Nasionalisme: Kesetiaan kepada Tanah Air

MUSTANIR.net – Hari ini banyak kita temukan orang yang mensakralkan dan mengagungkan tanah air. Keyakinan ini bahkan telah menjadi pemikiran, keyakinan, dan budi pekerti yang mendarah daging dalam setiap aktivitasnya.

Hingga kita dapati orang yang dengan bangga mengatakan, “Kami siap mati demi tanah air, kami siap mengorbankan harta benda dan keluarga kami demi tanah air, kami siap untuk berperang demi membela tanah air, dan kami siap mengorbankan apa saja demi membela tanah air; Tanah air bagi kami adalah segala-galanya.”

Mereka merasa aman dan damai jika negaranya aman, tetapi jika suatu negeri Muslim (mayoritas muslim) dibelenggu dan dilibas oleh agresi negara-negara kafir, sama sekali tidak terlintas untuk membelanya, walaupun hanya dengan doa. Mereka berkata, “Alhamdulillaah negeri kita aman, tidak seperti Irak atau Afghanistan yang selalu menghadapi peperangan. Semoga kerukunan dan kedamaian seperti ini dapat terus dipertahankan.”

Sehingga hampir tidak kita dapatkan negeri Muslim yang membela saudara Muslimnya yang terjajah, seperti di Palestina, Afghanistan, Mindanao, dan tempat-tempat yang lain. Ketika Irak diserang (sebagian dari) mereka bilang, “Itu kan sarang kaum Rawafidh (yakni orang-orang Syiah rafidhah), biarkan saja mereka dihancurkan oleh Allah.”

Mereka juga menerapkan undang-undang wadl’y (buatan manusia) dan membatasinya dari setiap peluang untuk melaksanakan peraturan bersendi syariat. Bahkan ada yang membelanya sebagai kufrun duna kufrin.

Mereka meneriakkan dan membakar semangat patriotisme, mewajibkan seluruh pemuda Islam untuk menghafal lagu-lagu kebangsaan, dan menjadikannya nyanyian wajib. Dengan itu, mereka memecah belah kekuatan umat Islam dan mencerai beraikannya ke dalam petak-petak kecil negara bangsa sehingga tidak menambahkan kepada umat Islam selain kelemahan.

Bahkan mereka menolak syariat Islam dan mengatakan bahwa syariat akan menyebabkan perpecahan dan kekacauan. Syariat Islam adalah syariat orang-orang kuno, dan syariat bangsa barbar yang tidak layak diterapkan pada zaman modern. Jika diterapkan syariat Islam, kita akan dipecah belah dan dibeda-bedakan atas dasar agama; ini seorang Muslim, yang itu Nasrani, yang itu Hindu, yang lain Buddha, dll.

Kalau para pendahulu mengusir penjajah Belanda dari negeri ini karena semangat jihad, ingin mengusir misionaris agar tidak memurtadkan umat Islam untuk kemudian masuk ajaran agama mereka atau sekadar murtad saja, tetapi hari ini justru kita tetap memegang erat hukum-hukum yang ditinggalkan oleh penjajah dan menolak hukum Islam?

Jika kita timbang dengan jujur, nasionalisme hanyalah slogan yang dipergunakan oleh politisi atau kelompok kepentingan untuk menjaga kelanggengan kekuasaannya. Sukarno menjadikan nasionalisme untuk melanggengkan kekuasaanya. Suharto tak beda, bahkan selain melanggengkan kekuasaan, juga menjadi topeng menjual kekayaan alam kepada pihak asing dan mendapatkan sedikit komisi untuk kepentingan pribadi.

Tidak berlebihan jika para ulama’ yang tergabung dalam Lajnah Daimah berfatwa, “Barang siapa yang tidak membedakan antara Yahudi dan Nasrani dan semua orang-orang kafir dengan kaum Muslimin kecuali dengan negeri, dan menjadikan hukum mereka adalah satu, maka dia kafir.” (Lajnah Daimah: 1/541)

Nasionalisme dalam Pandangan Islam

Islam memerintahkan umatnya untuk membela dan mempertahankan tanah air dari gangguan dan aneksasi musuh.

Tetapi tanah air yang diperintahkan untuk membela itu adalah tanah air yang menerima Islam dan melaksanakan hukum-hukum Allah. Meyakini syariat Allah sebagai peraturan yang benar dan wajib diikuti serta menjadikan hukum Islam aturan kehidupan. Negeri yang menjadi persemaian dan pelaksanaan dua program besar; hifdhu ad-dien wa tanfidhuhu, menjaga dien al-Islam, dan mengaplikasikannya dalam kehidupan.

Jika ada tanah air seperti ini, maka wajib bagi penduduknya untuk membela dengan segenap kemampuannya. Jika ada pasukan musuh menyerang negeri tersebut, wajib melaksanakan jihad di bawah komando pemimpin negara (khalifah), baik pemimpin itu sholih maupun fajir. Kalau ada gerakan pemurtadan, wajib ditegakkan jihad untuk melawan mereka.

Ibnu Taimiyah berkata, “Perang defensif merupakan bentuk perang melawan agresor yang menyarang kehormatan dan agama (yang mempunyai kedudukan paling penting). Hukumnya wajib berdasarkan ijma’. Musuh yang menyerang, yang merusak dien dan dunia, tidak ada kewajiban yang lebih penting setelah beriman selain melawannya. Tidak ada syarat, melawan sesuai dengan apa yang mungkin. Hal ini ditegaskan para ulama madzhab kami dan selainnya. Maka mesti dibedakan antara melawan musuh kafir yang datang menyerang, dengan mendatangi mereka di negeri mereka.” (al-Fatawa al-Kubra: I/236)

Imam an-Nawawi juga berkata, “Jenis ke dua dari jihad yang hukumnya fardhu ‘ain, yakni jika orang kafir menduduki negeri kaum Muslimin atau menyerangnya, dan sudah berada di pintu gerbang negeri, ingin masuk untuk menguasai namun belum memasukinya, maka hukumnya fardhu ‘ain.” (Hasyiyah Ibnu Abidin: 4/126)

Ada pun negeri-negeri yang hari ini menjadi kekuasaan orang-orang kafir, atau dikuasai oleh para thaghut yang tidak mau menerapkan hukum Islam, padahal sebelumnya negeri tersebut adalah negeri kaum Muslimin yang menerapkan hukum Islam, maka wajib kaum muslimin untuk membebaskannya dengan seluruh kemampuannya. Seluruh umat Islam berdosa jika tidak berusaha membebaskannya. Kadar dosanya tergantung kadar kedekatannya dengan negeri yang terjajah tersebut.

Nasionalisme Palsu

Di antara hal yang harus dipahami oleh umat Islam, banyak penguasa thaghut yang menjadikan nasionalisme sebagai barometer kesetiaan. Jika loyalitas, kecintaan, dan kepatuhan seorang kepadanya tinggi, maka orang itu dinilai sebagai orang yang paling nasionalis. Tetapi jika ia tidak mendukung kebijakan-kebijakan negara, selalu bersikap kritis, maka ia dinilai sebagai orang yang tidak nasionalis, bahkan pada kondisi tertentu dianggap sebagai musuh negara.

Sikap kritis dan masukan kritik kadang dianggap merongrong rezim yang berakibat kepada pencabutan hak-haknya sebagai warga negara, dikenai larangan ke luar negri, dikenai tahanan rumah, atau dikenai ISA (Internal Security Act, akta keamanan dalam negeri) yang dengannya seseorang dapat ditahan selama 2 tahun tanpa proses peradilan.

Ada lagi yang lebih buruk. Orang yang dianggap musuh, padahal orang tersebut tidak ada delik hukum apa pun yang dia langgar. Sementara para thaghut itu khawatir pengaruhnya di tengah masyarakat, maka mereka menggunakan pola lain, character assassination, pembunuhan karakter.

Disebarkan isu di tengah masyarakat bahwa dai fulan atau mubaligh fulan pengikut kelompok sempalan, fundamentalis, dst. Nasionalisme dijadikan sebagai senjata untuk menyerang musuh-musuhnya, melanggengkan kekuasaannya.

Tidak patut slogan-slogan kosong itu menipu seorang muslim. Seorang dai tidak akan mundur ke belakang dalam menyampaikan al-haq hanya karena tuduhan-tuduhan miring (atau benar); dianggap tidak nasionalis maupun ikut berteriak mengajak umat Islam kepada Islam.

Kita mulai dengan Islam. Nasionalisme berarti ‘ashobiyah wathoniyah adalah bathil, sekalipun ikatan kekabilahan dan kesukuan dalam batas tertentu. Ketika dibingkai (diterapkan) Islam justru merupakan modal dan tempat persemaian dilaksanakannya dien Allah.

Kalau kita simak para tokoh nasionalis pada masa berkuasanya di berbagai belahan dunia, mereka menjadi orang-orang yang paling dihujat, direndahkan, dan dinista oleh rakyat setelah runtuh kekuasaannya. Hampir tidak ada yang selamat dari itu setelah selesai peran sejarahnya.

Bukankah hal itu merupakan bukti terkuat bahwa apa yang mereka jual (yakni nasionalisme) selama berkuasa hanyalah isapan jempol dan pepesan kosong?

Mengambil contoh dari yang masih hidup tidak ada jaminan selamat. Mereka yang telah mati dan dicatat kebaikannya selama hidup serta menyelesaikannya dengan kebaikan di ujung kematiannya, itulah teladan yang sesungguhnya. []

Sumber: Majalah an-Najah edisi 12/Th. 1—Rajab 1427 H/Agustus 2006

About Author

Categories