Rizal Ramli: Rakyat Tak Butuh Pindah Ibu Kota, Butuhnya Presiden Baru

MUSTANIR.net, Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan memindahkan ibu kota ke luar Pulau Jawa. Lantaran, Jakarta yang berada di Pulau Jawa menanggung dua beban sekaligus yakni pusat pemerintahan dan layanan publik, serta pusat bisnis.

Jokowi pun mempertanyakan kemampuan Jakarta untuk menanggung beban tersebut.

Namun, rencana Jokowi memindahkan ibu kota tak lepas dari kritik pedas. Kritik itu salah satunya dari mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Rizal Ramli. Rizal menilai, saat ini lebih butuh presiden baru dari pada ibu kota baru.

Kritik juga datang dari Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon. Ia menilai, rencana pindah ibu kota hanya isapan jempol belaka.

Tim Kampanye Nasional (TKN) Joko Widodo-Ma’ruf Amin pun tak tinggal diam atas kritik tersebut. Berikut berita selengkapnya dirangkum detikFinance:

Rizal Ramli, yang saat ini juga menjadi salah satu tim ahli calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto berkomentar terkait rencana pemindahan ibu kota. Dia menyebut, saat ini lebih butuh presiden baru.

“Rakyat hari ini tidak perlu ibu kota baru, tapi butuh presiden baru, terima kasih,” ungkap Rizal kepada awak media usai mengikuti peringatan May Day 2019 bersama capres Prabowo Subianto, di Tennis Indoor Senayan Jakarta, Rabu (1/5).

Tak jauh berbeda dengan Rizal, Presiden Konfederensi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) Saiq Iqbal menilai pemindahan ibu kota belum dibutuhkan. Menurutnya, biaya Rp 400 triliun untuk memindahkan ibu kota lebih baik digunakan untuk kesejahteraan rakyat, terutama buruh.

“Bagi kami kaum buruh (wacana pemindahan ibukota) tidak terlalu urgent, its not necessary, tidak terlalu dibutuhkan. Saya dengar informasinya dananya aja Rp 400 triliun kan lebih baik untuk kesejahteraan,” kata Said.

Said menilai, dana tersebut bisa digunakan untuk mengintervensi pasar agar kebutuhan pokok menjadi murah.

“Lakukan intervensi pasar buat turunkan turunkan harga dasar listrik. Itu Rp 400 triliun kan 25% dari APBN itu, sia-sia,” kata Said.

“Kesejahteraan lebih penting,” tambahnya.

Fadli Zon menilai, rencana memindahkan ibu kota hanya wacana isapan jempol untuk pengalihan isu. Menurutnya, isu pemindahan ibu kota pernah digulirkan namun kemudian reda.

“Itu saya kira wacana isapan jempol saja untuk mengalihkan isu ya. Dulu juga begitu empat tahun, lima tahun yang lalu. Nanti juga reda sendiri,” kata Fadli.

Fadli mengatakan, pemindahan ibu kota tak kunjung terwujud. Fadli pun bilang, jika pemerintah berniat mewujudkannya maka harus mempersiapkannya matang-matang.

“Sudahlah, ini omong kosong. Omong kosong yang dilakukan oleh Presiden Jokowi,” ujarnya.

Anggota TKN Hendrawan Supratikno merespons pernyataan Rizal Ramli. Dia bilang pernyataan Rizal Ramli hanya iseng dan usil.

“Itu orang yang iseng dan usil, ini kan kita harus belajar dari guru-guru besar geografi, sosiologi, dan tata kota itu namanya carrying capacity. Jadi daya topang Jakarta ini sudah memprihantinkan karena faktor ekologis itu tidak mendukung lagi,” ungkap Hendrawan kepada detikFinance.

Salah satu faktor yang disorotinya adalah potensi meluapnya air laut yang menurut Hendrawan diprediksi 10 tahun lagi merendam Jakarta. Selain itu, dia mengatakan permukaan tanah di Jakarta semakin turun.

“Misal intrusi air laut 10 tahun lagi sampe ke Jakarta Pusat, permukaan tanah Jakarta Utara bisa turun 20-30 cm. Kalau jadi global warming maka kota Jakarta akan terendam,” ungkap Hendrawan.

Hendrawan menambahkan alasan lainnya adalah melihat pengalaman negara lain yang berhasil memindahkan ibu kota. Menurutnya, lebih baik pemerintahan dalam ibu kota dipisah dari daerah pusat perniagaan.

“Juga belajar dari negara lain yang sukses meratakan pembangunan, memisahkan registrasi pemerintahan dan kota perniagaan. Waktu dalam rapat Menteri Bappenas contohkan Brazil dari Rio de Janeiro ke Brasilia City,” ungkap Hendrawan.

Sementara, Juru Bicara TKN Ace Hasan Syadzily menilai, pernyataan Fadli Zon soal pemindahan ibu kota terlalu sering halusinasi.

“Karena terlalu sering berhalu, Fadli Zon terkena penyakit hati. Ini sekali lagi diperlihatkan ketika Fadli Zon merespon langkah besar Pak Jokowi untuk memindahkan ibu kota dari Jakarta,” katanya dalam keterangan tertulis.

Ace pun berpesan, mendekati puasa harusnya penyakit hati seperti sirik, iri dan dengki dikurangi. Kemudian, perbanyak amal ibadah. Dia juga mengatakan, seharusnya pemikiran besar untuk kemajuan bangsa didukung.

“Harusnya pemikiran besar yang baik untuk kemajuan bangsa ini didukung. Apalagi gagasan besar ini juga dicetuskan oleh Soekarno, disambung Pak Harto, dan terakhir oleh Pak SBY. Tapi gagasan besar itu tidak pernah jadi keputusan politik dan selanjutnya direncanakan dengan matang. Hanya di era periode Pak Jokowi, gagasan besar ini dengan tegas diputuskan,” jelasnya.

Hal itu ditambah dengan rekam jejak Jokowi selama memerintah. Ace yakin, gagasan besar ini akan dieksekusi.

“Melihat rekam jejak Pak Jokowi dalam empat setengah tahun ini, saya yakin gagasan besar itu akan bisa dieksekusi. Kekuatan Pak Jokowi adalah mampu menyelesaikan dan mewujudkan gagasan atau konsep yang sudah dibicarakan sebelumnya. Banyak pekerjaaan besar seperti MRT, LRT, jalan tol yang mangkrak bisa diselesaikan dengan kepemimpinan Pak Jokowi,” ujarnya.

“Sebaliknya apa yang bisa dibanggakan dari gagasan dan. kerja seorang Fadli Zon, kecuali sibuk menukarkan penyakit hati ke pendukungnya. Tapi rakyat sudah tahu siapa Fadli Zon,” ujarnya. []

Sumber: finance.detik.com

Categories