
Sudan Bersimbah Darah, Adakah Solusi Selain Khilafah?
MUSTANIR.net – Tiap kali darah kaum Muslimin tumpah—dari Gaza hingga el-Fasher, dunia hanya bisa melihat tanpa solusi nyata. Mereka hanya berdebat tentang “gencatan senjata” dan meja perundingan yang buta akan fakta. Yang sama sekali tidak berguna. Pembantaian terus terjadi, tragedi kemanusiaan tak terhentikan.
Di Sudan hari ini, aroma kematian begitu pekat. El-Fasher kini menjadi lautan mayat. Ribuan nyawa telah terenggut, ratusan keluarga musnah tanpa nama, dan dunia lagi-lagi hanya menatap kosong tak peduli.
Tragis, para pelaku pembantaian adalah sesama anak negeri. Mereka dibentuk, dilatih, dan diarahkan oleh tangan-tangan asing—Amerika di satu sisi, Inggris di sisi lain. Dua kekuatan yang menjadikan negeri-negeri Islam bak papan catur, menggerakkan pion, mengganti kuda, menukar raja, asal kepentingan mereka tetap aman dan terjaga.
Sudan: Negeri yang Dipecah, Diperah, dan Dihancurkan Negara Kafir Penjajah
Hemedti adalah produk dari sistem yang dibina oleh Omar al-Bashir dan al-Burhan—dua sosok yang dulunya dielu-elukan, lalu dibuang begitu saja setelah selesai dimanfaatkan. Inilah wajah kolonialisme modern, mereka tidak lagi datang dengan kapal dan meriam, tapi dengan “agen” yang mereka bentuk dari dalam negeri sendiri.
Amerika menanam pengaruh di militer, Inggris di ranah politik. Dan saat dua agen itu bentrok, darah dan nyawa rakyatlah yang menjadi tumbal kekuasaan mereka. Dulu mereka memisahkan Sudan Selatan, kini mereka ingin menyempurnakan penjajahannya.
Apakah kita masih akan menyebut semua ini sekadar “konflik internal dalam negeri”?
Tidak! Ini genocide—pembantaian yang direkayasa dengan penuh perhitungan politik, agar umat Islam terus sibuk memadamkan api di rumahnya sendiri, sementara penjajah terus melancarkan misinya mengeruk kekayaan, penanamkan kepentingan, dan memainkan politik yang tak berkesudahan.
Solusi yang Telah Dijanjikan Allah
Khilafah bukan sekadar sistem politik, tapi perisai umat. Dengan khilafah, darah kaum Muslim dilindungi, kehormatan dan harta dijaga, serta hukum Allah ditegakkan secara sempurna.
Sebaliknya tanpa khilafah, negeri-negeri Islam hanyalah seperti tubuh tanpa kepala, seperti hidangan yang diperebutkan oleh kaum yang tamak dan rakus, dan tanpa khilafah, umat Islam terus terombang ambing bagaikan buih di lautan.
Mengapa khilafah menjadi satu-satunya solusi?
Karena hanya khilafah yang dapat menyatukan potensi umat. Hanya khilafah yang meletakkan politik di bawah syariat, bukan syariat di bawah politik. Dan hanya khilafah yang memiliki kewajiban dan kekuatan untuk menolong negeri-negeri yang dijajah, bukan dengan “kecaman diplomatik”, tapi dengan kekuatan yang nyata, yakni jihad fi sabilillah.
Bila hari ini Palestina diserang, Sudan dibantai, dan Kashmir dibungkam, serta wilayah kaum Muslim lainnya dijajah dan dihina kehormatannya, itu bukan karena musuh yang terlalu kuat, tapi karena umat Islam yang terpecah belah dan kehilangan perisai (junnah).
Negeri-negeri Muslim punya jutaan tentara, tapi seolah tidak punya satu pun panglima. Kita punya sumber daya melimpah, tapi seakan tidak punya satu pemimpin pun yang mampu menyalurkannya segala potensi itu untuk kemuliaan umat.
Maka, selama umat ini belum menegakkan kembali sistem Islam di tengah kehidupan, jangan heran bila darah kaum Muslimin terus tertumpah, seluruh kekayaannya dijarah, kehormatannya dihinakan, dan pembantaian terus terjadi tak kunjung henti.
Maka, sungguh tidak ada solusi lain untuk darah kaum Muslimin Sudan yang tertumpah selain khilafah. Pun tidak ada solusi untuk Palestina, Rohingya, Kashmir, dan negeri-negeri Muslim lainnya selain tegakkan khilafah.
Adakah solusi selain khilafah?
Jika ada, tolong tunjukkan dan buktikan! Sungguh tidak ada dan tidak akan pernah kalian temukan. Allahu a’lam bishawab. []
Sumber: Abu Miqdad
