dakwah amar ma’ruf wa nahi munkar dan dalam mengoreksi penyimpangan masyarakat dan penguasa yang zalim.

Ke lima: Ulama sebagai pemimpin umat, yang terdepan dalam membangkitkan, memobilisasi dan menggerakkan umat dan seluruh elemen umat Islam. Untuk bersegera melanjutkan kehidupan Islam.

Dengan menerapkan syariah Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan. Dan menyebarluaskan risalah Islam ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Melalui penegakkan kembali daulah khilafah rasyidah Islamiyah.

Yang dilakukan oleh para ulama pewaris nabi tersebut, bersama umat dan seluruh elemen umat Islam, apapun madzhab dan harakah dakwahnya. Karena, khilafah Islam adalah mahkota kewajiban (taajul furudh) sekaligus benteng utama Islam, dan milik seluruh umat dan kewajiban bagi seluruh umat Islam. Termasuk kewajiban bagi para ulama tersebut.

Inilah fungsi atau pun peran strategis dan sentral ulama dalam perubahan, sekaligus sebagai pewaris para nabi. Dan juga sebagai benteng terakhir Islam dan ujung tombak umat Islam di tengah-tengah masyarakat.

Hanya saja, sekularisasi dan demokratisasi serta liberalisasi telah memberangus fungsi dan peran strategis ulama tersebut. Sekaligus meminggirkan mereka dari urusan negara dan masyarakat. Dan parahnya terkadang sering kali pula, ulama hanya dijadikan stempel dan alat untuk menghalalkan dan melanggengkan kezaliman penguasa dan syahwat kekuasaan penguasa dan hegemoni kaum kuffar penjajah kapitalisme global asing dan aseng.

Oleh karena itulah kewajiban bagi para ulama khususnya dan kita semua umat Islam untuk bersegera mengembalikan ulama kepada fitrah dan khitthah perjuangannya demi tegaknya Islam kaffah, demi tegaknya kalimat Allah yang Maha Agung, dan demi izzul Islam wal muslimin. Sehingga diharapkan terwujudlah kembali peran strategis ulama tersebut dalam mewujudkan perubahan hakiki di tengah umat, yaitu tegaknya kembali syariah dan khilafah atau Islam kaffah dalam realitas kehidupan.

Wallahu musta’an, Wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

Catatan Kaki:
1. id.wikipedia.org/wiki/ulama
2. Ensiklopedi Islam (2003 : 120).
3. Ibnu Jarir ath-Thabari, Jami’ul Bayan.
4. Ibnul Qayyim, I’lamul Muwaqqi’in.
5. HR at-Tirmidzi di dalam Sunan beliau no. 2681, Ahmad di dalam Musnad-nya (5/169), ad-Darimi di dalam Sunan-nya (1/98), Abu Dawud no. 3641, Ibnu Majah di dalam Muqaddimah-nya, serta dinyatakan sahih oleh al-Hakim dan Ibnu Hibban. Asy-Syaikh al-Albani rahimahullah mengatakan, “Haditsnya shahih.” Lihat kitab Shahih Sunan Abu Dawud no. 3096, Shahih Sunan at-Tirmidzi no. 2159, Shahih Sunan Ibnu Majah no. 182, dan Shahih at-Targhib, 1/33/68.
6. Tafsir Ibnu Katsir, 3/577.
7. Ibnu Hajar al-Asqolani, Fathul Bari, 1/83.
8. Asy-Syaukani, Fathul Qadir, hlm. 1418
9. Majmu al-Fatawa, 7/539. Lihat “Tafsir al-Baidhawi”, 4/418, Fathul Qadir, 4/494.

About Author

Categories