
Membongkar Tabir Iran, Israel, Rusia, dan Cina dalam Panggung Benturan Peradaban
MUSTANIR.net – Mereka bilang, “Jangan bicara masa lalu. Sekarang hanya Iran yang berani membombardir Israel!” Tapi izinkan aku berkata, “Sejarah bukan beban.” Sejarah adalah kaca mata. Karena hanya mereka yang buta sejarah, yang akan menyambut musuh hari ini sebagai pahlawan, hanya karena ia menembak ke arah yang sama.
“Sesungguhnya dalam kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (QS Yusuf: 111)
Sejarah Tak Bisa Dihapus dengan Rudal
Tahun 1980-an, dunia Islam terbakar oleh perang Iran-Irak. Lebih 1 juta jiwa tewas. Di saat darah sesama Muslim tumpah di padang pasir (di sekitar Khuzestan dan wilayah Shatt al-Arab), Iran justru diam-diam bekerja sama dengan Israel—musuh yang tak pernah menanggalkan niat penjajahnya. (Encyclopædia Britannica)
Operasi Iran-Contra Affair membongkar hubungan gelap: Israel menjual senjata ke Iran—atas persetujuan dan koordinasi dengan pemerintah AS (era Reagan). AS menutup mata. Iran menerima bantuan. Dan umat? Saling membunuh, saling melukai, saling melemahkan. (National Security Archive, CNN, The Washington Post)
Tujuannya pragmatis: Iran membutuhkan senjata untuk melawan Irak. Israel dan AS memanfaatkannya untuk kepentingan geopolitik mereka. Yang mengalir bukan sekadar senjata. Tapi konspirasi untuk memastikan panji Islam tak pernah kembali berkibar.
Rudal Hari Ini, Bukan Tanda Kebangkitan
Benar, hari ini rudal diluncurkan dari Iran menuju Israel. Tapi tanya kembali: Apakah itu bentuk pembelaan untuk al-Aqsha? Ataukah hanya reaksi atas kerugian strategis setelah fasilitas nuklirnya dihantam?
Jangan sampai kita terjebak dalam euforia simbolik, tapi lupa membaca arah kepentingan yang sedang dimainkan.
Rudal Kheibar Shekan menghantam Tel Aviv. Tapi bukan karena darah Gaza. Tapi karena Iran ingin kembali duduk di meja tawar-menawar dunia. (The Sun, NY Post, Juni 2025)
“Perang yang tidak dilandasi aqidah Islam bukanlah jihad, melainkan kerakusan politik.” ~ Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizhamul Hukm fi al-Islam
Pertanyaan sederhana:
• Di mana rudal saat Gaza disembelih?
• Di mana IRGC saat al-Aqsha dinistakan?
• Di mana drone-drone itu ketika anak-anak Palestina dimutilasi?
Mengapa saat Masjidil Aqsha diludahi oleh tentara Zionis, langit Teheran tetap tenang? Tapi ketika fasilitas nuklir Iran diserang, langit Tel Aviv justru mendadak merah?
Karena ini bukan jihad. Bukan perlawanan Islam. Ini hanya diplomasi dengan ledakan.
“Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslim, maka dia bukan bagian dari mereka.” (HR Muslim, Shahih)
Teori Benturan Peradaban: Saat Kita Menyadari Kita Hidup dalam Panggung Tipu Daya
Samuel Huntington pernah menulis: “Perang masa depan bukan antar negara. Tapi antar peradaban.” ~ The Clash of Civilizations, 1996
Dan kita hidup di masa itu hari ini. Tiga blok dunia bertarung di hadapan mata kita:
• Blok Amerika, Israel, dan NATO
• Blok Rusia, Iran, dan sekutu Eurasia
• Blok Cina, BRICS, dan poros ekonomi Timur
Bukan demi Palestina. Bukan demi kebenaran. Hanya menjadikan isu Palestina sebagai alat propaganda. Di balik semua itu, siapa saja boleh terus menginjak leher umat manusia.
• Blok Barat: AS, Israel, NATO
Bersenjatakan sekularisme, demokrasi, dan kapitalisme. Menjajah negeri Muslim sambil berbicara soal “Hak Asasi Manusia”.
“Peradaban Barat telah mencabut ruh dari manusia dan meninggikannya menjadi budak syahwat. Kapitalisme telah merendahkan manusia ke derajat hewan yang hanya mengejar kenikmatan duniawi.” ~ Sayyid Abul A’la Maududi, The Islamic Way of Life,
• Blok Timur: Cina, Rusia, Iran
Mengaku anti-Barat, tapi juga menolak Islam kaffah. Menampilkan “perlawanan palsu” agar umat tetap buta pada jalan khilafah.
“Semua kekuatan dunia—Barat dan Timur—sepakat dalam satu hal: menolak tegaknya Islam secara menyeluruh. Dunia seluruhnya telah bersekongkol menentang umat Islam. Mereka tidak akan ridha sampai Islam meninggalkan agamanya atau hidup dalam sistem mereka.” ~ Syaikh Hasan al-Banna, Risalah Muktamar al-Khamis, Majmu’at Rasail
• Blok ke Tiga: Peradaban Islam (Khilafah Islam)
Bukan Syiah. Bukan Sunni-nasionalis. Tapi umat yang menolak semua topeng penjajahan. Yang menginginkan Islam memimpin dunia—sebagai rahmat, bukan sekte.
“Khilafah bukanlah semata sistem politik, tapi perwujudan ibadah kolektif dalam mengatur dunia dengan syariat.” ~ Ibn Khaldun, Muqaddimah
Iran, Israel, Rusia, Cina: Satu Panggung, Berbeda Peran
Iran terlihat menantang Israel. Tapi menjalin ekonomi dengan Cina, yang justru mengelola pelabuhan Haifa—milik Israel.
Iran terlihat melawan AS. Tapi tak pernah benar-benar mengguncang Tel Aviv. Yang mereka hancurkan justru Muslim Sunni—di Suriah, Irak, dan Yaman.
Rusia mendukung Iran. Tapi juga bersahabat dengan Netanyahu. Tak pernah menjatuhkan sanksi apa pun untuk kejahatan Zionis. Cina memeluk Iran. Tapi juga menjadi mitra dagang terbesar Israel.
Maka jangan tertipu, Saudara. Jangan lihat siapa yang mereka tembak. Tapi lihat siapa yang tidak pernah disentuh.
Yang melawan Israel belum tentu membela Islam. Tapi yang memperjuangkan Islam secara kaffah pasti akan membebaskan Palestina.
“Sesungguhnya kekuasaan itu adalah milik Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS Ali-Imran: 26)
Ini Bukan Soal Syiah vs Sunni
Ini bukan soal siapa yang menembakkan rudal. Tapi siapa yang benar-benar ingin menegakkan peradaban Islam.
Dan Iran bukan sedang membangun peradaban Islam, melainkan sedang mempertahankan nuklir, kekuasaan, dan pengaruh geopolitiknya—dibantu Rusia, dilindungi Cina, dan dipoles dengan teater permusuhan terhadap Zionis.
Maka saatnya kita sadar. Yang kalian kira “poros perlawanan”, hanyalah aktor dalam drama global. Yang satu membunuh dengan senjata, Yang satu membius umat dengan harapan palsu. Agar kalian tidak pernah menyadari bahwa solusi sejati itu telah lama Allah titipkan: Khilafah!
“Kemudian akan ada Khilafah yang mengikuti metode kenabian.” (HR Ahmad, sanad shahih)
Khilafah
Bukan simbol. Bukan ambisi politik. Bukan proyek kelompok. Tapi peradaban suci—jalan hidup Islam secara kaffah.
Yang dahulu membebaskan Palestina. Yang dahulu menyatukan bangsa-bangsa. Yang dahulu menggetarkan Persia dan Romawi.
“Sungguh, ketika Islam memimpin, bumi ini menjadi rahmat bagi seluruh manusia, bukan hanya kaum Muslim.” ~ Sayyid Quthb, Ma’alim fi ath-Thariq
Dan hari ini akan kembali menjemput kejayaan umat bukan lewat rudal diplomatik, tapi lewat kepemimpinan ilahi yang ditopang oleh syariah, bukan sekutu.
Karena kita tak butuh poros perlawanan palsu.
Yang kita butuh adalah perlawanan yang mengarah pada perubahan peradaban.
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal yang saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi.” (QS an-Nur: 55)
Khilafah adalah janji, bukan mimpi. Dan janji Allah pasti ditepati.
“Dan katakanlah: Kebenaran telah datang dan kebatilan telah lenyap. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS al-Isra’: 81)
Wallahu’alam. []
Sumber: Muhammad Yustang
Referensi:
1. Noam Chomsky, Hegemony or Survival
2. Trita Parsi, Treacherous Alliance
3. Samuel Huntington, The Clash of Civilizations
4. Ray Takeyh, Guardians of the Revolution
5. Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur
6. Sayyid Quthb, Ma’alim fi ath-Thariq
7. Ibn Khaldun, Muqaddimah
8. Hasan al-Banna, Majmu’at Rasail
9. Sayyid Abul A’la Maududi , The Islamic Way of Life, Towards Understanding Islam
10. Syaikh Abdul Qadim Zallum, Kayfa Hudimat al-Khilafah
11. BBC, CNN, NY Post, The Sun, al-Jazeera
