Ajaran Islam Relevan dengan Zaman, Tidak Perlu Kontekstualisasi

MUSTANIR.net – Kewajiban menerapkan hukum Islam dan berjihad—berperang di jalan Allah—yang ada dalam turats (kitab warisan), dinilai sebagian pihak tidak relevan, bahkan dianggap sebagai ancaman nyata bagi negara dan generasi bangsa.

Di sebuah situs liberal moderat disebutkan bahwa teks tersebut lahir dipengaruhi konteks abad pertengahan dan mainstream tafsir pada masa itu secara dialektis, sedangkan pada saat yang sama, konteks kita hidup hari ini sudah berbeda.

Dikatakan pula bahwa pada masa dahulu (sesuai konteks waktu itu) adalah tepat kalau hukuman mencuri adalah potong tangan. Akan tetapi, sekarang sudah tidak relevan sehingga harus dikontekstualkan, yaitu hukuman pencuri adalah penjara. Meskipun hukuman potong tangan-kaki berbeda dengan penjara, tetapi dipandang ada kesamaan spirit bahwa hukuman tersebut sama-sama bertujuan membuat pencuri jera.

Mereka juga menuduh turats sebagai media radikalisasi karena merujuknya secara tekstual. Turats dianggap sebagai sumber kebenaran ketiga setelah al-Qur’an dan hadis hingga membuat seseorang bertindak radikal.

Jihad, misalnya, selama ini dipahami sebagai perang melawan kafir dan tidak dikontekstualkan dan dimaknai berdasarkan literal teks, padahal setiap yang terkandung dalam turats tetaplah sebuah tafsir.

Alhasil, jika tidak relevan, menurut mereka harus ada kontekstualisasi, yaitu apabila spirit dasar (al-ushul) masih bisa ditemukan. Teks dan konteks turats juga dipandang sudah usang sehingga memahaminya begitu saja akan mengalami ketimpangan kontekstual.

Makna Mantuq (Tekstual) dan Mafhum (Kontekstual)

Dalam menafsirkan makna al-Qur’an, ada bermacam-macam makna, antara lain mantuq (tekstual), yaitu penunjukan suatu khithab pada suatu hukum melalui lafaz. Ada pun mafhum (kontekstual) adalah penunjukan suatu khithab pada suatu hukum melalui makna yang ditunjuk oleh lafaz. (Syekh Atha bin Khalil, Usul Fikih).

Memang benar, dalam menafsirkan al-Qur’an, ada makna mantuq dan mafhum. Akan tetapi, perlu untuk memperhatikan dilalah lafaz yang menunjukkan sehingga penggunaan maknanya tepat. Dilalah lafaz inilah yang menentukan kapan harus memakai makna mantuq dan kapan memakai makna mafhum. Kesalahan dalam menggunakan maknanya akan berakibat fatal dalam menetapkan hukum.

Jihad tadi, misalnya, makna yang ditunjukkan dalam lafaz tersebut—atau mantuq-nya—adalah qital. Akan tetapi, kelompok liberal menilai makna ini sudah tidak relevan dengan zaman sekarang. Alhasil, harus ada kontekstualisasi sehingga hanya mengambil esensi atau spiritnya, yaitu mengambil makna bahasa yang berarti ‘bersungguh-sungguh’. Menurut mereka, makna jihad yang relevan dengan masa sekarang adalah ‘bersungguh-sungguh dalam aktivitas kebaikan’, tidak harus berperang atau berjuang meninggikan agama Allah Taala.

Namun, perhatikan firman Allah QS al-Hajj ayat 78, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” Imam Tsa’labi menafsirkan surah ini, “Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya, maksudnya bersungguh-sungguh dalam memerangi orang kafir.”

Jihad bermakna qital juga terdapat dalam QS al-Baqarah ayat 193, “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu hanya semata-mata untuk Allah.”

Jihad merupakan kemuliaan dan kewajiban bagi kaum muslim. Tujuan jihad adalah untuk mengantarkan manusia dari kegelapan kezaliman menuju cahaya Islam. Target jihad adalah memuliakan suatu bangsa dengan Islam, yaitu membebaskan dari berbagai kezaliman menyembah/taat kepada manusia, menuju taat pada Allah semata.

Jihad bukan untuk menjajah dan menguasai kekayaan SDA suatu negeri. Buktinya, Khilafah Islamiah melakukan futuhat (pembebasan), baik terhadap negeri kaya maupun negeri miskin, seperti Afrika Utara. Kemuliaan jihad ini sebagaimana tertuang dalam QS al-Baqarah ayat 193.

Imam ath-Thabari menafsirkannya, “[Dan perangilah mereka itu sehingga tidak ada fitnah lagi], yakni sehingga tidak ada yang menyekutukan Allah atau tidak ada yang disembah, kecuali Allah; atau tidak ada ibadah kepada berhala, Tuhan-Tuhan, dan sekutu-sekutu yang lain. Yang ada hanyalah ibadah dan taat kepada Allah semata, tanpa yang lain, sebagaimana dikatakan Qatadah, Mujahid, dan Ibnu Abbas.” (Abu Ja’far Muhammmad bin Jarir ath-Thabari, al-Jami’ al-Bayan fi Ta’wil al-Qur’an, QS al-Baqarah ayat 193, Beirut: Dar al-Kutub ‘Imiyah, 1999)

Dengan mengkaji secara mendalam, bisa disimpulkan bahwa makna jihad adalah ‘memerangi kekufuran dan kezaliman untuk meninggikan agama Allah’. Secara empiris juga telah terbukti bahwa dengan kewajiban jihad, kemuliaan Islam tidak hanya dimiliki kaum muslim di Madinah, tetapi juga meluas ke orang-orang jazirah Arab yang—sebelumnya menyembah berhala dan diatur dengan hukum jahiliah—menjadi mulia dengan memeluk agama Islam dan diatur dengan hukum Islam. Futuhat itu terus meluas hingga hampir dua per tiga dunia diterangi cahaya Islam.

Bisa dibayangkan, seandainya jihad dimaknai sebatas ‘bersungguh-sungguh dalam beraktivitas’, tidak dimaknai ‘perang’ sebagai makna sesungguhnya, Indonesia tentu tidak akan merdeka dari penjajahan Belanda. Begitu pula hari ini ketika Israel menduduki Palestina, masalah Palestina tidak akan mampu selesai, kecuali dengan jihad untuk mengusir Israel.

Butuh Mufasir dan Mujtahid, Bukan Kontekstualisasi

Sebelum membahas lebih lanjut, kita perlu memahami istilah ‘kontekstualisasi’, ‘ijtihad’, dan ‘tafsir’ al-Qur’an.

‘Kontekstualisasi ajaran Islam’ adalah upaya untuk mengontekstualkan ajaran Islam, baik dengan mengonstruksi/ijtihad kembali hukum dalam fikih Islam yang sudah ada, maupun menafsirkan kembali teks/nas yang ada dalam al-Qur’an dan hadis agar sesuai dengan konteks/realitas sosial budaya saat ini.

Mengenai ‘ijtihad’, dalam kitab asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah juz I, Syekh Taqiyuddin an-Nabhani mendefinisikan ijtihad sebagai pengerahan segenap daya upaya dalam menggali hukum-hukum syariat dari dalil-dalil yang terperinci dalam al-Qur’an dan hadis.

Ada pun ‘tafsir’ adalah ilmu untuk mengetahui pemahaman yang terdapat dalam al-Qur’an yang telah diturunkan kepada Nabi Muhammad ﷺ, menjelaskan makna-maknanya, serta mengeluarkan hukum-hukumnya dan hikmahnya. (Syekh Muhammad Ali ash-Shabuni, at-Tibyan fi Ulumi al-Qur’an, hlm. 65)

Dari sini, bisa dipahami bahwa kontekstualisasi berbeda dengan ijtihad dan tafsir al-Qur’an. Ijtihad dan tafsir al-Qur’an menjadikan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber penetapan hukum, sedangkan kontekstualisasi menjadikan fakta sebagai sumber penetapan hukum.

Berkaitan dengan landasan, maka kontekstualisasi mendasarkan pada moderasi beragama, sedangkan ijtihad dan tafsir al-Qur’an mendasarkan pada akidah Islam. Ini karena ijtihad dan tafsir merupakan bagian terpenting dari tsaqafah Islam (ilmu-ilmu Islam), yaitu pengetahuan-pengetahuan yang menjadikan akidah Islam sebagai dasar pembahasannya. Dengan demikian, seluruh pembahasan tsaqafah Islam kembali pada akidah Islam, yaitu al-Qur’an dan hadis. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah Juz I)

Mayoritas hasil ijtihad dan tafsir al-Qur’an terdapat dalam kitab tafsir karya para mufasir salaf ataupun kitab fikih karya para ulama salaf. Semua itu terkumpul dalam turats (kitab warisan dan kitab kuning), yaitu kitab-kitab tentang tsaqafah dan ilmu-ilmu Islam, seperti usul fikih, fikih, tafsir al-Qur’an, ilmu al-Qur’an, ilmu hadis, hadis, tarikh Islam, dan sebagainya.

Memang, tafsir al-Qur’an dan fikih Islam karya ulama salaf terkadang tidak meliputi permasalahan-permasalahan baru. Dari sinilah kelompok liberal menganggapnya tidak relevan lagi dengan zaman sekarang sehingga harus ada kontekstualisasi.

Sejatinya, agar tafsir al-Qur’an mampu menjawab problem kontemporer, yang diperlukan adalah adanya para mufasir dan mujtahid yang menggunakan metode tafsir dan ijtihad yang benar untuk menjawab problem tersebut. Bukan dengan cara kontekstualisasi, baik dengan rekonstruksi fikih maupun reinterpretasi tafsir al-Qur’an.

Dengan demikian, kontekstualisasi termasuk memaknai dan menafsirkan al-Quran berdasarkan pendapat pribadi atau hawa nafsu semata, padahal banyak sekali hadis yang mengingatkan kita untuk tidak boleh bermain-main dalam menafsirkan al-Qur’an. Sekalipun penafsiran yang bersumber dari pendapatnya itu ternyata benar, ini tetap dinilai sebagai suatu kesalahan. (Syekh Muhamad Ali ash-Shabuni, at-Tibyan fi Ulumi al-Qur’an, hlm. 155—156)

Dari Jundab Ibnu Abdillah berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa berkata tentang al-Qur’an (menafsirkan al-Qur’an) dengan akalnya, ternyata benar, sungguh ia telah berbuat salah.” (HR Turmudzi dari Jundab, Tafsir al-Qur’an ‘an Rasulillah, bab ‘Ma Ja’a fi al-Ladzi Yufassiru al-Qur’ana bi ar-Ra’yi’ hadis no. 2876 dan HR Abu Dawud hadis no. 2167)

Demikian pula dalam menafsirkan al-Qur’an, wajib tetap mengacu kepada al-Qur’an dan hadis, bukan menjadikan akal/pendapatnya sebagai acuan. Terdapat ancaman keras bagi orang-orang yang menafsirkan al-Qur’an dengan pendapat/akalnya atau tidak disertai ilmu.

Dari Ibnu Abbas Rasulullah ﷺ bersabda, “Barang siapa berbicara tentang al-Qur’an tanpa disertai ilmu, hendaklah bersiap-siap mengambil tempat duduknya dari api neraka.” (HR Turmudzi dari Jundab, Tafsir al-Qur’an ‘an Rasulillah, bab ‘Ma Ja’a fi al-ladzi Yufassiru al-Qur’ana bi ar-Ra’yi’ hadis no. 2874 dan HR Ahmad hadis no.1965). Abu Musa berkata ini hadis hasan sahih.

Ajaran Islam Relevan dengan Seluruh Zaman

Syariat Islam harus menjadi pedoman bagi kita saat beraktivitas di seluruh urusan kehidupan. Syariat Islam adalah pedoman saat beribadah, makan-minum, bergaul, berekonomi, berhukum, berpolitik, berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, bahkan bernegara.

Pelaksanaan syariat Islam kafah tidak cukup diterapkan oleh individu dan jema’ah, melainkan harus ada institusi yang memiliki kekuasaan untuk menerapkan syariat Islam secara keseluruhan, yaitu negara. Orang yang masuk Islam wajib menerapkan syariat Islam secara kafah, tanpa terkecuali. Tidak boleh memilih-milih yang dinilai dibutuhkan dan relevan saja.

Penerapan Islam kafah pun tidak cukup sekadar menerapkan syariat Islam di sebagian aspek kehidupan dan meninggalkan sebagian lainnya. Syekh Taqiyuddin an-Nabhani dalam kitab Syakhshiyah Islamiyyah juz III menjelaskan bahwa syariat Islam mencakup seluruh hukum, melingkupi seluruh perbuatan manusia dengan lingkup yang sempurna, serta mencakup berbagai masalah yang telah, sedang, dan akan terjadi. Tidak ada satu pun masalah yang tidak ada hukumnya dan tidak ada satu pun problem yang tidak ada solusinya.

Firman Allah dalam QS an-Nahl ayat 89, “Dan Kami turunkan kepadamu al-Kitab (al-Qur’an) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.”

Menerapkan syariat Islam secara kafah dan sempurna juga ditegaskan di dalam QS al-Maidah ayat 3, “Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridai Islam jadi agama bagimu.”

Ibnu Abbas dalam Tanwir Miqbas tentang QS al-Maidah ayat 3, “[Pada hari ini (waktu haji) telah Kusempurnakan untukmu agamamu], menjelaskan kepada kalian syariat agama Islam berupa halal-haram dan perintah-larangan. [Telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, anugerah-Ku], tidak mengumpulkan bersama kalian orang musyrik setelah hari ini, dan anugerah dari-Nya berupa bertemu Arafah, tawaf, dan sai antara Safa dan Marwah. [Telah Kuridai], yakni telah Allah pilihkan Islam itu jadi agama bagimu.”

Dalam Tafsir Jalalain juz I, Imam Jalaluddin menafsirkan QS al-Maidah ayat 3, “[Pada hari ini telah Kusempurnakan untukmu agamamu], yakni hukum-hukumnya dan kewajiban-kewajibannya, maka tidak turun lagi setelahnya halal-haram; [dan telah Kusempurnakan kepadamu nikmat], yakni dengan sangat sempurna dan masuk Makkah dengan aman, [dan telah Kuridai atau telah Kupilihkan] Islam itu jadi agama bagimu.”

Khatimah

Dengan mengkaji secara mendalam QS al-Baqarah ayat 208 tentang kewajiban menerapkan Islam/syariat Islam secara kafah, QS al-Maidah ayat 3 tentang Islam agama yang sempurna dan syariat Islam sebagai sistem hukum yang sempurna, dan QS Saba’ ayat 28 bahwa agama Islam untuk seluruh umat manusia, bisa kita simpulkan bahwa penerapan syariat Islam secara kafah adalah sama, di mana pun dan zaman kapan pun, tetap relevan dan tidak membutuhkan kontekstualisasi.

Wallahualam. []

Sumber: Ustazah Rahmah

About Author

Categories