Seabrek Bukti Kekejaman Ketika Penjajahan Belanda

Seabrek Bukti Kekejaman Ketika Penjajahan Belanda

Oleh: Alwi Shahab

Parlemen Belanda pernah tersinggung berat menanggapi pernyataan Yusril Ihza Mahendra saat menjadi Menkumham. Ia ini merujuk pada fakta sejarah kekejaman yang pernah dilakukan Negeri Kincir Angn itu terhadap Indonesia selama masa penjajahan. Pernyataan Yusril ini dianggap sebagai kebencian terhadap orang Belanda. Selain kasus Westerling yang membunuh 40 ribu rakyat di Sulawesi Selatan pada 1947, masih banyak lagi kasus serupa yang lebih kejam dilakukan Belanda pada rakyat Indonesia.

Tidak heran, ketika Ratu Yuliana berkunjung ke Indonesia awal 1970-an, muncul permohonan dari pihak Belanda sendiri agar Ratu meminta maaf atas perlakuan Belanda di masa lalu. Konon, dalam pertemuannya dengan Presiden Soeharto ia minta agar kedua negara melupakan masa lalu yang pahit.

Saat mengalami krisis keuangan akibat peperangan di Eropa, guna menyehatkan ekonominya, Pemerintah Belanda menunjuk Johannes van den Bosch untuk menjabat gubernur jenderal di Hindia Belanda (1830-1833). Hanya beberapa saat setibanya di Batavia, van den Bosch langsung memberlakukan sistem cultuurstelsel.

Di dalam pelaksanaan sistem tanam paksa ini, ia menunjukNederlandsche Handels Maatschappij (NHM) sebuah perusahaan dagang yang didirikan Raja Belanda pada 1824, setelah bangkrutnya VOC. Hingga kini, gedung NHM masih berdiri dengan kokohnya di kawasan Jakarta kota, tak jauh dari stasiun kereta api Beos. Sampai 1960-an, kawasan tempat gedung megah ini berdiri disebut faktori, sebutan rakyat untuk NHM.

Perusahaan raksasa ini mendapat hak istimewa dari Kerajaan Belanda untuk mengangkut dan menjual hasil bumi Indonesia yang sebagian besar berasal dari sistem tanam paksa. Dengan sistem ini, pemerintah kolonial sangat mudah dan murah memperoleh hasil bumi yang diinginkan untuk dijual di pasaran dunia. Sedangkan, yang tidak memiliki tanah diharuskan kerja paksa (rodi) selama 60 hari dalam setahun.

Kemakmuran Belanda Tercipta dari Keringat dan Darah Rakyat Indonesia

Menurut ketentuan, rakyat diharuskan menanam seperlima tanahnya dengan tanaman yang laku dijual di mancanegara. Banyak penyelewengan yang dilakukan oleh petugas-petugas yang korup dalam pelaksanaannya. Seperti rakyat diwajibkan menanam sepertiga bahkan setengah dari tanahnya dengan tanaman-tanaman yang sudah ditentukan Kerajaan Belanda.

Dengan politik intimidasi dan kekerasan, termasuk memeras rakyat, sistem tanam paksa banyak sekali memberi keuntungan kepada rakyat dan negeri Belanda. Kas kerajaan yang tadinya sangat kritis dengan cepat terisi.

Ekonomi negeri Belanda jadi membaik dan sehat. Kemakmuran rakyat Belanda dengan cepat meningkat. Setiap tahun berjuta-juta gulden mengalir dari Indonesia yang kaya raya ke negeri Belanda. Bahkan pada 1832 dan 1867 keuntungan yang diperoleh Belanda mencapai 967 juta gulden. Kala itu nilai gulden sangat tinggi, sementara dolar belum merajai perbankan seperti sekarang.

Untuk jasanya, pencipta sistem tanam paksa Johannes van den Bosch menerima gelar bangsawan graaf. Tapi, kemakmuran negeri Belanda ini tercipta dengan korban nyawa, keringat, darah, dan air mata rakyat Indonesia. Sistem tanam paksa telah mengakibatkan terjadinya bahaya kelaparan yang merenggut nyawa ribuan orang. Pada 1844 di daerah Cirebon terjadi bahaya kelaparan yang merenggut ribuan nyawa orang dan pada 1848 daerah Demak diserang wabah kelaparan.

Demikian pula bencana kelaparan di daerah Grobogan, Jawa Tengah, pada 1849 yang dikabarkan menelang korban jiwa sebanyak 9/10 dari jumlah penduduk yang ada. Penduduk Demak yang kala itu berjumlah 336 ribu jiwa tinggal 120 ribu jiwa.

Begitu besarnya jumlah korban, hingga sistem tanam paksa ini mendapat tantangan dari sejumlah orang Belanda sendiri. Di antaranya Douwes Dekker, asisten residen Lebak, Banten, yang menggunakan nama samaran Multatuli. Karyanya Max Havelaarmengkritik pedas kekejaman bangsanya saat itu.

Sultan Banten Dibuang

Sebelumnya, di masa Gubernur Jenderal Marsekal Herman Willem Daendels (1808-1811), tiap kepala rakyat di Jawa Barat diperintahkan menanam dan memelihara 500 pohon kopi. Hasil panen harus dijual pada Pemerintah Hindia dengan harga 10 gulden per kwintal. Padahal harga di pasaran lebih tinggi 10 kali lipat. Daendels membuang Sultan Banten karena tidak sanggup mengumpulkan seribu orang tiap hari untuk mengerjakan proyek jalan raya Anyer sampai Panarukan.

Sultan yang menentang Belanda karena rakyatnya diperkerjakan secara paksa di Ujung Kulon, yang kala itu menjadi sarang penyakit, akhirnya dibuang. Keratonnya dihancurkan dan hingga kini masih kita dapati puing-puingnya. Menurut catatan sejarah, lebih seribu orang mati dan ribuan lagi cedera akibat sistem kerja paksa Daendels, sekalipun hasilnya dapat kita nikmati berupa jalan raya sepanjang 1.200 km.

Kekejaman Belanda terus diikuti oleh Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen. Tidak lama setelah mendirikan Batavia, pada 1621 ia memusnahkan penduduk pulau Banda di Maluku. Terdapat laporan bahwa di pulau ini JP Coen telah melakukan pembunuhan dan pembantaian luar biasa kejamnya. Rakyat Banda yang tidak gugur dalam perlawanan atau mati dibunuh serdadu VOC diangkut ke Batavia sebagai budak belian.

Menurut catatan sejarah, sampai 1633 mereka masih dirantau sebagai budak. Orang-orang Banda ini ditempatkan di Kampung Banda(n), dekat Ancol, Jakarta Utara. Sementara orang Bali yang diangkut ke Batavia sebagai budak pada 1683 berjumlah 13 ribu jiwa. (rol/adj)

Categories