Abdurrahman Atçıl

Sejarah dan Peran Madrasah di Era Turki Utsmani

MUSTANIR.net – Madrasah era kesultanan Turki Utsmani pada umumnya merupakan kelanjutan dari madrasah Islam tradisional. Namun madrasah Utsmani menciptakan kurikulum dan tradisi pendidikan mereka sendiri.

Sering dianggap tertinggal, tidak relevan, dan terpisah dari kenyataan, pendidikan ala madrasah dianggap sebagai sisa-sisa dari kesultanan Utsmani yang telah runtuh. Namun sesungguhnya madrasah merupakan salah satu metode pendidikan yang bagus.

Di masyarakat Utsmani, madrasah memiliki peran utama sebagai bagian dari fondasi sosial Utsmani dan kekuatan politik yang mengaturnya. Keduanya penting untuk kekuatan bangsa dan negara masyarakat. Sayangnya fakta ini mulai dilupakan orang.

Dilansir dari Muslim Heritage (2019), sebuah studi tentang madrasah Utsmani mengungkap fakta yang mengejutkan tentang kelengkapan dan dinamisme metode pendidikan yang bagus ala madrasah.

Pendekatan kesultanan Utsmani terhadap madrasah dapat dilihat dalam dokumen resmi. Mereka menunjukkan tujuan pendidikan yaitu mengejar ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan, diikuti oleh penjelasan tentang kebajikan, bakat, agama dan syariat, serta pengembangan kemampuan dan keahlian umat manusia.

Madrasah Utsmani juga menyediakan pendidikan, budaya, dan pandangan dunia yang sama di antara mozaik umat muslim dari beragam etnis. Mereka juga berfungsi untuk memastikan kesetaraan kesempatan dalam pendidikan bagi setiap orang, serta menyediakan mobilitas di antara berbagai kalangan masyarakat.

Madrasah adalah bagian dari kehidupan sosial, bertumpu pada landasan intelektual yang sama, dan berbagi pandangan dunia yang sama yang didasarkan pada pendirian keagamaan.

Meskipun pendidikan ala madrasah Utsmani dimulai tepat setelah abad ke 14 di bagian barat Anatolia, mereka terus berkembang ketika kekaisaran berkembang. Selama penaklukan kesultanan Utsmani, masjid dan madrasah merupakan bangunan pertama yang dibangun. Ini menunjukkan madrasah memiliki peran penting bagi kekaisaran.

Secara struktural, madrasah Utsmani adalah bagian dari sistem wakaf. Mereka mandiri secara finansial dan kegiatannya di bawah pengawasan negara.

Madrasah tak hanya didirikan oleh para sultan dan anggota keluarga kerajaannya. Namun juga didirikan oleh wazir, negarawan, dan cendekiawan.

Mereka diorganisasi dalam tatanan hierarkis dengan Madrasah Suleymaniye Dar al-Hadis menduduki pangkat tertinggi di antara semua madrasah lainnya.

Kurikulum madrasah Utsmani berbeda dengan kurikulum madrasah negara muslim sebelumnya. Dibandingkan dengan 1 atau 2 mata pelajaran yang dipelajari di madrasah kontemporer, seorang siswa selama periode Utsmani akan diajarkan teks-teks yang mencakup sintaksis morfologi (sarf) (nahiv) dan logika (mantik). Pelajaran tersebut diikuti oleh studi hadits dan tafsir al-Qur’an.

Studi dalam pemilihan (ocâb-i bahs), dakwah (vaaz), retorika (belâgat), teologi filosofis (kelâm), filsafat (hikmet), yurisprudensi (fikih), warisan (ferâiz), ajaran agama (akaid), teori hukum dan metodologi (usûl-i fikih) juga diajarkan.

Selama abad ke 19 (sebelum 1869) masih ada 166 Madrasah aktif di Istanbul dengan 5.369 siswa. Pada tahun 1924, Republik Turki setelah revolusi pendidikan mengakhiri sistem madrasah Utsmani. Begitulah perjalanan panjang madrasah Utsmani yang harus berakhir di era Mustafa Kemal Atatürk. []

Sumber: Ayu Dita Rahmadhani, Jurnalis

Categories