Symbolic Inversion

MUSTANIR.net – Mengapa simbol-simbol satanisme bisa muncul sebagai sebuah pertunjukan hiburan di ruang publik yang ada di dalam konteks keagamaan?

Kita bisa memahami ini salah satunya lewat konsep symbolic inversion (inversi simbolik): Keadaan ketika tatanan simbolik yang biasanya berlaku di kehidupan sehari-hari sengaja dipertentangkan untuk menghasilkan pengalaman yang beda. Dan karnaval bisa jadi salah satu wadah untuk orang memainkan sesuatu yang biasanya tabu atau terlarang.

Folkloris Barbara Babcock mendefinisikan inversi simbolik sebagai setiap tindakan perilaku ekspresif yang membalikkan, mempertentangkan, meniadakan, atau dengan cara tertentu menghadirkan alternatif terhadap kode, nilai, dan norma yang umumnya dianut, yang bersifat linguistik, sastra atau artistik, keagamaan, maupun sosial dan politik.

Contoh yang melibatkan seloroh berkisar dari inversi yang bersifat terpisah dalam bahasa atau situasi, hingga pembalikan yang lebih kompleks terhadap relasi sosial atau kekuasaan, yang sering kali berkaitan dengan unsur ritual atau karnaval.

Paul A Kruger dari Universitas Stellenbosch, Afrika Selatan, mengungkap inversi simbolik sebagai fenomena budaya yang tersebar luas, dengan contoh-contoh paling awal yang dapat ditelusuri hingga kebudayaan Timur Dekat kuno. Inversi simbolik (mundus inversus) berkaitan dengan bentuk-bentuk perilaku ekspresif yang membalikkan kode-kode sosial yang diterima secara umum.

Salah satu bidang dalam dunia Timur Dekat kuno dan Perjanjian Lama yang secara menonjol memperlihatkan fenomena ini adalah konsepsi tentang kehidupan setelah kematian: kehidupan setelah kematian sering kali dipahami sebagai kebalikan langsung dari apa yang lazim terjadi dalam kehidupan biasa.

Tapi makna sebuah simbol itu pada dasarnya tidak tidak serta merta sepenuhnya tunduk ke niat pemakainya, apalagi jika simbol itu menyimpan cultural baggage yang sudah dikonstruksi ratusan tahun, dia akan punya resistensi yang luar biasa besar.

Tidak bisa sekonyong-konyong Muslim pakai simbol satanik dan berharap maknanya terhapus dalam semalam hanya karena “niat saya bukan begitu”, sebab beban sejarahnya jauh lebih berat daripada niat sesaat si pemakai. Dia membawa sejarah dan makna sendiri yang sudah terbentuk ratusan tahun di dalam kebudayaan orang yang terus mereproduksi simbol-simbol itu untuk sekadar hiburan.

Mau tak mau mereka sedang mengasosiasikan ulang hubungan mereka dengan simbol itu. Sebagai Muslim yang mengimani Allah dan hari akhir, kita tidak bisa berhenti pada pertanyaan: Apakah mereka itu betul-betul beriman pada iblis?

Karena persoalannya juga adalah: Apa konsekuensinya ketika sesuatu yang kita kenal sebagai simbol kejahatan terus kita konsumsi sebagai estetika dan hiburan?

Mungkin orang yang menggunakannya memang tidak bermaksud menyembah apa yang mereka tampilkan. Tapi justru di situ kita perlu kritis. Ketika simbol kejahatan sudah terasa biasa, sudah terasa keren, bahkan menghibur, jangan-jangan yang berubah itu bukan simbolnya, tapi cara kita memandang kejahatan itu sendiri?

Wallahu a’lam. []

Sumber: Kamila Y

About Author

Categories