
How the World Works
MUSTANIR.net – Para pembuat kebijakan AS menyadari dengan baik bahwa AS muncul dari Perang Dunia II sebagai kekuasaan global pertama dalam sejarah. Atas pemahaman itu maka AS muncul sendiri seolah sebagai Polisi Dunia dan Kaisar Dunia yang berhak mengatur global. Kita bisa menyebut ‘Grand Area’ sebagai wilayah yang harus tunduk pada kepentingan ekonomi AS.
Negara Dunia ke Tiga (di antaranya Indonesia) akan memenuhi fungsi utama sebagai bahan mentah dan pangsa pasar bagi masyarakat industri kapitalis, sebagaimana mandat dalam memo Departemen Luar Negeri AS pada tahun 1949.
Perang Vietnam muncul dari kebutuhan untuk menjamin fungsi-fungsi tersebut. Ancamannya bukan apakah mereka akan menaklukkan pihak lain, melainkan bahwa mereka dapat menjadi percontohan berbahaya dari kemerdekaan nasional yang dapat menginsipirasi bangsa-bangsa lain di wilayah itu. Namun terbukti benar, bahwa setelah itu banyak yang ingin merdeka berdaulat dengan bangsanya sendiri.
Menteri Luar Negeri John F Dulls pernah berujar kepada Presiden Einsenhower: “Anda harus menepuk pundak mereka sedikit dan membuat mereka menyangka bahwa Anda sangat menyukai mereka.” Kata ini semacam diklat Sengkuni, sebab untuk menjaga kekuasaan sering kali harus bisa mencitrakan diri sebagai pahlawan, orang baik, ataupun sebagai pihak yang berhasil membuat suatu hal.
Kebijakan luar negeri pun bukan seberapa besar sebuah negara membutuhkan, namun seberapa besar kemauan mereka untuk melayani kepentingan pemilik modal. Atas kebijakan luar negeri itu maka munculah analisis Noam Chomsky: Penyaliban El Salvador, Pelajaran untuk Nikaragua, Pembantaian di Guatemala, Invasi ke Panama, Perang Teluk, dan Infiltrasi di Asia Tenggara.
Siapa yang menurut, maka aman. Siapa yang melawan, maka akan ditumbangkan. Mungkin ini gambaran yang terjadi di Indonesia pada tahun 1965. Kudeta Soeharto disambut Barat dengan senang hati, sebab tumbangnya Soekarno yang dengan konsisten menolak dana Barat berbanding terbalik dengan kebijakan Soeharto yang justru pro dengan investor. Dimulailah proyek Freeport masuk ke wilayah Indonesia.
Ketakutan AS pada komunisme sebab kekuatan ini dapat mengendalikan gerakan-gerakan massa untuk melawan sehingga harus dimusnahkan, sebab demi melindungi doktrin bahwa kelompok kaya yang seharusnya menjarah kelompok miskin.
Istilah diskursus politik mempunyai makna yang berguna untuk melayani kekuasaan, yakni makna doktrinal. Contohnya istilah demokrasi menurut kamus adalah sebuah masyarakat yang dapat dikatakan demokratis bila rakyat bisa berpartisipasi penuh untuk mengatur hubungan-hubungan mereka. Namun makna doktrinalnya adalah sistem yang merujuk pada keputusan yang dibuat oleh komunitas bisnis dan elite politik terkait, sehingga aslinya masyarakat hanya berfungsi sebagai penonton aksi belaka.
Seorang ahli demokrasi bernama Walter Lippman mengatakan bahwa masyarakat diperkenankan meratifikasi keputusan terbaik para elite dan memberi dukungan, tetapi tak boleh ikut campur dalam persoalan yang bukan urusan mereka, seperti kebijakan publik.
Sistem doktrinal tadi menghasilkan apa yang kita sebut propaganda yang memiliki dua target yang berbeda.
• Pertama, yaitu kelas politis sekitar 20% dari populasi yang relatif terdidik. Mengendalikan mereka lebih baik daripada melawan mereka.
• Ke dua, yaitu para penonton 80% yaitu kawanan yang ikut arus dan terpesona. Mereka dianggap mengikuti aturan dan mereka pula target dari media massa yang sesungguhnya yaitu: sitcom, super bowl, tabloid, acara TV, dll.
Sistem ini menanamkan nilai sosial dasar, yaitu kepasifan, ketertundukan pada otoritas, kurang perhatian pada orang lain (apatis). Tujuannya menjaga agar kawanan terpesona ini tetap saja terpesona, sadar maupun tidak sadar. Pada kenyataannya, jika mereka melihat realitas, tentu bisa berpotensi adanya melakukan perubahan, dan hal ini sama sekali tidak dikehendaki oleh para elite.
Media utama dikuasai oleh korporasi raksasa yang dimiliki oleh dan berjenjang dengan para konglomerat yang bahkan lebih besar lagi. Seperti korporasi lainnya mereka menjual produk kepada pasar. Pasar adalah para pengiklan, yakni kelompok bisnis lain.
Sementara, produknya adalah audiens. Bagi para elite media yang merancang agenda dasar yang kemudian diadopsi media lain, produk itu, lebih jauh lagi adalah audiens yang secara relatif memiliki hak-hak istimewa.
Masih banyak analisis-analisis Chomsky yang begitu mendalam mengenai diskriminasi, perdamaian dunia, dan ketidakadilan di negara-negara Dunia ket Tga. Teorinya seakan menjadi ramalan jitu bahwa beginilah cara dunia bekerja. Dan ia berhasil membuktikannya. []
Sumber: Em Amir Nihat
