Romantisme di Detik Akhir Kekasih Allah

Romantisme di Detik Akhir Kekasih Allah

Kita yang beragama Islam tentunya sudah mafhum bahwa Rasulullah, Suri Teladan kita adalah suami yang romantis kepada istri-istrinya. Keromantisannya adalah bagian dari teladan yang bisa di ikuti oleh seluruh umatnya. Bahkan hingga di detik-detik akhir menjelang beliau SAW wafat masih ada satu fragmen romantis bersama Ummul Mukminin, Aisyah ra.

Detik-detik kematian telah tiba, Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah kepada dadanya. Aisyah berkata, “Termasuk nikmat yang diberikan kepadaku adalah bahwa Rasulullah wafat di rumahku, di antara dada dan leherku, Allah mengumpulkan ludahku dengan ludah beliau pada saat kematiannya. Abdurrahman bin Abu Bakar masuk, di tangannya ada sepotong siwak, sedangkan Rasulullah bersandar pada tubuhku, aku melihat Rasulullah memandang siwak tersebut dan aku tahu bahwa beliau menyukai siwak, aku berkata kepada beliau, “Maukah aku ambilkan untukmu?” Beliau menganggukkan kepalanya bertanda mengiyakan, kemudian aku berikan siwak tersebut kepada beliau, akan tetapi siwak tersebut sangat keras bagi beliau, sehingga aku bertanya kepada beliau, “Maukah aku lunakkan untukmu?” Beliau mengisyaratkan dengan kepalanya bertanda mengiyakan, maka aku pun melunakkannya, kemudian Rasulullah menggosokkannya pada giginya. Diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Garis bawah terbentang pada ucapannya, “Aku melihat Rasulullah memandang siwak tersebut dan aku tahu bahwa beliau menyukai siwak.” Bagaimana Aisyah mengerti keinginan Rasulullah hanya melalui tatapan mata. Bagaimana seorang istri memahami keinginan suami hanya saat matanya berbicara. Karena hubungan keduanya yang sedemikian kuat, jalinan keduanya sedemikian mendalam.

Demikian selayaknya suami istri, hidup berdua dalam rentang waktu yang panjang, hubungan erat tanpa pembatas, pergaulan intensif tanpa tabir, bukan hanya lahir saja yang diketahui, akan tetapi menyelam ke dalam batin, semua itu akan membuat suami istri saling memahami yang lain tanpa perlu lidah berkata-kata, akan tetapi cukup mata yang berbicara. Bagaimana Anda? Mata adalah lidah yang tidak berdusta.

Wallahu a’lam.

Categories