Semua Pemimpin Akan Menangis Membaca Kepemimpinan Umar

Semua Pemimpin Akan Menangis Membaca Kepemimpinan Umar

Mustanir.com – Ini adalah kisah yang dapat menjadi perenungan kita bersama. Ini juga adalah kisah yang dapat menjadi bahan renungan untuk seluruh pemimpin muslimin. Ini adalah kisah yang dapat membuat anda menangis karena perasaan takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ini adalah kisah nyata, tentang seorang pemimpin yang sungguh takut kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memiliki keadilan yang semua orang sepakat atas keadilannya. Mari simak dan resapi kisah berikut ini.

Hafs, kawan dekat ‘Umar ibn Khaththab semasa menjabat khalifah, selalu menolak makan bersamanya. Ia mengkritik makanan Khalifah yang terlalu sederhana. Ia mengatakan bahwa makanan keluarganya lebih baik daripada makanan ‘Umar.

Umar berkata, “Kalau aku mau, aku dapat menikmati makanan terbaik dan pakaian terindah. Tetapi aku sisakan kesenanganku untuk Hari Akhir.”

Lalu Sayyidina Umar ra bercerita, “Aku pernah minta izin menemui Rasulullah. Aku mendapati beliau sedang berbaring di atas tikar yang sangat kasar. Sebagian tubuh beliau berada di atas tanah. Beliau hanya berbantal pelepah kurma yang keras. Aku ucapkan salam kepadanya dan duduk di dekatnya. Aku tidak sanggup menahan tangisanku.”

“Mengapa engkau menangis, hai Putra Khaththab?” Rasulullah saw bertanya.

Aku berkata, “Bagaimana aku tidak menangis. Tikar ini telah menimbulkan bekas pada tubuh engkau. Engkau ini Nabi Allah, kekasih-Nya. Kekayaanmu hanya yang aku lihat sekarang ini. Padahal di tempat sana, Kisra dan Kaisar duduk di atas kastil emas, berbantalkan sutra.”

Nabi yang mulia berkata, “Mereka telah menyegerakan kesenangannya sekarang juga; kesenangan yang akan cepat berakhir. Kita adalah kaum yang menangguhkan kesenangan kita untuk Hari Akhir kita. Perumpamaanku dengan dunia seperti seseorang yang bepergian pada musim panas. Ia berlindung sejenak di bawah pohon, kemudian berangkat dan meninggalkannya.”

Di lain hari berikutnya, Rasulullah Saw tengah menjadi imam shalat isya di Masjid Nabawi, Madinah. Para sahabat yang menjadi makmum kala itu, antara lain ‘Umar bin Al-Khaththab, merasa gelisah melihat keadaan Rasulullah Saw yang menurut mereka sedang sakit. Buktinya, setiap kali menggerakkan tubuh untuk ruku’, sujud, dan sebagainya, senantiasa kedengaran suara keletak-keletik, seakan tulang belulang beliau longgar semuanya. Karena itu, selepas mengucapkan salam, ‘Umar pun memberanikan diri bertanya kepada beliau dengan perasaan khawatir, “Wahai Rasul, apakah engkau sakit?”

“Tidak , ‘Umar. Aku sehat saja,” jawab Rasulullah saw ramah dan santun.

“Tapi, mengapa setiap kali engkau menggerakkan badan dalam shalat, kami mendengar bunyi tulang belulangmu berkeretakan?” cecar ‘Umar bin Al-Khaththab penuh rasa ingin tahu dan penasaran.

Mula-mula Rasulullah Saw tidak ingin mengungkapkan rahasianya. Namun, lantaran para sahabat tampak sangat khawatir atas keadaan beliau, beliau akhirnya membuka pakaian yang beliau kenakan. Tampak oleh para sahabat, beliau mengikat perutnya yang kempis dengan selembar kain yang di dalamnya diisi batu-batu kerikil untuk mengganjal perut untuk menahan lapar. Dan, batu-batu itulah yang berbunyi keletak-keletik selama beliau menjadi imam salat.

Melihat yang demikian itu, dengan serta-merta ‘Umar bin Al-Khaththab pun memekik pedih dan perih, “Wahai Rasul! Apakah sudah sehina itukah anggapanmu kepada kami? Apakah engkau mengira seandainya engkau mengatakan lapar, kami tidak bersedia memberimu makanan yang paling lezat? Bukankah kami semua hidup dalam kecukupan?”

Rasulullah saw pun tersenyum ramah seraya menyahut, “Tidak, ‘Umar. Tidak. Aku tahu, kalian, para sahabatku, adalah orang-orang yang setia kepadaku. Apalagi sekadar makanan, harta, ataupun nyawa akan kalian serahkan untukku sebagai rasa cinta kalian kepadaku. Tetapi, di mana akan kuletakkan mukaku di hadapan pengadilan Allah kelak di Hari Pembalasan, apabila aku selaku pemimpin justru membikin berat dan menjadi beban orang-orang yang kupimpin?”

Dan, suatu hari, setelah memendam kerinduan yang luar biasa sekian lama kepada Rasulullah Saw yang telah meninggal dunia, ‘Umar bin Al-Khaththab berujar sebagai berikut:

“Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, ada suatu pangkal pohon kurma yang sering engkau jadikan sebagai tempat berkhutbah di hadapan manusia. Ketika manusia semakin bertambah banyak, engkau pun mengambil mimbar untuk menyampaikan pesan-pesanmu. Karenanya, betapa sedih pangkal pohon kurma itu berpisah denganmu. Kemudian, kala engkau letakkan tanganmu di atasnya, barulah ia tenang. Umatmu lebih merindukanmu, wahai Rasul, karena engkau berpisah dengan mereka.

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai kepada sis Allah. Sehingga Dia menjadikan ketaatan kepadamu sama dengan ketaatan kepada-Nya. Allah Swt berfirman, Barang siapa mematuhi Rasul, sungguh ia telah mematuhi Allah (QS Al-Nisa [4]: 80)

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, keutamaanmu telah sampai kepada sisi-Nya. Sehingga Dia memberitahukan kepadamu bahwa engkau telah dimaafkan oleh-Nya sebelum Dia memberitahukan kepadamu tentang dosamu melalui firman-Nya, Kiranya Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang)? (QS Al-Taubah [9]: 43).

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh keutamaanmu telah sampai kepada sisi-Nya. Sehingga Dia mengutusmu sebagai penghabisan para nabi dan menyebutmu pada permulaan para nabi melalui firman-Nya, Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari nabi-nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh (QS Al-Ahzab [33]: 7).

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh keutamaanmu telah sampai kepada sisi-Nya. Sehingga para penghuni neraka ingin mematuhimu, sementara mereka sedang di siksa di antara lapisan-lapisan neraka. Mereka mengatakan, Alangkah baik andaikan kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul! (QS Al-Ahzab [33]: 66)

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang Musa putra ‘Imran telah dikaruniai batu oleh Allah, sehingga air pun memancar darinya laksana sungai, apakah hal itu lebih menakjubkan dari jemarimu yang bisa memancarkan air? Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang Sulaiman putra Daud telah dikaruniai angin oleh Allah dengan kecepatan, baik pagi maupun sore, sejauh perjalanan sebulan, tetapi apakah hal itu lebih menakjubkan daripada Buraq yang menjadi tungganganmu di dalam perjalananmu pada malam hari menuju langit ketujuh, kemudian engkau melakukan shalat subuh pada malam itu pula di Abthah? Semoga Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadamu!

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh, andaikan memang Isa putra MAryam telah dikaruniai oleh Allah kemampuan untuk dapat menghidupkan kembali orang mati,tetapi apakah hal itu lebih menakjubkan daripada kambing yang diracuni ketika ia berbicara denganmu, padahal kambing itu sudah digoreng, lewat pahanya, ‘Janganlah engkau memakanku, karena aku beracun!’

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Sungguh Nuh telah mendoakan terhadap kaumnya dengan mengatakan, Ya Tuhanku! Janganlah Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang kafir itu tinggal di bumi! (QS Nuh [71]: 26). Andaikan engkau mendoakan kami seperti itu, niscaya kami semua akan binasa! Namun, meski punggungmu telah bungkuk, wajahmu telah berdarah-darah, sendi-sendimu telah hancur, engkau tetap enggan mengatakan selain kebajikan dengan doamu, ‘Ya Allah Tuhanku! Ampunilah kaumku. Sungguh, mereka tidak mengetahui!’

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Dengan usiamu yang sedikit dan pendek, engkau telah diikuti oleh manusia yang mengikuti Nuh dengan usianya yang banyak dan panjang. Sungguh, telah beriman kepadamu anak manusia dalam jumlah yang banyak, sementara tidak beriman kepada Nuh selain hanya sejumlah kecil anak manusia!

Demi ibu-bapakku, wahai Rasul! Andaikan engkau tidak mengambil teman duduk selain orang-orang yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak akan duduk bersama kami. Andaikan engkau tidak menikahi selain wanita-wanita yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak menikahi sebagian dari kelompokmu. Dan andaikan engkau tidak mewakilkan selain kepada orang-orang yang sepadan denganmu, tentulah engkau tidak mewakilkan kepada kami. Namun, sungguh demi Allah, engkau telah duduk bersama kami, menikah dengan sebagian dari kelompok kami, dan mewakilkan sesuatu kepada kami. Juga, engkau memakai bulu, engkau mengendarai keledai. Engkau ikutkan orang di belakangmu. Engkau letakkan makananmu di atas lantai dan engkau ambil makanan dengan jemarimu. Ini semua karena engkau merendahkan diri. Semoga Allah melimpahkan rahmat dan kesejahteraan kepadamu!”

Diceritakan juga bahwa Umar pernah berjanji tidak akan makan minyak samin dan daging hingga seluruh rakyat kenyang memakannya.

Suatu ketika Utbah bin Farqad, Gubernur Azerbaijan, disuguhi makanan oleh rakyatnya. Dengan senang hati, sang gubernur menerimanya.

“Apa nama makanan ini?” tanya Gubernur.

“Namanya Habish, terbuat dari minyak samin dan kurma,” jawab salah seorang dari mereka.

Utbah segera mencicipi makanan itu. “Subhanallah, betapa manis dan enak makanan ini. Jika makanan ini kita kirim kepada Amirul Mukminin Umar bin Khaththab di Madinah, tentu dia akan senang”,, ujar Utbah. Segera ia memerintahkan rakyatnya untuk berangkat ke Madinah dengan membawa Habish bagi Khalifah Umar.

Khalifah segera membuka dan mencicipinya. “Makanan apa ini?” tanya Umar.

“Makanan ini namanya Habish. Makanan paling lezat di Azerbaijan,” jawab salah seorang utusan.

“Apakah seluruh rakyat Azerbaijan bisa menikmati makanan ini?” tanya Umar lagi.

“Oh, tidak semua rakyat bisa menikmatinya,” jawab utusan itu.

Wajah Khalifah langsung memerah karena marah. Ia segera memerintahkan kedua utusan itu untuk membawa kembali Habish itu ke negerinya. Kepada Gubernur ia menulis surat: “Makanan semanis dan selezat ini tidak dibuat dari uang ayah dan ibumu. Kenyangkan dulu perut rakyatmu dengan makanan ini sebelum engkau mengenyangkan perutmu.”

Dalam kesempatan lain, pada masa Khalifah Umar bin Khaththab ra, ada Gubernur Mesir yang bernama Amr bin ‘Ash dan dia berniat untuk membangun sebuah masjid di samping istananya yang megah itu. Namun keinginannya itu terbentur dengan adanya lahan atau rumah yang harus digusur, dan rumah tersebut ternyata dimiliki oleh seorang Yahudi tua.

Gubernur Amr bin ‘Ash lalu memanggil orang Yahudi itu dan meminta agar dia mau menjual tanahnya. Akan tetapi orang Yahudi itu tidak berniat untuk menjual tanahnya. Kemudian gubernur Amr bin ‘Ash memberikan penawaran yang cukup tinggi dengan harga lima belas kali lipat dari harga pasaran, tetapi tetap saja orang Yahudi itu menolak untuk menjual tanahnya.

Gubernur Amr bin ‘Ash kesal dan akhirnya karena berbagai cara telah dilakukan dan hasilnya buntu, maka sang gubernur pun menggunakan kekuasaannya dengan memerintahkan bawahannya untuk menyiapkan surat pembongkaran dan akan menggusur paksa lahan tersebut. Sementara si Yahudi tua itu tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis dan kemudian dia berniat untuk mengadukan kesewenang-wenangan gubernur Mesir itu pada Khalifah Umar bin Khattab.

Akhirnya orang Yahudi itu pergi ke Madinah untuk mengadu kepada Khalifah Umar bin Khattab, walaupun dengan menempuh perjalanan yang cukup panjang. Begitu tiba di Madinah, orang Yahudi itu merasa takjub, karena Khalifah Umar bin Khattab tidak memiliki istana yang megah seperti istananya Amr bin ‘Ash dan bahkan dia diterima Khalifah Umar bin Khattab hanya di halaman Masjid Nabawi di bawah naungan pohon kurma. Selain itu penampilan Khalifah Umar bin Khattab amat sederhana untuk ukuran pemimpin yang memiliki kekuasaan begitu luas.

“Ada keperluan apa kakek datang ke sini, jauh-jauh dari Mesir?” tanya Umar bin Khattab.

Setelah mengatur detak jantungnya karena berhadapan dengan seorang khalifah yang tinggi besar dan penuh wibawa, si kakek itu mengadukan kasusnya. Dia bercerita pula tentang bagaimana perjuangannya untuk memiliki rumah itu, di mana dia sejak muda bekerja keras sehingga dapat membeli sebidang tanah dan membuat gubuk di atas tanah tersebut.

“Akan tetapi, wahai Khalifah Umar, sungguh sangat menyedihkan. Harta satu-satunya yang aku miliki sekarang telah sirna, karena telah dirampas oleh Gubernur Amr bin ‘Ash”, kata orang Yahudi itu tanpa rasa takut.

Laporan tersebut membuat Khalifah Umar bin Khattab marah dan wajahnya menjadi merah padam. Setelah amarahnya mereda, kemudian orang Yahudi itu diminta untuk mengambil tulang belikat unta dari tempat sampah, lalu diserahkannya tulang itu kepada Khalifah Umar bin Khattab.

Khalifah Umar bin Khattab kemudian menggores tulang tersebut dengan huruf alif yang lurus dari atas ke bawah dan di tengah goresan itu ada lagi goresan melintang menggunakan ujung pedang, lalu tulang itu pun diserahkan kembali kepada orang Yahudi tersebut sambil berpesan: “Bawalah tulang ini baik-baik ke Mesir dan berikanlah kepada Gubernur Amr bin ‘Ash”, jelas Khalifah Umar bin Khattab.

Si Yahudi itu kebingungan ketika diminta untuk membawa tulang yang telah digores dan memberikannya kepada Gubernur Amr bin ‘Ash. Gubernur Amr bin ‘Ash yang menerima tulang tersebut, langsung tubuhnya menggigil kedinginan serta wajahnya pucat pasi. Saat itu juga Gubernur Amr bin ‘Ash mengumpulkan rakyatnya untuk membongkar kembali masjid yang sedang dibangun dan membangun kembali gubuk yang reot milik orang Yahudi itu.

“Bongkar masjid itu!”, teriak Gubernur Amr bin Ash gemetar.

Orang Yahudi itu merasa heran dan tidak mengerti tingkah laku Gubernur. “Tunggu!” teriak orang Yahudi itu.

“Maaf Tuan, tolong jelaskan perkara pelik ini. Berasal dari apakah tulang itu? Apa keistimewaan tulang itu, sehingga Tuan berani memutuskan untuk membongkar begitu saja bangunan yang amat mahal ini. Sungguh saya tidak mengerti!”, kata orang Yahudi itu lagi.

Gubernur Amr bin Ash memegang pundak orang Yahudi itu sambil berkata: “Wahai kakek, tulang ini hanyalah tulang biasa dan baunya pun busuk.”

“Mengapa ini bisa terjadi. Aku hanya mencari keadilan di Madinah dan hanya mendapat sebongkah tulang yang busuk. Mengapa dari benda busuk tersebut itu gubernur menjadi ketakutan?” kata orang Yahudi itu.

“Tulang ini merupakan peringatan keras terhadap diriku dan tulang ini merupakan ancaman dari Khalifah Umar bin Khattab. Artinya, apa pun pangkat dan kekuasaanmu suatu saat kamu akan bernasib sama seperti tulang ini, karena itu bertindak adillah kamu seperti huruf alif yang lurus. Adil di atas dan adil di bawah. Sebab kalau kamu tidak bertindak adil dan lurus seperti goresan tulang ini, maka Khalifah tidak segan-segan untuk memenggal kepala saya”, jelas Gubernur Amr bin ‘Ash.

Orang Yahudi itu tunduk terharu dan terkesan dengan keadilan dalam Islam.

“Sungguh agung ajaran agama Tuan. Sungguh aku rela menyerahkan tanah dan gubuk itu. Bimbinglah aku dalam memahami ajaran Islam!”.

Akhirnya orang Yahudi itu mengikhlaskan tanahnya untuk pembangunan masjid dan dia sendiri langsung masuk agama Islam.

Categories