Di Balik Tragedi Sudan, Ada Ambisi Amerika

MUSTANIR.net – Pertempuran berdarah di Sudan yang telah berlangsung selama dua tahun antara tentara dan Pasukan Dukungan Cepat (RSF) mengakibatkan tragedi mengerikan. Warga sipil menjadi sasaran pelanggaran berat, termasuk pembunuhan massal, pengungsian paksa, kelaparan, penyakit, kekerasan seksual, dan bencana lainnya.

Kekejaman yang dilakukan oleh kedua pihak yang bertikai, selama 14 bulan pertama konflik, telah mencapai 150.000 orang tewas, termasuk lebih dari 60.000 orang hanya dari negara bagian Khartoum.

Jumlah korban luka telah melampaui 70.000 orang dengan kesulitan yang signifikan dalam mengakses layanan kesehatan akibat runtuhnya sistem kesehatan karena 70–80% fasilitas kesehatan tidak berfungsi dan penyebaran penyakit, seperti kolera, campak, dan diare. Pendidikan juga lumpuh, hampir 20 juta anak di Sudan saat ini tidak bersekolah.

Ambisi Amerika

Aktivis muslimah Ummu Suhaib menilai, di balik perang tersebut ada ambisi Amerika di Sudan. ”Perang terkutuk antara tentara dan RSF ini demi memenuhi ambisi tuannya, Amerika, di Sudan dan kekayaannya. Perang ini dibayar dengan harga mahal oleh rakyat Sudan,” ungkapnya pada Kamis, (7-8-2025).

Ia melanjutkan, Sudan yang dahulu dianggap sebagai lumbung pangan dunia karena melimpahnya lahan pertanian, air, dan ternak, kini penduduknya menderita kelaparan, kemiskinan, penyakit, dan pengungsian.

”Anak-anak mewakili 53% dari total pengungsi internal, menjadikan Sudan sebagai negara dengan krisis pengungsian internal terbesar di dunia. Sepertiga dari populasi Sudan mengungsi di kamp-kamp pengungsian yang kondisinya kekurangan layanan dasar. Mereka menderita kekurangan makanan, air bersih, dan layanan kesehatan,” ujarnya prihatin.

Kekurangan layanan dasar ini, ucapnya, karena kedua belah pihak menggunakan kelaparan sebagai senjata perang dengan mencegah makanan memasuki wilayah yang mereka kuasai.

”Sekitar 25 juta orang—hampir separuh populasi—membutuhkan bantuan pangan, terutama di kamp-kamp pengungsian. Ratusan ribu anak menderita malnutrisi parah, dan banyak dari mereka berisiko meninggal dunia. Laporan menunjukkan bahwa sekitar 3,7 juta anak di Sudan menderita malnutrisi. Jumlah ini diperkirakan akan meningkat jika situasi berlanjut, dan sekitar 220.000 anak yang menderita malnutrisi parah kemungkinan akan meninggal dunia,” urainya.

Khilafah

Ia mengatakan, bencana yang terjadi di Sudan disebabkan ketiadaan negara Khilafah yang melindunginya. Oleh karenanya, ia mengajak umat untuk berjuang menegakkan Khilafah rasyidah dengan mengikuti metode kenabian agar Sudan dan seluruh negeri muslim terbebas dari cengkeraman penjajahan dengan segala bentuknya.

Ia mengutip firman Allah ﷻ dalam QS Al-Anfal: 53, “(Siksaan) yang demikian itu adalah karena sesungguhnya Allah sekali-kali tidak akan mengubah sesuatu nikmat yang telah dianugerahkan-Nya kepada suatu kaum, hingga kaum itu mengubah apa-apa yang ada pada diri mereka sendiri, dan sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”

Ia juga menyampaikan hadis Rasulullah ﷺ riwayat Ibnu Majah, “…. Jika para pemimpin mereka tidak memerintah berdasarkan Kitab Allah dan tidak mencari kebaikan dari apa yang diturunkan Allah, niscaya Allah akan menjadikan mereka berperang satu sama lain.”

“Demi Allah, inilah situasi dan kondisi kita di negeri-negeri Islam sejak hilangnya mentari Khilafah, pemimpin yang memerintah berdasarkan syariat dan din Allah,” pungkasnya.

Amerika Terlibat dalam Konflik Sudan

Hizbut Tahrir menuding Amerika Serikat sebagai aktor utama di balik konflik yang terus berlangsung di Sudan. Dalam pernyataan resminya, organisasi ini menyebut keterlibatan Washington bukanlah hal baru, melainkan bagian dari pola panjang campur tangan di berbagai konflik internasional, mulai dari Palestina hingga Timur Tengah dan Afrika.

“Amerika telah terbukti menjadi dalang di balik sejumlah konflik paling keji di dunia. Dari Ukraina hingga Palestina, dan kini Sudan, pola yang sama terus berulang: penggunaan senjata, dana, dan proksi untuk melanggengkan kepentingan geopolitiknya,” demikian pernyataan Hizbut Tahrir.

Menurut organisasi tersebut, sejak kemerdekaan Sudan pada 1956, negara ini tidak pernah lepas dari cengkeraman kekuatan asing. Awalnya Inggris, lalu bergeser ke Amerika seiring kebangkitannya sebagai kekuatan super dunia. Karena posisi strategis dan sumber daya melimpah, Sudan menjadi rebutan berbagai negara, termasuk Rusia, China, dan Prancis. Namun, Hizbut Tahrir menilai Amerika tetap menjadi “pengendali utama” melalui proksi-proksinya.

Hizbut Tahrir menyoroti keterlibatan Amerika dalam mendukung dua tokoh kunci yang kini bertikai: Abdel Fattah al-Burhan dari Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan Mohammad Hamdan Dagalo (Hemedti) dari Pasukan Pendukung Cepat (RSF). “Keduanya sama-sama menumpahkan darah rakyat Sudan hanya demi melayani kepentingan Amerika dalam memecah belah Sudan, sebagaimana sebelumnya Sudan Selatan dipisahkan,” ungkap pernyataan itu.

Organisasi tersebut juga menegaskan bahwa Amerika menggunakan negara-negara seperti Arab Saudi, UEA, Mesir, dan Turki sebagai “pemain perantara” dalam menjaga kepentingannya di Sudan.

Dalam seruannya kepada rakyat Sudan, Amir Hizbut Tahrir, Syaikh Ata bin Khalil Abu ar-Rasytah, meminta masyarakat untuk tidak membiarkan negara mereka terus dikoyak konflik buatan. “Ambil alih kendali atas dua pihak yang berperang dan arahkan mereka ke jalan yang benar. Dukung Hizbut Tahrir dalam menegakkan Khilafah Rasyidah, karena di sanalah terdapat kemuliaan Islam dan kaum Muslim, serta kehinaan bagi kufur dan orang-orang kafir,” kata Abu ar-Rasytah dalam pernyataannya tertanggal 21 Mei 2025. []

Sumber: Muslimah News & Media Umat

About Author

Categories