Mudah Terpikat oleh Penokohan Figur adalah Tanda Taraf Berpikir Rendah

MUSTANIR.net – Di tengah kelelahan sosial akibat krisis multidimensi, masyarakat kerap mencari sosok penyelamat. Figur baru ditunggu, wajah baru dielu-elukan, seakan perubahan hakiki bisa lahir hanya dari pergantian tokoh. Padahal di balik gemuruh nama dan citra, oligarki yang sama tetap berkuasa, sistem yang sama tetap bercokol.

Mudah terpikat oleh figur, sesungguhnya tanda taraf berpikir yang rendah—karena perubahan sejati tidak lahir dari individu, melainkan dari sistem dan ideologi yang menatanya. Ketika masyarakat menaruh seluruh harapan kepada figur, saat itu pula mereka berhenti berpikir kritis terhadap sistem.

Oligarki memahami hal ini dengan sangat baik. Mereka tahu, manusia lebih mudah memuja wajah daripada menggugat struktur. Maka media dijadikan alat propaganda untuk menghidupkan kultus figur, mengganti aktor agar rakyat merasa sedang mengalami “perubahan”, padahal naskah kekuasaan tak pernah diganti. Inilah siasat lama: pergantian tokoh menjadi ilusi perbaikan yang meninabobokan kesadaran rakyat.

Fenomena ini tampak jelas di banyak negara, termasuk di negeri kita. Setiap kali muncul krisis, selalu ada tokoh baru yang ditampilkan sebagai “harapan baru”. Slogan-slogan diciptakan, narasi moral dibangun, seolah-olah semua kebobrokan akan sirna dengan datangnya satu orang “baik”. Padahal sistem ekonomi tetap dikendalikan segelintir korporasi besar, sistem politik tetap tunduk pada kepentingan modal, dan sistem hukum tetap menjustifikasi kekuasaan. Tokoh hanyalah wajah dari mesin lama yang terus berputar.

Ketika taraf berpikir masyarakat masih personalistik, bukan sistemik, mereka akan terus dijebak dalam permainan ini. Mereka sibuk memperdebatkan siapa yang layak memimpin, bukan bagaimana sistem seharusnya berjalan. Mereka terlibat dalam pertengkaran emosional tentang figur, bukan dalam perenungan rasional tentang arah peradaban. Padahal, sejarah menunjukkan bahwa kezaliman struktural tak akan runtuh hanya dengan pergantian pemimpin, melainkan dengan perubahan sistem nilai yang melandasi seluruh tatanan.

Kecenderungan mempersonalisasi perubahan ini adalah warisan dari kolonisasi pikiran modern. Masyarakat dibentuk untuk mengidolakan individu, bukan nilai; untuk menghafal nama, bukan memahami sistem. Pendidikan dan media bekerja bersama menanamkan cara pandang individualistik yang menjauhkan manusia dari kesadaran ideologis. Mereka percaya bahwa nasib bangsa bergantung pada figur karismatik, bukan pada sistem yang menata hukum, ekonomi, dan moralitas.

Padahal, justru di situlah letak tipu daya yang paling halus. Selama publik terus menatap wajah figur, mereka tidak akan menatap wajah sistem yang menindasnya. Oligarki tidak perlu menghapus kritik—cukup mengalihkannya. Kritik terhadap struktur diubah menjadi kekecewaan terhadap individu. Dan begitu individu itu jatuh, publik kembali berharap pada figur berikutnya. Siklus ini terus berulang, dan setiap pergantian wajah hanya memperpanjang umur sistem yang bobrok.

Perubahan sejati menuntut cara berpikir yang melampaui personalitas. Ia menuntut kesadaran bahwa akar kerusakan terletak pada sistem yang menolak aturan Allah. Islam mengajarkan bahwa keadilan dan kesejahteraan tidak bisa dibangun di atas sistem yang menuhankan hawa nafsu manusia. Sebaik apa pun figur dalam sistem sekuler, ia tetap terikat oleh batas-batas hukum yang dibuat manusia. Ia tidak bisa menegakkan kebenaran secara total karena sistemnya menolak hukum Allah sebagai sumber kedaulatan.

Rasulullah ﷺ menunjukkan jalan yang berbeda. Beliau tidak hanya berdakwah sebagai pribadi yang agung, tetapi membangun sistem kenegaraan yang berlandaskan wahyu. Beliau tidak mengandalkan karisma, tetapi menegakkan aturan yang menjamin keadilan bagi seluruh umat manusia. Ketika Islam tegak sebagai sistem, keadilan tidak bergantung pada figur; siapa pun yang menjadi khalifah, ia tunduk kepada hukum Allah, bukan kepada kehendak manusia.

Itulah sebabnya, Islam menolak kultus individu. Pemimpin dalam Islam bukanlah simbol personal, melainkan institusi pelindung umat. Ia disebut imâm—perisai yang menjaga umat dari kezaliman dan melindungi dari perpecahan. Sebagaimana sabda Nabi ﷺ:

“Sesungguhnya imam itu adalah perisai; di belakangnya orang berperang dan dengannya mereka berlindung.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam pandangan Islam, perubahan hakiki hanya mungkin terjadi bila umat kembali kepada sistem yang berasaskan akidah Islam. Bukan dengan mengganti tokoh, tetapi dengan mengganti sistem sekuler yang rusak dengan sistem Islam yang adil. Bukan dengan memuja figur, tetapi dengan menegakkan ideologi yang benar.

Maka, mudah terpikat oleh penokohan figur sejatinya adalah tanda bahwa umat belum berpikir secara mendalam. Itu pertanda bahwa kesadaran ideologis masih tertidur. Karena selama manusia menuhankan wajah, mereka tidak akan pernah menegakkan kebenaran. Selama mereka sibuk mencari pahlawan, mereka tidak akan pernah menjadi umat yang memikul risalah.

Islam datang bukan untuk menampilkan figur, tetapi untuk menegakkan sistem. Sistem yang mengatur kehidupan berdasarkan petunjuk Pencipta, bukan berdasarkan kehendak manusia. Itulah satu-satunya jalan keluar dari jebakan oligarki dan propaganda media. Jalan menuju perubahan hakiki bukanlah pergantian aktor, melainkan penegakan ideologi Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh.

Umat tidak membutuhkan figur baru, tetapi kesadaran baru. Kesadaran bahwa perubahan sejati hanya lahir dari penerapan sistem yang berasal dari Allah ﷻ. Selama sistem kufur masih menjadi dasar kehidupan, maka sebaik apa pun figur yang diusung, ia hanya akan menjadi pelayan dari struktur lama.

Maka, berpikirlah dengan kesadaran ideologis. Lepaslah dari ilusi penokohan, dan tegakkan Islam sebagai satu-satunya jalan menuju keadilan dan kemuliaan peradaban. []

Sumber: Martin Sumari

About Author

Categories