
Islam: Agama Sekaligus Ideologi
MUSTANIR.net – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menilai bahwa dua ideologi ekonomi terbesar yaitu kapitalisme dan komunisme-sosialisme telah gagal memberi keadilan bagi orang banyak. Dia meyakini ekonomi Islam atau syariah bisa menjadi alternatif konkret.
“Di dalam konteks pergulatan ideologi dunia inilah ekonomi Islam muncul dan seharusnya menjadi sebuah inspirasi atau juga sekaligus jalan ke tiga, sistem yang berlandaskan kepada sebuah etika dan moral yang inklusif, berkeadilan,” ujarnya ketika memberi pidato di Sarasehan Nasional Ekonomi Syariah, Rabu (13/8/2025).
Pernyataan Sri Mulyani mengonfirmasi bahwa di dunia ini memang hanya ada 3 ideologi yakni kapitalisme (yang beraqidah sekulerisme), sosialisme (yang beraqidah komunisme), dan Islam (yang beraqidah juga Islam).
Kenapa Islam disebut juga sebagai ideologi (mabda’), bukan hanya sebagai agama (dien)? Itu karena Islam sesuai dengan definisi dari ideologi itu sendiri, yakni:
المبدأ عقيدة عقلية ينبثق عنها نظام
“Mabda’ adalah aqidah aqliyah yang darinya melahirkan aturan.”
Aqidah aqliyah yang menyoal 3 pertanyaan mendasar:
1. Dari mana manusia berasal?
2. Untuk apa manusia hidup di dunia ini?
3. Akan ke mana manusia setelah kehidupan ini berakhir?
Ketiga pertanyaan ini kemudian dijawab oleh manusia dengan akalnya yang kemudian melahirkan pemahaman yang bersifat sekulerisme dan sosialisme. Islam pun menjawab ketiga pertanyaan tersebut. Aqidah Islam juga bersifat aqliyah.
Kenapa?
Dalil dalam masalah aqidah itu bersifat naqli dan juga bersifat aqli. Untuk menentukan kapan menggunakan dalil naqli dan kapan menggunakan dalil yang bersifat aqli tergantung kepada fakta yang akan dibahas.
Jika perkara tersebut di luar jangkauan panca indra manusia, maka pembahasannya menggunakan dalil yang bersifat naqli, misalnya iman kepada malaikat, iman kepada para Nabi dan Rasul, beriman kepada kitab Zabur, Taurat dan Injil, dll. Jika pembahasan tersebut bisa dijangkau oleh panca indra manusia, maka dalil yang digunakan bersifat aqli, misal beriman kepada al-Qur’an.
Nah, untuk menentukan kapan menggunakan dalil yang bersifat naqli dan aqli itulah yang disebut dengan aqidah aqliyah. Islam menjawab ketiga pertanyaan di atas dengan menggunakan wahyu Allah, yakni jawaban dari al-Qur’an.
Al-Qur’an sendiri kebenarannya sudah terbukti dengan akal manusia, yakni dengan akalnya, manusia bisa membuktikan bahwa al-Qur’an bersumber dari kalamullah, bukan buatan Nabi Muhammad ﷺ, apalagi buatan orang Arab.
Sebagai sebuah ideologi, maka sebagaimana kapitalisme dan sosialisme, Islam pun tidak hanya mengatur soal ekonomi, namun termasuk aturan dalam masalah politik, hukum, sosial, budaya, dan lainnya.
Kembali kepada Islam, yakni kembali menjalankan syariah Islam secara kaffah, adalah juga bukti kecintaan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Karena beliau diutus ke dunia dengan membawa risalah Islam. Cinta Nabi maka harusnya cinta kepada apa yang beliau bawa. Dan yang beliau bawa adalah Islam (aqidah Islam dan syariah Islam).
Mengaku cinta kepada Nabi Muhammad ﷺ namun tidak mau diatur dengan syariah Islam, maka cintanya dianggap cinta yang dusta. Karena cinta kepada Allah ﷻ harus dibuktikan secara nyata dengan mengikuti dan meneladani Rasulullah ﷺ, yakni dengan mengikuti risalah yang beliau bawa. Itulah syariah Islam. Allah ﷻ berfirman:
قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah, “Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS Ali Imran [3]: 31)
Imam Ibnu Katsir (w. 774 H) di dalam Tafsîr al-Qurân al-Azhîm menjelaskan ayat ini dengan menyatakan, “Ayat yang mulia ini menetapkan bahwa siapa saja yang mengklaim cinta kepada Allah, sedangkan ia tidak berada di jalan Muhammad ﷺ (tharîqah al-Muhammadiyyah), maka ia berdusta sampai ia mengikuti syariah Muhammad ﷺ secara keseluruhan.”
Wallahu a’lam bisshowab. []
Sumber: Adi Victoria
