Tentara AS khawatir Dipaksa Langgar HAM Jika Trump Jadi Presiden

tentara-as-khawatir-dipaksa-langgar-ham-jika-trump-jadi-presiden

Tentara AS khawatir Dipaksa Langgar HAM Jika Trump Jadi Presiden

Mustanir.com – Banyak kalangan perwira militer Amerika Serikat sedang cemas melihat perkembangan politik terbaru di negaranya. Donald Trump, kandidat kontroversial yang sering bicara ceplas-ceplos, terus memimpin perolehan suara pemilihan internal Partai Republik.

Adapun kalangan militer AS khawatir terhadap perintah-perintah Trump seandainya menjadi presiden. Dalam beberapa kampanye, Trump mempunyai ide sistem pertahanan dan perang melawan terorisme yang jelas melanggar prinsip hak asasi manusia maupun hukum perang internasional.

The Daily Mail melaporkan, Jumat (4/3), Trump berjanji menyiksa tahanan teroris dengan metode yang lebih kejam dari waterboarding ala Penjara Guantanamo. Selain itu, sang miliarder bisnis kasino dan properti itu meminta tentara AS menghabisi keluarga anggota ISIS, termasuk anak-anak mereka, supaya pasukan khilafah lebih cepat menyerah.

“Saya yakin tentara kita masih memiliki nurani. Jika perintah semacam itu diumumkan sejak hari pertama (Trump) menjabat, maka periode kekuasaannya akan sangat pendek sekali karena bakal muncul perlawanan,” kata Eugene Fidel, Dosen Fakultas Hukum Universitas Yale.

Trump terus mengulang ambisinya memerintahkan tentara AS bertindak lebih kejam dari biasanya terhadap anggota kelompok teroris yang tertangkap. Ucapan kontroversial itu dia ulang tadi malam waktu setempat, saat mengikuti debat capres dan ditanya oleh mantan Kepala CIA, Michael Hayden.

“Saya yakin tentara AS tidak akan menolak. Presiden adalah pemimpin tertinggi militer di negara ini. Saya terbiasa memimpin orang di perusahaan. Bila saya bilang tahanan teroris harus disiksa, saya yakin para perwira tidak akan membantah,” kata Trump.

Hayden menjelaskan pada Trump, bahwa beberapa idenya berpotensi melanggar hukum internasional. Presiden Barack Obama telah menghentikan praktik seperti waterboarding (mengucurkan air ke kepala tahanan yang kepalanya dikerudungi kain, untuk mendapatkan informasi) dengan alasan tindakan sipir penjara Guantanamo itu melanggar HAM.

Trump mengaku tak peduli hukum internasional. “Lihat saja di Timur Tengah. Musuh-musuh negara kita sudah biasa memotong tangan penjahat, apakah kita akan menganggap waterboarding lebih kejam,” kata bakal capres 69 tahun itu. “Kita harus berani memakai teknik yang bahkan lebih kejam dari waterboarding.”

Bekas perwira Angkatan Udara AS, Charlie Dunlap, meyakini tentara Negeri Paman Sam siap melawan perintah dari presiden yang melanggar hukum. Jika Trump benar-benar menang pemilu 8 November mendatang, dan serius memerintahkan membunuh warga sipil secara sengaja, maka bisa dilakukan investigasi yang berujung pada pemakzulan.

“Perintah membunuh warga sipil tidak perlu dipatuhi oleh personel militer kita,” kata Dunlap.

Trump semakin berpeluang besar menjadi capres Partai Republik setelah memenangkan pemilihan internal serentak di 12 negara bagian (Super Tuesday) pekan ini.Dia sudah meraih 329 delegasi, jauh meninggalkan lawan-lawannya seperti Senator Ted Cruz (231) maupun Marco Rubio (110). Partai Republik mensyaratkan seorang capres dapat maju dalam pemilu jika mendapat dukungan minimal 1.237 delegasi. (nbc/adj)

Komentar Mustanir.com

Padahal sebelum Trump yang menjadi Presiden, Amerika telah banyak melakukan pelanggaran HAM di Irak, Afghanistan dan di belahan dunia lainnya. Jadi ketakutan-ketakutan tentara ini bukanlah ketakutan-ketakutan yang baru. Malah hanya menjadi semacam lelucon. Ya, inilah Amerika. Negeri kiblat peradaban modern yang sesungguhnya penjahat perang.

Categories