Saat Dakwah Terabaikan

Saat Dakwah Terabaikan

Mustanir.com – Mengerikan!!! Mungkin, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan akibat dakwah ditinggalkan. Tentang hal ini, Al-Qur’an dan as-Sunnah sangat keras dalam memberi peringatan. Nash-nash yang tegas, menyeruak di alam realita yang panas. Mulai dari tertimpa laknat Alloh, terancam azab, tidak dikabulkannya do’a, tersebarnya kerusakan dan kebinasaan secara massal, hingga orang-orang jahat menjadi penguasa, leluasa menzholimi umat.

“Telah dilaknati orang-orang kafir dari kalangan Bani Israel melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.”(QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Bani Israel itu dikutuk oleh Alloh, karena tidak melarang tindakan mungkar di antara mereka. Sebagian dikutuk menjadi kera, sebagian lagi menjadi babi, sedang sisanya hidup terlunta-lunta hingga saat ini. Nama Yahudi semacam identik dengan licik, angkuh, pengecut, dan tak pernah menepati janji hingga semua orang benci. Banyak Negara yang tidak rela negerinya ditinggali orang Yahudi, seperti Spanyol, sampai dengan hari ini tidak menerima eksistensi Yahudi.

Kisah terkutuknya mereka berawal ketika mereka melanggar larangan Alloh ta’ala menangkap ikan di hari sabtu. Sebagian mempermainkan larangan itu dengan memasang perangkap ikan pada jum’at sore, lalu mengambil hasilnya di hari ahad pagi. Kelompok pertama mengingatkan bahwa itu adalah pelanggaran, kelompok kedua diam. Kelompok pertama yang berdakwah diselamatkan oleh Alloh, sedang orang-orang yang bermaksiat dikutuk menjadi kera. Sedang kelompok yang diam para ulama berbeda pendapat, menurut pendapat yang kuat, mereka diazab dengan azab serupa. (Lihat tafsir QS. al-Baqarah: 65-66)

Kutukan ini tidak hanya khusus bagi Yahudi di masa lampau, tapi bisa menimpa kepada orang-orang yang semisal mereka di mana saja. Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam sudah memberi tahu kita bahwa hukuman semacam itu bisa saja mengena umat Islam.

“Beberapa saat sebelum Hari Kiamat tiba, manusia akan diubah menjadi kera dan babi, ditelan bumi dan dihujani batu.” (Shahih Ibnu Majah no. 3280)

Kutukan itu bisa sirna jika dakwah ditegakkan, sebab dakwah adalah obat mujarab pencegah laknat dan azab.

Dari Hudzaifah bin Al-Yaman rodiyallohu ‘anhu, Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Alloh akan mengirimkan untuk kalian hukuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.” (HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani)

“Tidaklah suatu kaum yang di hadapan mereka ada orang yang melakukan kemak-siatan, padahal mereka lebih perkasa dari-nya dan lebih mampu (untuk mengubah-nya), namun mereka tidak mengubahnya, melainkan Alloh menimpakan azab kepada mereka karenanya.” (HR. Ahmad)

“Perumpamaan orang-orang yang mencegah berbuat maksiat dan yang melanggarnya adalah seperti kaum yang menumpang kapal. Sebagian dari mereka berada di bagian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atasnya. Lalu mereka berkata: ‘Andai saja kami lubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami’. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah semuanya”. (HR. Al-Bukhari)

Kapal yang sudah bocor lalu tenggelam telah pernah dialami negeri ini. Hantaman gelombang Tsunami, semburan Lumpur Lapindo, gempa bumi di Sumatera Barat, letusan gunung berapi di Yogyakarta, banjir dimana-mana memusnahkan anak bangsa beserta harta bendanya. Kapal karam, pesawat hilang di lautan dan di belantara hutan. Semua adalah akibat kemaksiatan yang tidak segera diingatkan, akibat da’wah ter-abaikan.

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengazab orang-orang secara keseluruhan akibat perbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang, kecuali mereka melihat kemung-karan itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak menolaknya. Apabila mereka seperti itu, niscaya Alloh akan mengazab orang yang melakukan kemungkaran tadi dan semua orang secara menyeluruh.” (HR. Imam Ahmad)

“Hendaklah kalian memerintahkan kemarufan dan mencegah kemungkaran, kalau tidak, Alloh pasti akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian menguasai kalian(HR al-Bazzar dan ath-Thabrani).

Di depan mata, kita sudah bisa menyak-sikan kerusakan besar akibat da’wah di-tinggalkan. Kebodohan tumbuh subur dengan dianggapnya kebathilan sebagai kebenaran. Manusia tenggelam dalam pelanggaran hukum-hukum-Nya, sedang di waktu yang sama pelanggaran dipahami sebagai sebuah kebanggaan. Tindak kriminal bak wabah, menyebar luas lebar, tinggi dan mengakar. Hati hati menjadi keras  lagi bebal tak mempan lagi dinasehati. Kebencian antar sesama terjadi setiap saat hampir me-nyelimuti segala sisi kehidupan. Sangat mengerikan.

Saat ini, kita semua sedang dalam situasi genting sekali. Masa ini adalah masa darurat da’wah. Terabaikannya da’wah berarti kengerian akan terus saja mengaliri ruas-ruas kehidupan kita bahkan anak ke-turunan kita sepanjang hari. Kita tak bisa untuk tidak peduli.

Sebab, tidak  peduli terhadap kemungkaran adalah tindak kriminal. Suatu waktu, sekelompok pemabuk dihadapkan pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk mendapatkan hukuman. Sementara di sana juga ada seorang muslim yang duduk bersama mereka, tetapi dia tidak ikut-ikutan karena sedang berpuasa. Saat itu, polisi diperintahkan untuk mencambuk semua orang yang ada di sana. Namun, sang polisi bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut minum bersama mereka; dia sedang berpuasa.” Umar bin Abdul Aziz tegas berkata, “Cambuklah delapan puluh kali deraan, karena ia seperti orang-orang yang mabuk itu!” Mengapa demikian? Karena tindakan ini sesuai dengan firman Alloh QS. an-Nisa: 140.

“Ya Allah kuatkanlah iman kami. Teguhkanlah pendirian kami. Kuatkanlah semangat kami untuk senantiasa istiqamah di jalan-Mu.”

SUMBER

Categories