Siapa pun Pemenang Pemilu Demokrasi, Tetap Oligarki Penguasanya

MUSTANIR.net – Dalam ideologi dan sistem serta peradaban kapitalisme-sekulerisme seperti saat ini. Klaim katanya, demokrasi itu adalah pemerintahan (kekuasaan) dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat. [1] Namun, faktanya demokrasi itu realitasnya justru pemerintahan dari pemodal (cukong-kapitalis) oleh pemodal dan untuk pemodal. Dan dari elite parpol oleh elite parpol dan untuk elite parpol. Serta dari penguasa oleh penguasa dan untuk penguasa belaka.

Dengan kata lain, demokrasi itu realitasnya justru adalah pemerintahan (kekuasaan) dari oligarki, oleh oligarki dan untuk oligarki. Bukan, pemerintahan (kekuasaan) dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, seperti yang selama ini dinyatakan, diajarkan, didiktekan dan didoktrinkan di dunia akademik, di dalam teori-teori ilmu sosial dan politik, serta di tengah masyarakat dunia.

Dan dalam demokrasi itu pun, realitasnya tidak ada istilah “makan siang gratis (no free lunch)”. Tidak ada istilah “teman sejati”, dan juga tidak ada istilah “musuh sejati”. Justru yang ada dalam demokrasi, hanyalah fulus alias uang atau duit alias cuan (money) dan kepentingan yang sejati nan abadi.

Dalam teori, doktrin dan dogma absurd demokrasi juga, klaim katanya kedaulatan tertinggi itu ada di tangan rakyat. Namun, realitasnya justru kedaulatan tertinggi dalam demokrasi itu ada di tangan oligarki. Kedaulatan tertinggi rakyat dalam demokrasi itu hanya jargon politik dan mantra sihir demokrasi yang sangat menipu mata, akal sehat dan iman.

Jadi, demokrasi itu realitasnya atau faktanya sangat paradoks sekali. Demokrasi itu seringkali terbukti antara pernyataan dengan kenyataan itu tidak bersesuaian, dan antara kenyataan dengan pernyataan pun juga tidak bersesuaian. Alias penuh kontradiktif dan kontraproduktif serta tidak logis.

Ada pun definisi atau pengertian oligarki sendiri, bila merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan Wikipedia. Maka, oligarki adalah pemerintahan (kekuasaan) yang dijalankan oleh beberapa orang yang berkuasa dari golongan atau kelompok tertentu. [2]

Dalam demokrasi dengan ideologi setan kapitalisme-sekulerismenya tersebut, penguasa sesungguhnya itu adalah elite-elite parpol dan big boss-nya yang menjadi penguasa utamanya adalah oligarki (elite-elite the invisible hands [mafia] atau cukong-pemodal-kapitalis). Bukanlah presiden atau juga bukanlah trias politica (eksekutif, legislatif, dan yudikatif).

Namun, realitasnya dalam demokrasi tersebut, justru trias politica (presiden/eksekutif, legislatif dan yudikatif) itu hanya menjadi boneka dan kacungnya oligarki belaka. Yang mengabdi setia kepada oligarki, bukan mengabdi kepada rakyat dan bukan pula mengabdi kepada agama dan Tuhan yang Maha Esa. Dan dalam tiap pemilu, pilkada, pileg, maupun pilpres justru oligarkilah yang mendanai parpol dan elite-elitenya serta pula mendanai para calon kepala daerah, caleg, dan capres-cawapres. [3]

Dalam demokrasi, rakyat hanya dibutuhkan saat pemilu saja. Dan rakyat hanya dijadikan tumbal politik saja. Untuk melegitimasi tetap langgengnya kekuasaan oligarki dan para penguasa bonekanya tersebut. Serta untuk tetap melanggengkan dan tetap melestarikannya sistem penjajah demokrasi beserta induk semangnya kapitalisme-sekulerisme tersebut.

Hingga hanya melanggengkan hegemoni penjajahan kapitalisme global asing dan aseng belaka di negeri ini dan di berbagai penjuru negeri lainnya. Serta hanya memperpanjang usia kedigdayaan sistem kufur demokrasi dan peradaban “sampah” kapitalisme yang rusak tersebut dan sangat menindas rakyat serta merusak tatanan kehidupan umat manusia yang beradab.

Ketika pemilu sudah selesai, dan mereka berkuasa. Maka, lagi-lagi rakyat kembali lagi dikhianati, dibohongi, ditipu, dan ditindas serta ditumbalkan oleh mereka. Melalui berbagai kezaliman dan tirani berbagai kebijakan, peraturan dan UU prodak buatan mereka tersebut.

Jadi, sangat wajar banyak sekali berbagai kebijakan, peraturan dan UU produk sistem demokrasi dan produk rezim demokrasi (trias politica) tersebut. Yang realitasnya sangat pro oligarki, dan hanya menguntungkan oligarki, serta hanya merugikan rakyat, agama, dan negara saja.

Lihatlah, dengan banyaknya lahir kebijakan politik-ekonomi rezim demokrasi (trias politica) tersebut yang sangat zalim pada rakyat dan pro oligarki —asing dan aseng.

Seperti: menaikkan harga BBM berkali-kali hingga memicu naiknya harga sembako, biaya hidup, biaya sekolah, biaya kesehatan, hingga naiknya harga properti. Dan juga menaikkan harga minyak goreng, menaikkan harga TDL dan gas elpiji, menaikkan tarif pajak dan iuran BPJS, menyerahkan 2/3 wilayah Indonesia dan 86% SDA-migas Indonesia ke asing-aseng, menyerahkan berton-ton gunung emas Papua ke Freeport AS hingga puluhan tahun, utang ribawi negara hingga lebih dari 7.000 triliiun. Juga impor berton-ton beras dan garam, mendatangkan ribuan hingga jutaan lebih WNA Cina dengan modus CAFTA dan MEA, teken OBOR Cina, menjual aset-aset penting negara, dan lain-lain. [4]

Juga lihatlah, seperti banyaknya lahir peraturan dan UU produk rezim demokrasi (trias politica: eksekutif, legislatif dan yudikatif) tersebut. Di antaranya, seperti: mengamandemen UUD 1945 sebanyak 4 kali, UU PMA, UU Pemilu, UU SJSN (BPJS), RUU HIP/BPIP, UU Omnibus Law Cilaka, UU Minerba, UU Tipikor, UU Terorisme, UU ITE, UU KPK, RKUHP, RUPKS, UU IKN, UU Kesehatan, dan lain-lain. [5]

Oleh karena itu, partai politik (parpol) apa pun yang menang pemilu demokrasi, dan siapa pun yang menang dalam pilkada, pileg dan pilpres 2024 mendatang. Serta siapa pun yang menjadi presiden dan wakil rakyatnya. Tetap, pemenangnya dan tetap penguasa sesungguhnya dalam negara demokrasi adalah oligarki alias cukong atau kapitalis yang dijuluki “the invisible hands” tersebut.

Makanya, sangat wajar sekali dan sangat logis dalam pernyataan AM Hendropriyono seorang grandmaster intelijen Indonesia dan mantan kepala BIN, yang potongan videonya beredar viral, saat dia diwawancarai seorang jurnalis SCTV. Ketika, Hendropriyono ditanya apakah capres yang mau maju pilpres 2024 harus mendapatkan persetujuan Amerika? Hendro memberikan jawaban yang sangat menarik.

Amerika dengan sistem kapitalisme, kekuasaan sejatinya bukan ada pada presiden atau politisi. Melainkan ada pada kaum pemodal, para taipan, orang-orang kaya, para cukong. Para kapitalis inilah, yang sejatinya berkuasa di Amerika.

Kalau capres di Indonesia dianggap mengganggu Amerika (kepentingan kapitalis), maka capres tersebut akan diganggu. Caranya mudah, cukup sebar duit US$ 1 miliar, dapat digunakan untuk menggerakkan masyarakat untuk mengganggu capres. Begitu terang Hendropriyono. [6]

Apa yang telah dan sedang terjadi di Amerika Serikat pun, juga realitasnya terbukti pula telah dan sedang terjadi di Indonesia. Di negeri ini sejatinya yang berkuasa bukanlah presiden atau politisi. Melainkan para cukong, atau yang kondang disebut oligarki alias kapitalis tersebut.

Ketum Partai Nasdem Surya Paloh, yang notabene telah secara resmi mendeklarasikan Anies Rasyid Baswedan sebagai capres dari partai Nasdemnya. Bahkan, dia mengeluhkan belum adanya penyokong atau investor politik untuk mendukung pencapresan Anies Baswedan tersebut. Surya Paloh, menyatakan secara terbuka jika ada yang mau investasi. [7]

Hal ini semakin pula kian membuktikan, kepemimpinan dan kekuasaan nasional Indonesia. Bukan ditentukan oleh sosok capres-cawapres atau parpolnya, serta bukan pula ditentukan oleh suara mayoritas rakyat.

Namun, justru realitasnya para cukong alias kapitalis atau oligarki alias para bandar atau bohirlah yang menentukan dan mengendalikan kepemimpinan dan kekuasaan nasional yang sesungguhnya. Dengan kekuatan kapital atau modal raksasanya dan melalui sistem demokrasi kapitalisme sekulerisme, biang oligarki dan biang penjajahan.

Seperti yang dikatakan juga oleh Fahri Hamzah mantan Wakil Ketua DPR RI 2014-2019. Dia mengatakan bahwa penyandang dana atau biasa disebut bohir dalam pemilihan presiden umumnya akan mengambil keputusan final dukungannya menjelang penetapan. Hal tersebut ia sampaikan dalam webinar bertajuk ‘Siapa Presiden dan Wakil Presiden Indonesia 2024’ pada Selasa (15/11/2022).

“Selama saya 15 tahun di dunia politik mengikuti pemilu, yang menyatukan parpol itu memang bohir atau para pembayar karena kita tidak mengatur secara rigid tentang keuangan pilpres,” ujar Fahri.

Menurut Fahri, pada umumnya bohir baru akan mengambil keputusan jelang penetapan KPU. Sehingga hingga saat ini belum ada bohir yang 100 persen menentukan arah dukungannya. “Bohir akan membuat pilihannya di September 2023. Enggak ada bohir menaruh kartunya sekarang, omong kosong. Ini seperti main catur, dia mau menggerakkan pion di mana,” terang Fahri. [8]

Oleh karena itulah, siapa pun yang masuk dalam sistem demokrasi seperti yang diterapkan di Indonesia ini. Maka, niscaya dia akan rusak, korup, dan hanya menjadi jongos dan kacung atau pionnya oligarki (kapitalis, bohir, cukong, dan bandar politik) lokal, asing, maupun aseng.

Benarlah! Sebagaimana dahulu telah ditegaskan sebelumnya oleh Menkopolhukam Mahfud MD, yang di kemudian hari dia justru turut pula membuktikannya sendiri pada dirinya sendiri secara ilmiah dan realistis. Di mana dahulu beliau pernah berkata: “Malaikat masuk sistem Indonesia (demokrasi) pun bisa jadi iblis”. [9]

Jadi, masihkah kita percaya dan masihkah pula kita berharap pada sistem kufur demokrasi —beserta ideologi kapitalisme sekulerismenya- yang terbukti sangat rusak, biang masalah, biang korupsi, dan biang penjajahan oligarki? Yang notabene demokrasi merupakan politik wani piro, politik transaksional, politik dagang sapi, politik tipu-tipu, politik hipokrit, politik standar ganda dan sangat korup serta sangat paradox tersebut! Pikir! Wahai orang-orang yang masih punya akal sehat, dan yang masih beriman, serta yang masih punya hati nurani!

Padahal, Allah subḥānahu wa taʿālā telah berfirman:

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

“Apakah hukum (sistem) jahiliyah (kufur) yang mereka kehendaki, dan (hukum/sistem) siapakah yang lebih baik daripada (hukum/sistem) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS al-Maidah [5]: 50)

Jadi, terbukti pula demokrasi beserta pemilunya yang sangat mahal tersebut bukanlah metode perubahan hakiki, dan bukanlah metode mewujudkan kebangkitan hakiki. Realitasnya pun sudah puluhan lebih kali pemilu digelar, hingga habiskan uang negara puluhan triliun hingga ratusan trilyunan lebih.

Sejak era zaman Orde Lama (Orla), Orde Baru (Orba) hingga Orde Reformasi (Ormas) dan Orde Gila (Orgil) saat ini. Toh, kenyataanya justru tidak ada perubahan besar hakiki yang terjadi, dan tidak pula terwujud kebangkitan hakiki di negeri Indonesia ini.

Justru malah sebaliknya, rakyat dan negeri ini semakin terpuruk dan semakin terjajah secara sistemik. Dan semakin dikuasai serta semakin dicengkeram kuat oleh oligarki dan hegemoni penjajahan kapitalisme global asing dan aseng. Serta kekuasaan dan kejahatan oligarki dan penguasa bonekanya yang semakin menggurita dan menindas rakyat hingga menjadi lingkaran setan di negeri ini. Jadi, sejatinya pemilu dan demokrasi bukanlah solusi.

Namun, realitasnya demokrasi hanya menjadi jalan tol dan senjata ampuh oligarki (cukong/kapitalis global asing-aseng) dan proxy war-nya, yakni para penguasa boneka, elite-elite politisi, parpol, dan komprador (agen-agen penjajah). Dalam melanggengkan kekuasaan, tirani dan penjajahan oligarki kapitalisme global asing dan aseng belaka tersebut. Dan demokrasi hanya menjadi jalan tol elite-elite politisi demokrasi dan oligarki untuk semakin mengkorupsi uang rakyat dan negara.

Jadi, dalam agama kita yakni Islam. Sesungguhnya yang Islam kehendaki, bukan sekadar orang Islam belaka yang menjadi pemimpin. Namun, justru semestinya Islam yang memimpin dan menjadi qaidah fikriyah (asas berpikir/intelektual) dan qiyadah fikriyah (kepemimpinan berpikir/ideologis: sistem kehidupan) satu-satunya dalam kehidupan dan bernegara. Dalam wujud sempurnanya, yaitu syariah dan khilafahnya.

Sehingga dengan qaidah fikriyah Islam dan qiyadah fikriyah Islam dalam wujud sempurna syariah dan khilafahnya tersebut. Maka, qaidah fikriyah Islam dan qiyadah fikriyah Islam dapat secara real mewujudkan masyarakat yang bangkit secara hakiki, dan akan terwujud pula perubahan besar secara hakiki dan revolusioner di negeri ini.

Jadi, bila tetap ngeyel hanya fokus memilih sosok figur belaka atau ganti rezim doang, dan tidak peduli sama sekali dengan sistemnya atau tidak mau ganti sistemnya juga. Maka, itu ibarat mobil yang sudah bobrok dan rusak, meskipun seshalih apa pun sopirnya yang mengendarainya. Tetap akan membawa petaka dan bencana bagi penumpang mobil bobrok dan rusak tersebut, bila tetap dipaksa dijalankan dan tetap dipaksa melaju kencang.

Sebaliknya sebuah keniscayaan, bila dengan diganti mobil yang baru dengan onderdil baru dan sistem mesin yang baru, sekaligus pula ganti sopir yang baru dan lebih shalih. Maka, niscaya perjalanan panjang para penumpang di dalam mobil baru tersebut yang dikendarai oleh sopir baru yang shalih tersebut. Itu akan membawa kebaikan, kenyamanan, keamanan, keselamatan, dan kebahagiaan sampai tujuan hakikinya.

Maka solusinya, tidak hanya ganti sopirnya yang shalih belaka, tapi juga mutlak wajibnya ganti mobil lama yang bobrok dan rusak tersebut dengan mobil yang baru dan onderdil baru serta sistem mesin yang baru. Oleh karena itu, jangan melulu hanya menyerukan ganti rezim (presiden/pemimpin/penguasa dan wakil rakyat). Tetapi, justru tidak pernah sama sekali menyerukan ganti sistem. Sungguh itu merupakan paradoks yang sangat akut.

Karena, masalahnya bukan hanya di orang/rezim/presiden/pemimpinnya, namun akar masalahnya adalah di sistem itu sendiri. Yaitu, sistem korup yang kini diterapkan di negeri ini yakni demokrasi —beserta induk semangnya yakni ideologi kapitalisme sekulerisme— yang sangat mahal biayanya. Dan hanya menjadi biang masalah, biang tipu-tipu, biang korupsi, biang kerusakan, biang kezaliman tirani oligarki, dan biang penjajahan. Sedangkan, pancasila, suara rakyat (kedaulatan rakyat) dan NKRI harga mati hanya dijadikan jargon politiknya saja.

Jadi, jika solusinya bukan dengan Islam kaffah beserta syariah dan khilafahnya untuk mengatasi segala problematika yang mendera negeri ini termasuk dalam mengatasi mengguritanya korupsi dan mengguritanya oligarki tersebut, maka lantas apa? Oleh sebab itulah, tiada alternatif lain, kecuali sudah tiba saatnya ganti rezim, ganti sistem, hanya dengan Islam kaffah yakni syariah dan khilafah, titik tidak pakai koma.

Maka, di sinilah penting kiranya, kita umat Islam untuk bersegera hijrah secara hakiki ke dalam sistem Islam kaffah (syariah dan khilafah) saja.

Dan di sinilah, pentingnya kita umat Islam untuk lepas dari cara berpikir in of the box (dalam kotak/dalam sistem) atau cara berpikir seperti katak dalam tempurung kelapa. Yang menganggap seolah-olah dunia ini sempit seperti katak dalam tempurung kelapa tersebut.

Sehingga mentok seolah-olah tidak ada pilihan lain, kecuali pemilu dan demokrasi dengan pilihan figur-figur politisi calon pemimpin prodak demokrasi yang itu-itu saja. Yang notabene sebetulnya sudah di-design oleh parpol dan oligarki, dan juga seolah-olah tidak ada solusi alternatif pilihan lainnya saja.

Kemudian, bersegeralah hijrah kaffah ke cara berpikir out of the box atau di luar kotak/di luar sistem, bahwa masih ada banyak pilihan lainnnya di luar kotak/di luar sistem korup dan wani piro demokrasi dan pemilunya yang sangat mahal tersebut. Yaitu di antaranya pilihan yang lebih cerdas, syar’i, halal dan thayyibah yakni hanya pilihan Islam kaffah: syariah dan khilafah saja, bukan selainnya.

Jadi, sudahlah segera tumbangkan demokrasi, ganti rezim, ganti sistem! Dan sudah cukuplah solusinya hanya Islam kaffah: syariah dan khilafah saja! Mau?

Allah subḥānahu wa taʿālā berfirman:

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

“Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS an-Nuur [24]: 51)

وَمَنۡ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوۡلَهٗ وَيَخۡشَ اللّٰهَ وَيَتَّقۡهِ فَاُولٰٓٮِٕكَ هُمُ الۡفَآٮِٕزُوۡنَ

“Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS an-Nuur [24]: 52)

Allah subḥānahu wa taʿālā pun berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا.

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang Mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS al-Ahzab [33]: 36)

وَمَنْ أَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنْكًا وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَىٰ.

“Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari Kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha [20]: 124)

وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ.

“Apa-apa yang diberikan (diperintahkan) Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al-Hasyir [59]: 07)

وَمَن يُشَاقِقِ ٱلرَّسُولَ مِنۢ بَعۡدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ ٱلۡهُدَىٰ وَيَتَّبِعۡ غَيۡرَ سَبِيلِ ٱلۡمُؤۡمِنِينَ نُوَلِّهِۦ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصۡلِهِۦ جَهَنَّمَۖ وَسَآءَتۡ مَصِيرًا.

“Siapa saja yang menentang Rasul sesudah jelas datang kepada dia petunjuk dan mengikuti jalan orang-orang yang tidak beriman, Kami membiarkan dia leluasa dengan kesesatannya. Kemudian Kami menyeret dia ke dalam neraka Jahanam. Neraka Jahanam itu tempat kembali yang paling buruk.” (QS an-Nisa’ [4]: 115)

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا.

“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS an-Nisa’ [4]: 65)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam.” (QS Ali Imran [3]: 102)

Wallahu musta’an, wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber: Zakariya al-Bantany

Catatan Kaki:

1. https://id.m.wikipedia.org/wiki/Demokrasi; https://kbbi.web.id/demokrasi

2. https://kbbi.web.id/oligarki; https://id.m.wikipedia.org/wiki/Oligarki

3. https://www.cnbcindonesia.com/news/20201014121045-4-194259/mahfud-md-biaya-pilkada-itu-mahal-ada-percukongan; https://nasional.tempo.co/read/1308811/bamsoet-pemodal-dan-asing-incar-parpol-jelang-pergantian-ketum; https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200911163316-32-545445/mahfud-md-sebut-92-persen-calon-kepala-daerah-dibiayai-cukong; https://m.tribunnews.com/pilkada-2020/2020/10/14/mahfud-md-biaya-pilkada-itu-mahal-ada-sponsonya-ya-cukong; https://news.detik.com/berita/d-5169743/kpk-ungkap-kajian-82-calon-pilkada-dibiaya-sponsor-mahfud-singgung-cukong

4. https://mediaumat.id/media-umat-edisi-209-rezim-liberal-aset-negara-diobral; https://www.cnbcindonesia.com/news/20190806132510-4-90159/jokowi-jual-aset-negara-di-thamrin-cs-rp-150-t-buat-apa; https://www.google.com/amp/s/ekbis.sindonews.com/newsread/1245357/34/jokowi-minta-800-anak-usaha-bumn-dijual-1507108867#ampshare=https://ekbis.sindonews.com/read/1245357/34/jokowi-minta-800-anak-usaha-bumn-dijual-1507108867; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-209-rezim-liberal-aset-negara-diobral/; https://www.academia.edu/9462985/Mengkhawatirkan_BUMN_di_tangan_Pemerintahan_Baru; https://m.kaskus.co.id/thread/5b5c7d39c1cb17835c8b4568/bumn-dijual-diam-diam-era-jokowi; https://www.kompasiana.com/amp/nuryatimasewe/aftamea_56bed660ad7e612707ff629c; https://www.google.com/amp/s/www.cermati.com/artikel/amp/seberapa-pentingkah-mea-itu-inilah-penjelasannya#ampshare=https://www.cermati.com/artikel/seberapa-pentingkah-mea-itu-inilah-penjelasannya; https://www.google.com/amp/s/economy.okezone.com/amp/2018/05/07/320/1895378/3-fakta-di-balik-kerjasama-indonesia-china-dalam-belt-and-road-initiative#ampshare=https://economy.okezone.com/read/2018/05/07/320/1895378/3-fakta-di-balik-kerjasama-indonesia-china-dalam-belt-and-road-initiative; https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/milisinasionalreturn/5c9350657a6d880fce0760b3/mahatir-jokowi-dan-jebakan-utang-cina#ampshare=https://www.kompasiana.com/milisinasionalreturn/5c9350657a6d880fce0760b3/mahatir-jokowi-dan-jebakan-utang-cina; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-158-bahaya-serbuan-tenaga-kerja-cina; http://fnn.co.id/post/iuran-bpjs-naik-listrik-naik-pajak-naik-terus-rakyat-mau-makan-apa; https://www.cnbcindonesia.com/news/20220401070730-4-327822/resmi-tarif-ppn-naik-11-barang-ini-jadi-makin-mahal; https://www.merdeka.com/uang/mahalnya-harga-sembako-imbas-kenaikan-harga-bbm-tak-untungkan-petani-kok-bisa.html; https://politik.rmol.id/read/2022/04/01/528848/harga-bbm-dan-sembako-meroket-perpanjangan-masa-jabatan-presiden-semakin-tidak-relevan; https://www.liputan6.com/bisnis/read/5056569/harga-bbm-naik-sudah-7-kali-selama-jokowi-jadi-presiden; https://www.cnbcindonesia.com/news/20190920140849-8-100995/duh-biaya-hidup-serba-naik-di-era-jokowi-20; https://www.voaindonesia.com/a/ketua-asosiasi-petani-garam-garam-impor-pukul-petani-lokal-129599753/98041.html; https://m.merdeka.com/uang/kado-awal-2018-pemerintah-jokowi-impor-beras-hingga-garam-industri.html; https://m.bisnis.com/ekonomi-bisnis/read/20230328/12/1641212/jokowi-mau-impor-beras-lagi-saat-panen-raya-ini-respons-petani; https://m.bisnis.com/ekonomi-bisnis/read/20201005/9/1300749/luhut-sebut-jokowi-izinkan-impor-garam-dan-gula-industri-asal; ju.html; https://ekbis.sindonews.com/read/1234853/34/pemerintah-perpanjang-kontrak-freeport-hingga-2041-1503990393; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-223-freeport-bohong-besar-rezim-jokowi/; https://mediaumat.news/media-umat-edisi-235-kedustaan-dan-kejahatan-di-balik-divestasi-freeport; https://www.cnbcindonesia.com/market/20181031192808-17-40001/apbn-2019-tetapkan-dolar-rp-15000-sri-mulyani-waspada; https://investasi.kontan.co.id/news/rupiah-kembali-melemah-ke-rp-15000-per-dolar-as-jumat-236-pagi; https://m.liputan6.com/bisnis/read/4012823/utang-luar-negeri-indonesia-rp-5379-triliun-pada-akhir-mei-2019?related=dable&utm_expid=.t4QZMPzJSFeAiwlBIOcwCw.1&utm_referrer=android-app%3A%2F%2Fcom.google.android.googlequicksearchbox; https://m-liputan6-com.cdn.ampproject.org/v/s/m.liputan6.com/amp/4614806/awas-utang-pemerintah-tembus-rp-655456-triliun-di-akhir-juni-2021; https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/d-6710182/utang-ri-tembus-rp-7879-t-sri-mulyani-kami-tetap-hati-hati

5. https://mediaumat.id/uu-liberal-terus-muncul-sekjen-fpmi-solusinya-islam; https://mediaumat.id/jurnalis-pengesahan-uu-ikn-diduga-untuk-penuhi-permintaan-konglomerat; https://www.kompas.com/tren/read/2020/10/05/184950065/disahkan-ini-sejumlah-poin-omnibus-law-uu-cipta-kerja-yang-menuai-sorotan; https://www.kompas.com/stori/read/2021/12/10/080000779/berapa-kali-amandemen-uud-1945-dilakukan?page=all; https://m.antaranews.com/berita/2464189/amendemen-uud-1945-perlu-atau-tidak; https://www.kompas.id/baca/humaniora/2023/07/11/uu-kesehatan-disahkan-penolakan-tetap-bergulir

6. https://youtu.be/68AmAX7aTSw

7. https://m.merdeka.com/video/politik/video-surya-paloh-belum-punya-penyokong-dana-nasdem-majukan-capres-anies-2024.html

8. https://nasional.sindonews.com/read/942153/12/cerita-fahri-hamzah-soal-capres-pilihan-bohir-di-pilpres-2024-1668503470

9. https://m.republika.co.id/berita/muasnx/mahfud-md-malaikat-masuk-ke-sistem-indonesia-pun-bisa-jadi-iblis

About Author

2 thoughts on “Siapa pun Pemenang Pemilu Demokrasi, Tetap Oligarki Penguasanya

  1. Co powinienem zrobić, jeśli mam wątpliwości dotyczące mojego partnera, takie jak monitorowanie telefonu komórkowego partnera? Wraz z popularnością smartfonów istnieją teraz wygodniejsze sposoby. Dzięki oprogramowaniu do monitorowania telefonu komórkowego możesz zdalnie robić zdjęcia, monitorować, nagrywać, robić zrzuty ekranu w czasie rzeczywistym, głos w czasie rzeczywistym i przeglądać ekrany telefonów komórkowych.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Categories