MUSTANIR.net – Apa yang kamu pikirkan tentang Rohingya? Pengungsi tidak tahu diri? Sekelompok etnis niradab? Tidak tahu berterima kasih? Mirip Israel?

Stereotip-stereotip buruk tentang pengungsi Rohingya mulai naik ke permukaan belakangan ini. Penyebaran informasi di platform media sosial terutama TikTok terjadi secara masif sampai menimbulkan suara baru.

“Usir Rohingya!”, “Bubarkan UNHCR!”, “Rohingya the next Israel!”

Pertanyaannya, seberapa yakin kita bahwa informasi yang beredar sudah teruji validitasnya? Dari sekian banyak berita yang tersebar, justru hanya sedikit yang benar-benar fakta. Itu pun sudah dibumbui kebohongan.

Sebagai contoh:

Rohingya meminta tanah dan hendak merebut wilayah layaknya Israel.

Hoax ini bermula dari sebuah video demo Rohingya di depan Kedubes Myanmar di Malaysia yang terjadi pada masa Najib Razak. Faktanya, Rohingya justru sedang menentang kekejaman otoritas Myanmar yang terus berupaya membersihkan etnis tersebut. Kerusuhan terjadi sebab sebagian bus yang ditumpangi Rohingya ditahan polisi, akhirnya mereka mengamuk karena tidak diizinkan ikut aksi.

UNHCR meminta pemerintah memberikan makan, rumah, dan KTP kepada Rohingya.

Faktanya, UNHCR tidak pernah meminta demikian. Hoax ini bersumber dari puluhan akun anonim di TikTok yang secara sengaja mengganti display nama dan foto profil seolah menjadi akun resmi UNHCR, kemudian menulis komentar tersebut di konten-konten viral. Mirisnya, komentar dari akun-akun anonim ini banyak sekali di-repost dan digoreng seolah ia nyata dan benar.

Rohingya menghancurkan rumah susun di Sidoarjo, Jawa Timur.

Beberapa portal berita yang meyebutkan secara spesifik etnis Rohingya sebagai pelaku penghancuran adalah Viva dan Jawa Pos. Hal ini kemudian dibantah oleh Detik Jatim yang langsung melakukan klarifikasi ke Kasubsi Ketertiban Rudenim, Wahyu Tri Wibowo.

Diduga pelaku bukan orang Rohingya. Penghuni rusun dari Rohingya 4 orang, sisanya berasal dari Afghanistan, Somalia, Nigeria, dan lain sebagainya.

Rohingya memperkosa warga lokal.

Bukan hendak menjustifikasi tindakan asusila. Telah banyak yang mempercayai bahwa korban merupakan warga Aceh. Faktanya, korban merupakan anak di bawah umur yang juga berasal dari Rohingya.

Hal ini juga telah dikonfirmasi oleh Bang Boh (@bohleupieng di X), warga Aceh yang berpengalaman mengurus pengungsi sejak 2008, dalam Space The Muslim Gaze Sabtu, 9 Desember 2023.

Jika narasi yang terus diulang dan sangat viral saja ternyata mengandung kebohongan di dalamnya, bayangkan sebanyak apa sebenarnya kebohongan yang telah menjadi kenyataan bagi masyarakat?

Mengingatkan kembali pada quote Joseph Goebbels, “Ulangi kebohongan sesering mungkin dan itu akan menjadi kebenaran.”

Kenapa kualitas kita seburuk itu dalam menguji kebenaran informasi?

Bagaimana bisa kita menghakimi pengungsi Rohingya berdasarkan berita-berita simpang siur (yang kemudian terbukti tidak benar), bahkan menyuarakan kebencian bernada rasis, xenophobic, dan chauvinistic pada korban genosida?

Tak sampai di situ, akhirnya muncul dikotomi palsu. Ketika meluruskan hoax terkait isu pengungsi Rohingya, tak jarang kami dianggap tidak memihak warga Aceh.

Apakah kita sudah lupa dengan kandungan al Maidah ayat 8, bahwa kebencian kita terhadap suatu kaum tidak boleh sampai membuat kita tidak berlaku adil pada mereka? Bukankah adil lebih dekat dengan takwa?

Apakah menumpuk kebencian pada suatu kaum berdasarkan berita bohong merupakan bentuk penilaian yang adil? Bukankah menumpuk kebencian berdasarkan berita bohong merupakan bentuk penghinaan intelektual?

Tak tergambarkan perasaan ini, ketika melihat suara umat Islam bersatu padu mengenakan atribut semangka, namun justru terpecah ketika menyikapi pengungsi Rohingya-yang merupakan korban genosida. juga

Standar moral kita tercerai berai. Tak sedikit yang menuntut pengungsi Rohingya untuk memiliki akhlaq sebagaimana Mujahid al Aqsha untuk berkenan memberikan bantuan. Harus teruji imannya sebelum mendapatkan pertolongan. Harus dipastikan bahwa mereka benar-benar Muslim.

Lupa bahwa sebagai WNI yang menempati kawasan ring of fire, nasib kita bisa berubah kapan saja tanpa aba-aba. Bisa menjadi pengungsi, mungkin bukan karena perang, namun sebab bencana. Bisakah kita menjamin, akhlak kita akan sama seperti Mujahid al Aqsha ketika diberi ujian serupa (menjadi korban pembersihan etnis)?

Kita boleh saja geram melihat serangkaian perbuatan kriminal yang dilakukan oleh pengungsi. Namun hal itu tak semestinya menjadi justifikasi bagi kita untuk menyebarkan berita bohong dan fitnah.

Kita berjuang membela al Aqsha, sebab analisis kita bermula sejak 1948. Bukan 7 Oktober 2023. Maka, adillah pula dalam melihat isu Rohingya. Huru-hara ini bukan dimulai pada November 2023

Permintaan kami saat ini tidak banyak. Hanya:

Tahan jari-jarimu dari memfitnah dan membagikan berita yang tak dapat kau jamin kebenarannya.

Maka semoga lebih mudah pertanggungjawaban kita di hadapan Allah ta’ala, dan isu ini lebih cepat menemukan titik terangnya. Wallahu a’lam bishshawab. []

Sumber: Revelio

Sumber:
1. Perubahan perlakuan Perdana Menteri Malaysia Najib Razak terhadap prinsip non-interferensi ASEAN dalam isu Rohingya = The alterations deal of Malaysian Prime Minister Najib Razak against the ASEAN non-interference principle on rohingyas issue / Gabriela Ekklesia
https://lib.ui.ac.id/m/detail.jsp?id=20467267&lokasi=lokal
2. Ricuh Pengungsi Rusak Rusun Jemundo Sidoarjo gegara Listrik Padam
https://www.google.com/amp/s/www.detik.com/jatim/berita/d-7080637/ricuh-pengungsi-rusak-rusun-jemundo-sidoarjo-gegara-listrik-padam/amp
3. The Muslim Gaze (Space X) — Ngobrol Komunitas: Ada Apa dengan Pengungsi Rohingya?
Narsum: Bang Boh (warga Aceh, berpengalaman mengurus pengungsi dan berinteraksi dengan Rohingya sejak 2008) dan Bang Eagle (pemerhati isu pengungsian ±10 tahun) https://twitter.com/themuslimgaze/status/1733557579702505953
4. Perkosa Bocah di Bawah Umur di Penampungan, Pria Rohingya Digelandang ke Polres Pidie
https://www.google.com/amp/s/aceh.tribunnews.com/amp/2023/07/04/perkosa-bocah-di-bawah-umur-di-penampunganpria-rohingya-digelandang-ke-polres-pidie

About Author

Categories