Prabowo Subianto Malas Bergaul Dengan Elit, Banyak Bohongnya

foto: antara


MUSTANIR.COM, Lombok Timur, NTB – Ketua Umum DPP Partai Gerindra, Prabowo Subianto, kapok bergaul dengan para elit di Jakarta, karena menganggap senyum mereka adalah kepalsuan.

“Elit di Jakarta itu, minta maaf dech, sudah parah. Saya kapok dengan mereka ini,” kata dia, pada acara deklarasi pasangan Ahyar Abduh-Mori Hanafi, yang digadang-gadang maju ke Pilkada NTB 2018, di Lapangan Umum, Masbagik, Lombok Timur, Minggu.

Prabowo mengaku, lebih baik melihat senyum rakyat kecil daripada harus melihat senyum para elit yang penuh kepalsuan.

“Kalau kalian senyum, asli. Senyum benar-benar dari hati bukan senyum palsu,” tegas Prabowo.

Dia tidak mau mengungkap siapa elit-elit Jakarta yang dia maksud itu, kecuali bahwa elit Jakarta banyak bohongnya. Karena itu, Prabowo mengatakan, meski banyak di undang di Jakarta, dirinya lebih baik memilih untuk tidak hadir dan lebih baik menghadiri kegiatan di daerah.

“Jadi elit itu pintar, pintarnya bukan main. Kadang gelarnya banyak sekali tapi tidak tahu dari mana gelar itu,” tegasnya.

Menurut dia, para elit seperti itu tidak mengerti masalah bangsa Indonesia dan tidak mengerti kalau kekayaan Indonesia lebih banyak di kuasai asing.

Meski demikian, Prabowo menegaskan tidak ingin menyalahkan orang lain. Namun kesalahan itu, juga datang dari masyarakat.

“Tapi ini kesalahan kita semua. Karena tadi rakyat kita terlalu baik, elitnya tidak. Jadi malas bicara elit karena kebanyakan bohongnya,” ucap Prabowo.

Demokrasi butuh rakyat sadar, rakyat pintar, dan rakyat tidak bisa dibohongi. Karena itu, Prabowo, melihat semua televisi di bayar.

“Kalau orang kaya benar cinta dan percaya dan cinta Merah Putih dengan rakyat tidak mungkin rakyat seperti ini. Tapi saya lihat orang kaya itu cinta terhadap kantongnya sendiri,” katanya. (antaranews.com/1/10/2017)

Komentar:
Apa yang disampaikan Prabowo soal kepalsuan elit-elit di Jakarta dan ketidakpahaman terhadap masalah bangsa, ada benarnya juga. Mengingat sebagian besar elit, hanya berorientasi jabatan dan pemasukan saja. Kekuasaan mereka selama ini lebih untuk menyenangkan para konglomerat dibanding rakyat. Contohnya Meikarta yang sampai sekarang pembangunan masih berlanjut. []

Categories