Butuh Reideologisasi Gen Z dengan Islam

MUSTANIR.net – Mengapa anggota dewan harus panik dengan fakta bahwa Gen Z telah menjadikan TikTok dan Facebook sebagai “ideologi baru” mereka? Diketahui, anak-anak Indonesia menghabiskan rata-rata 4 jam/hari untuk mengakses TikTok. [1]

Mengapa juga Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) ngotot mengusulkan anggaran tambahan pada 2025 sebesar Rp 100 miliar? Sebanyak Rp 45 juta di antaranya adalah untuk penyelenggaraan diklat pembinaan ideologi Pancasila hingga sosialisasi Pancasila untuk content creator hingga influencer. [2]

Jawabannya, tentu karena ideologi memang kebutuhan mendasar bagi sebuah negara, umat, dan generasi.

Gen Z dan Ideologi

Saat generasi muda sudah malas membincangkan ideologi, bahkan tidak peduli pada negaranya seraya berkata, “Sorry to say anything about ideology, it’s not my business, I don’t care,” di titik itulah eksistensi sebuah negara akan musnah ditelan waktu. Begitu serius masalah ini sampai-sampai Presiden Jokowi meminta agar sosialisasi Pancasila disesuaikan dengan cara Gen Z. [3]

Pemerintah menjadi sangat risau menghadapi realitas hilangnya maklumat ideologi dalam benak Gen Z. Selama ini, isu ideologi telah menjadi sandaran rezim untuk mendapatkan dukungan publik dengan cara manipulatif. Isu ideologi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam berbagai proyek deradikalisasi, yang intinya adalah depolitisasi Islam (sekularisasi ajaran Islam).

Selama ini rezim memaksakan dogma ideologi kepada umat tanpa memberikan penjelasan definisi ideologi secara utuh dan hakikat ideologi dengan benar. Wajar jika dari generasi ke generasi berganti, mereka tidak lagi mengenal esensi ideologi.

Mereka tidak mampu menakar kelayakan suatu hal sebagai sebuah ideologi bagi sebuah umat. Bahkan, lafaz ideologi itu sendiri tidak lagi ada dalam kamus hidup generasi hari ini.

Namun faktanya, ideologi sangat dibutuhkan oleh sebuah umat, bangsa, dan generasi. Upaya menjauhkan umat dan generasi dari memahami ideologinya mustahil dilakukan (pasti gagal). Mereka akan secara alami mencari dan menetapkan pilihan ideologi yang cocok bagi dirinya.

Benarlah bahwa tanpa mengenal ideologi, sebuah negara akan musnah. Oleh karenanya, kekhawatiran terhadap “hilangnya” ideologi pada Gen Z patut direspons dengan tepat sebagai momentum reideologisasi Islam pada kalangan pemuda.

Islam adalah Ideologi

Kata bahasa Arab yang sepadan dengan ideologi adalah “mabda”. Menurut Muhammad Ismail dalam Al-Fikru al-Islamiy (hlm. 9—11), mabda merupakan aqidah aqliyyah yanbatsiqu’anha an-nizham.

Artinya, akidah rasional yang melahirkan aturan-aturan dalam kehidupan (nizham). Menurut definisi ini, sesuatu termasuk kriteria mabda apabila memiliki dua syarat, yaitu sebagai akidah rasional dan memiliki sistem aturan (kehidupan).

Akidah merupakan pemikiran menyeluruh tentang dunia, sebelum dunia, setelah dunia, hubungan antara dunia dan sebelum dunia, dan hubungan antara dunia dan kehidupan sesudah dunia. Sementara itu, sistem aturan tersebut mencakup berbagai pemecahan terhadap berbagai problematik kehidupan (baik pribadi, keluarga, masyarakat, maupun negara; menyangkut persoalan ibadah, akhlak, sosial, politik, ekonomi, dan budaya) serta cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut, cara untuk memelihara akidah, dan cara untuk menyebarkan akidah tersebut (lihat An-Nabhani, Nizham al-Islam, hlm. 22).

Akidah rasional beserta berbagai pemecahannya disebut fikrah (konsepsi). Ada pun cara untuk menerapkan berbagai pemecahan tersebut, cara untuk memelihara akidah, dan cara untuk menyebarkan akidah tersebut disebut thariqah (metode operasional bagi fikrah).

Jadi, suatu mabda atau ideologi bukanlah semata berupa pemikiran teoretis (konsepsi), melainkan ideologi juga dapat diterapkan dalam kehidupan.

Walhasil, yang layak dikategorikan sebagai ideologi di dunia ini hanyalah Islam, kapitalisme, dan sosialisme-komunisme. Ada pun isme-isme apa pun, atau pandangan hidup lainnya apa pun manusia mengistilahkannya, semuanya bukanlah ideologi. Semua itu hanyalah gagasan turunan dari tiga ideologi tersebut (Islam, kapitalisme, sosialisme-komunisme), bukan gagasan/ide paling mendasar dan tidak memiliki seperangkat sistem aturan.

Katakanlah sebuah negara mengeklaim memiliki ideologi tertentu yang lahir dari cita-cita mulia pendiri bangsa dan memiliki seperangkat nilai-nilai luhur yang disepakati bersama. Kemudian ideologi semu tersebut didoktrinkan kepada rakyatnya dan dipropagandakan dari generasi ke generasi, dari rezim ke rezim, tetap tidak otomatis menjadi ideologi.

Konsepsi ideologinya haruslah ditakar sejauh mana memiliki ide dasar tentang kehidupan (akidah akliyah) yang tidak lahir dari ide dasar lain, yakni apakah memiliki sistem aturan yang memberikan solusi kehidupan, serta apakah memiliki metode operasional penerapan sistem, penjagaan akidah, dan penyebarluasannya.

Oleh karenanya, ideologi yang hakiki, mustahil terperangkap dalam batas-batas teritorial imajiner. Karakter ideologi dengan fikrah dan thariqah-nya mengharuskan ideologi itu mampu menerobos batas-batas nation-state.

Ideologi haruslah berkarakter global, bukan transnasional, apalagi lokal/nasional. Demikianlah sekelumit konseptual ideologi.

Tinggal satu masalah lagi. Apabila ideologi/mabda dunia itu hanya ada tiga, maka yang manakah ideologi yang sahih itu?

Untuk menakar kesahihan ideologi, haruslah dilihat kesahihan akidah yang menjadi sumber sistem aturannya. Tentu bukan kapitalisme sebab ideologi ini lahir dari akidah sekularisme yang batil. Pasti juga bukan sosialisme-kapitalisme sebab lahir dari akidah materialisme yang juga batil. Kedua ideologi ini berasal dari kegeniusan manusia.

Alhasil, hanya Islam ideologi yang sahih sebab lahir dari akidah Islam yang berasal dari Tuhannya manusia.

Momentum Reideologisasi Gen Z

Menjadi jelas bahwa tidak sembarang konsep atau value bisa begitu saja dianggap ideologi. Gen Z penting untuk memahami macam ideologi di dunia ini sehingga mereka akan memilih ideologi yang layak bagi mereka.

Gegar ideologi di kalangan Gen Z perlu diakhiri, apalagi Gen Z di negeri-negeri muslim, terutama Indonesia. Potensi demografi Gen Z negeri-negeri muslim merupakan sumber daya besar bagi kebangkitan Islam.

Mengentalkan diskusi seputar ideologi bersama kalangan muda harus dilakukan oleh semua gerakan, partai, maupun organisasi Islam. Alasannya:

• Pertama, secara rasional, ideologi merupakan kebutuhan asasi dalam hidup manusia. Orientasi hidup manusia tinggi atau rendahnya misi hidupnya bergantung ideologi. Tanpa ideologi yang sahih, potensi generasi sebuah bangsa/negara akan mudah dibajak oleh kepentingan musuh dan penjajah.

Fenomena candu K-pop pada Gen Z hasil propaganda negara berideologi kapitalisme, menjadi secuil bukti betapa propaganda budaya yang lahir dari rahim ideologi dunia bisa menjadi alat kendali negara-negara penjajah.

Ke dua, keunggulan potensi berpikir dimiliki para pemuda. Usia belia, kemampuan untuk fokus dalam suatu disiplin ilmu, mobilitas yang tinggi, kekuatan jasmani, kepekaan emosional, kecerdasan kognitif, karakter berani, sosok pendobrak, semua ada pada para pemuda.

Apabila semua potensi ini bisa dimaksimalkan dan mendapatkan bimbingan yang benar, tentu akan memproduktifkan pemikiran rasional pemuda.

Jadi, mudah bagi kaum muda untuk menilai mana ideologi yang hakiki dan mana ideologi yang semu. Mereka juga akan mampu menelaah mana ideologi yang sahih yang produktif dan solutif bagi problem masyarakat.

• Ke tiga, pemuda yang telah melek ideologi akan mengambil ideologi sahih menjadi landasan berpikir dan kepemimpinan berpikirnya. Berikutnya, mereka pasti meleburkan dirinya terjun dalam perang ideologi memenangkan ideologi Islam.

Pada kondisi tersebut, generasi tua yang kolot, feodal, dan bertopeng demokrasi—bagaimanapun usahanya untuk mencuci otak pemuda muslim—tidak akan berhasil sempurna selama pikiran kritis dan karakter pendobrak pada generasi muda muslim telah teredukasi dengan ideologi Islam.

Oleh karenanya, kunci kebangkitan generasi muslim terletak pada genggaman kuat mereka terhadap ideologi Islam. Khaththar mabda’iy (bahaya ideologis) harus dijauhkan dari generasi muda muslim.

Setiap upaya licik tidak bermoral yang ingin memisahkan generasi muslim dari ideologi Islam, harus diungkap hakikatnya. Ini agar generasi muslim memahami bahwa medan perang yang sesungguhnya abad 21 ini adalah medan perang ideologis pada semesta dunia nyata maupun dunia maya. []

Sumber: Endiyah Puji Tristanti

[1] indoposco.id/nasional/2024/06/11/legislator-minta-bpip-waspadai-tiktok-dan-facebook-yang-dianggap-jadi-ideologi-gen-z

[2] news.detik.com/berita/d-7385216/kepala-bpip-minta-tambahan-rp-100-m-untuk-diklat-bayar-tiktoker

[3] nasional.tempo.co/read/1874636/jokowi-minta-sosialisasi-pancasila-disesuaikan-dengan-cara-gen-z1

About Author

Categories