Teroris dalam Jebakan Intelijen?

MUSTANIR.net – Pengamat intelijen Mustofa Nahrawardaya mengatakan bahwa aksi-aksi terorisme yang terus berkembang saat ini tak terlepas dari rekayasa yang dibuat oleh operasi intelijen. Gerakan-gerakan terorisme dengan isu negara Islam diyakini oleh Mustofa telah ditunggangi oleh “orang-orang buatan”.

Kata Mustofa lagi bahwa ide mendirikan negara Islam itu baik, tapi mendirikan negara Islam dengan kekerasan, merampok, menipu, dan membunuh orang yang tidak bersalah, jelas sesuatu yang dikendalikan intelijen untuk menjerumuskan umat Islam dan menyasar aktivis-aktivis Islam yang memiliki agenda politik Islam.

Mustofa meminta masyarakat untuk tidak mudah percaya dengan pers rilis dari pihak aparat, khususnya Densus 88, BNPT hingga kepolisian. Informasi yang disajikan oleh institusi ini sulit diinvestigasi kebenaran sesuai dengan fakta di lapangan.

Gerakan-gerakan yang ingin mendirikan negara Islam saat ini justru dikuatirkan lebih banyak disusupi oleh orang-orang buatan (intelijen). Orang-orang inilah yang menggagas perlawanan dan memprovokasi melakukan pemberontakan terhadap NKRI dengan memanfaatkan emosi umat dan kekecewaan terhadap sistem hukum di negara ini.

Ketika isu ini diterima oleh para pemuda yang naif dan lugu tapi memiliki rasa keislaman yang kuat, maka saat itulah mereka akan di siapkan menjadi pelaku teror dengan menggunakan kekerasan demi tujuan-tujuan tersebut.

Lalu orang-orang buatan ini akan menghilang seperti hantu ketika terjadi aksi terorisme dan menjadi reality show di televisi. Mereka aman dan tak tersentuh karena tujuan mereka adalah memancing para pemuda tersebut untuk melakukan aksi yang diprovokasi orang-orang buatan tersebut.

Sistem Sel, Sistem Intelijen

Mengapa sampai detik ini para pelaku teror yang tertangkap selalu berakhir mati, jika pun tertangkap hanya sebatas kroco dan pelaku bagian bawah dari para jaringan tersebut? Karena para pelaku teror yang direkrut tidak menyadari bahwa yang merekrutnya adalah orang-orang buatan yang disusupi atau menyusup dalam sebuah jaringan yang bernama.

Saat mereka dibina dan dilatih, saat itulah mereka akan disiapkan untuk dikorbankan untuk agenda-agenda intelijen. Terorisme yang terjadi dewasa ini tidak terlepas dari kegiatan intelijen yang sangat memahami postur kelompok-kelompok Islam di Indonesia.

Apalagi semangat keagamaan di jiwa para pemuda dan remaja Islam menggeliat dan tumbuh subur dengan maraknya aktivitas-aktivitas keislaman di kampus, sekolah dan perkantoran. Keadaan ini tentu menjadi perhatian dan kekhawatiran mengenai dampak tingginya aktivitas keagamaan dalam perspektif politik di negara ini.

Sudah bukan menjadi rahasia lagi dari zaman Soekarno dan Soeharto, intelijen terus memantau kegiatan para aktivis Islam di nusantara. Operasi-operasi yang dilakukan oleh intelijen di masa Soeharto menunjukkan bahwa musuh utama adalah aktivis Islam yang memiliki agenda-agenda politik negara Islam.

Menyadari hal ini, intelijen memiliki kepentingan untuk mengawasi kelompok-kelompok tersebut. Isu demi isu sengaja dihembuskan untuk memancing aktivis tersebut keluar dan memberikan reaksi yang diinginkan, tapi sayangnya yang tertangkap malah para remaja dan pemuda yang lugu dan polos.

Kasus Basir?

David tertangkap oleh Densus 88 karena hanya mengenai Basir. Siapa sebenarnya Basir ini? David mengenalnya dalam sebuah jejaring sosial Facebook, Basir tercatat berkenalan melalui Facebook dengan Nanto, David, dan Herman. Keberadaan Basir yang menumpang menginap di rumah David bermula dari keinginan Basir mencari pekerjaan di Jakarta. Sampai detik ini pun Basir seperti hantu, hilang misterius semenjak penangkapan David di rumahnya di kawasan Palmerah, Jakarta. Bahkan hingga kini pun polisi tidak mengumumkan siapa sosok Basir ini.

Mustofa mensinyalir bahwa intelijen telah melakukan cara jorok dengan membuat konspirasi hitam dalam menjerumuskan umat Islam khususnya para aktivis. Mustofa yang juga aktivis Pemuda Muhammadiyah menyatakan bahwa Densus dan BNPT gagal dalam menerapkan deradikalisasi dengan pola konvensional.

Menurut Mustofa lagi, intelijen sekarang menyusup menjadi agen yang mengaku sebagai pejuang Islam. Mereka mengincar para pemuda atau remaja yang akan dijadikan korban dari agenda ini. Mereka berkenalan di Facebook lalu mengindentifikasi rumah dan menaruh barang bukti lalu menghilang, kemudian rumah yang disinggahi akan diciduk karena terkait oleh jaringan terorisme. Cara ini kotor sekali jelas Mustofa.

Mustofa menguraikan bahwa Basir-Basir lainnya akan terus berkeliaran di dunia maya mencari para korban untuk dijadikan sasaran berikutnya. Dunia media sosial dianggap cara paling mudah dalam merekrut orang yang akan dituduhkan sebagai pelaku aksi teror.

Fitnah terhadap Kelompok Islam

Mengapa dan kenapa kelompok Islam dibidik dalam agenda teroris?

Di Indonesia, Ḥizbut Taḥrīr termasuk yang paling garang dan frontal dalam meneriakkan kembali kepada khilafah dan syariat Islam. Kelompok ini tidak memiliki kendaraan politik dan juga mengharamkan mengikuti sistem demokrasi yang mereka anggap kufur karena tidak sesuai dengan sistem dari Islam.

Terlepas dari pro dan kontra penafsiran mengenai siasat dalam politik Islam, Ḥizbut Taḥrīr termasuk yang paling konsisten dan terbuka dengan ideologi yang dianutnya. Cara yang mereka lakukan pun bersifat akademis dengan mengelar seminar-seminar dan juga kampanye terbuka yang dilihat oleh masyarakat luas.

Lalu siapakah sebenarnya kelompok yang menginginkan berdirinya negara Islam di Indonesia dengan kekerasan? Apakah mereka nyata? Atau mereka hanyalah sebuah gerakan yang dibuat, dirancang, dan digunakan oleh sebuah kekuatan untuk kepentingan-kepentingan tertentu? Apakah para remaja dan pemuda yang mereka rekrut menyadari bahwa sebenarnya mereka adalah binaan dari intelijen?

Mengapa mereka bersembunyi jika yang mereka sampaikan adalah kebenaran? Apakah kebenaran selalu bersembunyi di balik bayangan? Apakah dengan cara membom dan menyerang polisi dan menjadikan musuh masyarakat akan dapat membawa mereka dalam keberhasilan mendirikan negara Islam di Indonesia?

Sungguh naif dan polos jika mereka mengatakan iya. Mungkin ada benarnya ketika Mustofa mengatakan bahwa “Remaja Islam yang sadar syariat Islam itu sudah banyak, namun kadang masih polos dengan ungkapan-ungkapan di dunia maya. Ini harus hati-hati. Memiliki semangat Islam itu baik namun harus tetap diiringi dengan ilmu. Semua itu bertujuan agar kita lebih bisa memilah dan berstrategi agar perjuangan Islam tidak ditunggangi operasi intelijen. Jika baru berkenalan dengan orang asing yang berteriak-teriak Islam secara frontal di dunia maya, wajib kita berhati-hati sampai kita kenal betul siapa dia dan apa latar belakangnya. Jangan mau sembarangan diajak ketemu di dunia nyata.” []

Sumber: Rahib Tampati

About Author

Categories